EcoStory

Warga Mai Mai Membangun Ketahanan Pangan dari Rumah

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Warga Kampung Mai Mai, Kaimana, Papua Barat menanam sayur di halaman rumah.

Menanam sayur di ladang sudah menjadi tradisi turun-menurun bagi warga Kampung Mai Mai yang terletak di Distrik Kaimana, Papua Barat. Setelah membuka lahan, warga biasanya menanaminya dengan berbagai macam sayuran, baru kemudian ditanami dengan tumbuhan yang berumur lebih panjang seperti singkong, pepaya, pisang, keladi, gedi, atau pala. 

Namun karena letak kebun mereka yang berada jauh dari kampung, masyarakat kesulitan mengoptimalkan lahan. Untuk mencapai kebun, mereka harus menggunakan perahu panjang (long boat) yang membutuhkan bensin sekitar 10-15 liter. Tak jarang tanaman mereka dimakan oleh binatang seperti rusa dan babi. Jika tidak dipagari dengan baik, tanaman mereka rusak sebelum dipanen. Akibatnya, hasil sayur tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Jadi biasanya kalau kami ada keperluan ke Kota Kaimana, kami sekalian membeli sayuran, seperti sawi dan buncis,” kata salah satu mama, Nelci Walun. 

Baca Juga: Warga Sawinggrai: Homestay Sepi, Berkebun Hidup Kembali

Sebagian besar masyarakat Mai Mai adalah pekebun dan nelayan. Mereka menanam pisang, keladi, pala, serta kopra, juga mencari ikan dan teripang di laut. Hasil usaha tersebut mereka jual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk berbelanja sayur-mayur dan membeli bensin di Kota Kaimana. Butuh waktu sekitar 45 menit berperahu dari Mai Mai ke Kota.  

Melihat kondisi tersebut, tim EcoNusa memberikan pelatihan untuk berkebun di halaman rumah. Selama ini pekarangan rumah mereka  tidak dimanfaatkan karena masyarakat tidak tahu cara mengolah jenis tanah berpasir itu. “Berkebun di pekarangan rumah lebih memudahkan dalam merawat tanaman, termasuk untuk mengendalikan hama,” kata Program Associate Pengelolaan Sumber Daya Alam EcoNusa, Arya Ahsani Takwim.  

Tim EcoNusa datang ke Mai Mai pada April 2021. Mereka memberikan pelatihan kepada para mama untuk bertanam sayur organik di pekarangan rumah. Harapannya dengan memanfaatkan pekarangan rumah, masyarakat bisa mencukupi kebutuhan gizi dari rumah sendiri. Sayuran yang mereka konsumsi pun lebih sehat karena tidak menggunakan bahan kimia. Mereka juga tak perlu lagi mengeluarkan uang untuk keperluan konsumsi sayuran. Malah bisa mendapatkan penghasilan tambahan dengan menjual sayuran yang mereka panen. 

Baca Juga: Sagu yang Menghidupi Masyarakat Sekitar Danau Sentani

Tidak semua warga antusias mengikuti pelatihan ini. Beberapa di antara mereka enggan mengikuti karena pengalaman buruk ketika dua tahun lalu mereka mendapatkan pelatihan serupa dari lembaga pemerintah. Tapi menjelang panen, penyelenggara pelatihan tidak memperbolehkan mereka untuk menuai hasil panen tersebut karena menunggu peresmian dari petinggi yang berwenang. “Sampai akhirnya sayurannya rusak karena tidak dipanen,” kata salah satu mama, Since Suparto.

Warga lainnya pun enggan mengikuti pelatihan karena khawatir kegiatan tersebut hanya akan menyita tenaga dan waktu mereka. “Mereka juga curiga akan dimanfaatkan oleh kami,” kata Arya.   

Warga Kampung Mai Mai, Kaimana, Papua Barat membuat media tanam dari pelepah pisang sambil mengobrol.

Tim dari EcoNusa berusaha meyakinkan mereka. Sebanyak 30 mama akhirnya mau mengikuti pelatihan tersebut. Mereka membentuk Kelompok Wanita Tani yang diberi nama Otanggau yang berarti satu hati. Selama 7 hari latihan, mereka belajar cara membudidayakan berbagai sayuran seperti cabe, tomat, pare, sawi, kangkung, kacang panjang, labu, dan bayam. 

Mereka juga dilatih untuk mengolah tanah, membuat media tanam vertikal dan horizontal, cara memilih benih yang sehat, membikin pupuk dan pestisida organik untuk mengendalikan hama serta penyakit tanaman. Semua bahan-bahannya dapat diperoleh dari lingkungan di sekitar. Misalnya untuk membuat pestisida, mereka bisa memanfaatkan bawang putih, cabai, maupun daun pepaya. 

Kelompok Wanita Tani Otanggau terus berkebun di pekarangan sampai saat ini. Dua mama yang semula enggan mengikuti kegiatan akhirnya bergabung setelah melihat pekarangan kawan-kawan mereka hijau oleh sayuran. Mereka menggantikan anggota yang tak aktif.

Baca Juga: Bertani Kopi Menjaga Jati Diri di Tengah Pandemi

Awal Agustus lalu, tim EcoNusa kembali datang ke Kampung Mai Mai untuk melihat perkembangan Kelompok Wanita Tani Otanggau dan mengukur efek ekonomis yang dihasilkan dari berkebun dengan memanfaatkan pekarangan rumah. 

Saat pertemuan tersebut, para mama menceritakan berbagai kendala yang mereka alami. Menurut mereka, banyak tanaman yang tidak tumbuh dengan baik akibat kekurangan unsur hara tanah karena belum semua anggota membuat pupuk organik dan pestisida di rumah masing-masing. Pertumbuhan tanaman juga terganggu karena intensitas curah hujan yang tinggi sehingga membuat daun menjadi layu. Sebagian tanaman juga diserang oleh hama tikus. 

Namun, mereka juga bercerita sudah semakin paham cara membuat media tanam dari serabut kayu yang dijadikan arang. Juga membuat pupuk organik, pestisida, fungisida, dan herbisida organik dari bahan-bahan yang bisa diperoleh di sekitar rumah. Kini, semua anggota Kelompok Wanita Tani Otanggau sudah memanen kangkung dan sawi. “Kami jadi lebih hemat karena tidak perlu membeli sayur,” kata mama Yusfita Farinatae. 

Baca Juga: Mengembalikan Hutan Papua Barat kepada Pemiliknya

Selain untuk keperluan konsumsi rumah tangga, sebagian mama yang mendapatkan hasil lebih banyak juga menjual sayurnya ke Kota Kaimana. Seperti yang dilakukan oleh Nelci Walun yang mendapatkan penghasilan sebesar Rp 200.000 setelah menjual 11 ikat kangkung dan 9 ikat sawi. Penghasilan ini setara dengan nilai 10 kilogram beras. “Uangnya saya gunakan untuk membeli polybag dan waring untuk memperbanyak tanaman di pekarangan. Kalau semakin banyak, nanti panennya juga banyak, hasil jual sayur akan naik terus,” ujar Nelci Walun.

Kelompok Wanita Tani Otanggau juga membagikan ilmu yang mereka dapat dari pelatihan kepada masyarakat lain di Kampung Mai Mai. Mereka memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik cair dari bahan air kelapa atau nira dan pembuatan media tanam dari serbuk kayu.

Melihat perkembangan Kelompok Wanita Tani Otanggau, Kepala Kampung Mai Mai, Obeth Ons, berkomitmen mendukung usaha mereka dengan memberikan bantuan benih bibit dan peralatan lain dengan menggunakan dana desa maupun dana prospek. “Dengan adanya program ini, saya melihat ibu-ibu semakin antusias menanam di rumah. Masyarakat yang lain juga mau melakukan hal yang sama di rumah mereka,” katanya. 


Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved