EcoStory

Seni Instalasi Penyelamat Koral

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Teguh Ostenrik, pencetus dan pembuat berbagai macam instalasi untuk menyelamatkan koral (gambar: beritagar)

Teguh Ostenrik mungkin tak pernah menyangka cintanya kepada Indonesia muncul kembali saat menyelam. Ia sempat mengambil formulir pendaftaran warga negara Jerman setelah tinggal sekitar sebelas tahun di der Panzer. Keputusan Teguh dicegah oleh sahabatnya lewat umpatan dan penyobekan kertas pendaftaran. “Kamu harus bahagia bahwa kamu masih punya tanah air.”

Kala itu, tahun 1984, bersama sahabatnya Teguh berlibur ke Pantai Senggigi, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Paduan keindahan warna koral dan ikan di Pantai Senggigi memberi Teguh inspirasi untuk menciptakan karya. Menggunakan cat akrilik, ada lima lukisan tercipta atas perjumpaannya dengan penghuni Pantai Senggigi. Seri lukisan tersebut diberi nama “Alam Bawah Air“.

Tiga puluh tahun berlalu. Alam berubah, tak lagi semurni apa yang Teguh bayangkan. Meski begitu, keindahan Pantai Senggigi terus membekas di be-nak Teguh hingga ia menjadikan pengalamannya sebagai petuah. Dalam acara TEDxSabang, Teguh bertutur bahwa ia berpesan kepada anak sulungnya, “Kalau kamu mau jatuh cinta kepada Indonesia, menyelamlah.”

Tak ada ikan dan koral, Teguh dan anak sulungnya disambut dengan kenyataan yang berbeda. Pantai Senggigi yang Teguh kenal sebagai gudang lobster dan cumi-cumi telah berganti, tak ubahnya seperti Gurun Sahara.

Pada tahun yang sama, Hotel Quinci Villas Mangsit yang terletak di pinggir Pantai Senggigi, mengadakan pameran residensi, mengundang sejumlah seniman untuk mempercantik dekorasi hotel. Teguh, salah satu seniman yang diundang, punya jalan pikiran tersendiri didasari pengalaman pahitnya saat menyelam. Saat seniman lain menghias interior hotel, Teguh justru ingin meletakkan karyanya di dalam laut.

“Seniman itu bukan dekorator. Saya tidak mau mendekorasi hotel kamu tapi saya ingin berbuat sesuatu bagi Lombok,” ujar Teguh kepada Scott Coffey, pemilik hotel.

Teguh membuat instalasi ARTificial Reef; karya seni yang membantu pertumbuhan koral lebih cepat dibanding pertumbuhan alami. Domus Sepiae, instalasi ARTifical Reef pertama, dicemplungkan 100 meter dari bibir Pantai Senggigi. Domus diambil dari bahasa latin yang berarti “rumah” menjadi pengharapan agar karya instalasi menjadi rumah baru bagi koral dan biota laut.

Melansir Majalah Tempo, Domus Sepiae berukuran 6 x 10 meter. Diperlukan 20 orang pekerja selama 18 jam untuk memindahkan instalasi dengan berat 3,2 ton tersebut dari daratan hingga tenggelam sepenuhnya. Alumnus Fine Art Lette Schule dan Hochschule der Künste, Jerman, itu memotong Domus Sepiae menjadi 16 modul selebar 2 x 2 meter.

ARTificial Reef menggunakan teknologi biorock yang ditemukan Wolf Hibert pada 1974. Melalui besi yang telah dialiri listrik tegangan rendah, biorock mampu mempercepat pertumbuhan koral tiga-lima kali dibandingkan pertumbuhan alami.

Teguh telah membuat enam ARTifical Reef yang tersebar di sejumlah perairan; selain Domus Sepiae di Lombok, ada Domus Longus di Pantai Waha, Wakatobi, Sulawesi Selatan; Domus Musculi, Domus Piramidis Antennarius dan Domus Selaroides di Pulau Sepa, Jakarta utara; Domus Piramidis Dugong di Bangka, Sulawesi Utara.

Karya Teguh menghadirkan seni sebagai bentuk penyelesaian masalah lingkungan. Pemanasan global membuat koral memutih dan berakhir mati. Belum lagi kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas manusia secara langsung seperti aktivitas penangkapan ikan dan wisata bawah air hingga hantaman kapal.

Mengutip Mongabay.co.id, pemutihan koral adalah ancaman yang paling serius. Setidaknya telah terjadi empat kali pemutihan koral yang berakibat fatal. Pada Mei – Juli 1983, pemutihan koral menyebabkan 90 persen kematian koral di perairan Laut Natuna utara, Selat Sunda, Laut Jawa, Bali, dan Lombok. Kematian koral mencapai 80 persen di perairan Sumatera, Laut Natuna Utara, Jawa, Bali, dan Lombok pada November 1997 hingga Februari 1998.

Pemutihan koral ketiga terjadi pada April – Juni 2010 yang berakibat 30 persen tutupan koral mati di perairan utara dan barat Sumatera, Bali, Lombok, dan Wakatobi. Terakhir pada Juni 2016, kematian koral mencapai 30-90 persen di perairan Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, selatan Jawa, barat Sumatera, utara Bali, Lombok, Karimun Jawa, dan Selayar. Ini sungguh mengkhawatirkan mengingat posisi strategis Indonesia yang berada Segitiga Terumbu Karang. Di kawasan ini, Indonesia menyumbang 51 persen koral di Segitiga Terumbu Karang (State of The Ocean Jilid I, 2018).

Sebagai seniman, Teguh menyadari seni dapat berperan lebih besar dibanding sebagai “penghias”. Menurut Teguh, pengakuan alam terhadap karyanya jauh lebih besar dari pada pengakuan orang lain terhadap karyanya melalui galeri, pameran, dan koleksi museum. “Domus Sepiae setelah dua tahun di bawah laut itu sudah seperti hutan di bawah laut. Sotong sudah nginep di situ. Kami temukan ikan barakuda datang ke sana, berarti Domus Sepiae sudah menjadi kantin mereka. Berarti sudah ada makanan banyak sekali.”

Teguh memiliki moto dalam membangun ARTificial Reef. Selain berguna bagi biota laut, Teguh ingin karyanya juga bermanfaat bagi masyarakat sekitar. “Memang moto saya membuat ARTificail Reef ini adalah bagaimana membuat karya seni yang bisa membuka pintu nafkah bagi orang-orang di sekitarnya.”

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved