EcoStory

Selayang Pandang Kopi Paniai

Bagikan Tulisan
Buah kopi paniai di kebun milik Kris Kadepa

Geliat pertanian kopi di Tanah Papua telah berlangsung cukup lama sekitar 1950-an sejak Belanda masih menguasai Irian Jaya. Usai Perang Dunia II, pemerintah Belanda bersama para misionaris menggenjot pembangunan, termasuk pertanian kopi. Hasil produksi kopi pun sempat menjadi minuman pengiring diskusi dinamika Papua antara Ratu Wilhelmina dan delapan pejabat dari Papua.

Puluhan tahun berselang, Tanah Papua menjadi salah satu pulau di Indonesia yang banyak menghasilkan kopi terbaik. Bagi penikmat kopi tentu sudah mafhum dengan kopi asal Kota Wamena dan Kabupaten Dogiyai. Kedua tempat tersebut berhasil menarik perhatian industri kopi berkat cita rasa kopinya yang khas. Selain Wamena dan Dogiyai, daerah penghasil kopi lainnya di Tanah Papua tak bisa dikesampingkan seperti kopi yang dihasilkan dari Kabupaten Paniai.

Petani kopi di Paniai menggunakan bibit yang berasal dari pegunungan Blue Mountains, Jamaica. Termasyur di seluruh dunia, kopi Jamaica Blue Mountains (JBM) menghasilkan cita rasa yang ringan dengan tingkat keasaman yang halus, aroma bunga, dan hampir tak ada rasa pahit dalam setiap tegukan kopi. 

Baca juga: Kopi Robusta di Kampung Ambaidiru

Berkat kontur tanah dan cuaca yang mirip, pemerintah Belanda membawa bibit JBM ke Papua Nugini. Dari sana, para misionaris membawa dan menanam bibit JBM di Moanemani, Kabupaten Dogiyai. Kemudian pertanian kopi menyebar ke wilayah Jayawijaya, Pegunungan Bintang, Mimika, Paniai, dan Deiyai.

Kabupaten Paniai adalah salah satu kabupaten yang terletak di wilayah pegunungan tengah di wilayah landskap Meepago, Provinsi Papua, yang berada di ketinggian 1.700-2.000 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Kabupaten Paniai beribukota di Enarotali. Untuk mencapai Kabupaten Paniai, bisa ditemputh lewat jalur darat dan udara melalui Kabupaten Nabire dengan menempuh jalur darat atau melalui jalaur udara. Jarak Nabire ke Enarotali adalah 268 kilometer melewati Kabupaten Dogiyai dan Deiyai yang juga menjadi jalur distribusi barang dan jasa di wilayah pegunungan tengah.

Menurut Yayasan Pengembangan Kesejahteraan Masyarakat (Yapkema), jumlah petani kopi di Paniai ada 400 orang petani. Petani kopi terbanyak berada di wilayah Dogiyai dengan 1.200 orang petani dan Deiyai memiliki petani paling sedikit, yakni 40 orang petani.

Baca juga: Kebun Kopi Ambaidiru sebagai Kawasan Penyangga Cagar Alam Yapen

Pertanian kopi di Paniai terus berkembang. Untuk menggenjot produksi kopi, Bupati Paniai Meki Nawipa mencanangkan program penanaman satu juta pohon kopi pada Maret 2019. Program ini memberi dorongan moral bagi petani. Bahkan, Meki Nawipa menjanjikan bantuan bulanan sebesar Rp3 juta untuk setiap hektare kebun kopi milik warga. 

“Program pemerintah ini perlu kita dukung sebagai upaya menggerakkan ekonomi masyarakat di Paniai. Dalam 4-5 tahun ke depan, petani kopi yang hari ini menanam kopi akan menuai hasilnya,” kata Hanok Herison Pigai, pegiat kopi dan pelatih utama kopi arabika tingkat nasional.

Gairah pertanian kopi disambut baik oleh masyarakat. Kris Kadepa, petani kopi di Kampung Toyaimoti, Distrik Agadide, Kabupaten Paniai turut aktif mengajak teman serta kerabatnya untuk menanam kopi. Ia membagikan bibit kopi secara gratis bagi siapa saja yang hendak menanam kopi.

Baca juga: Manajemen Koperasi Dukung Pengelolaan Komoditas Teluk Arguni

“Bagi saya kopi adalah penyambung kehidupan. Melalui kopi saya dan keluarga dapat memenuhi kebutuhan untuk masa depan anak dan keluarga,” ucap Kris.

Bagi petani kopi di Paniai, kopi adalah harapan. Mereka menanam kopi dengan hati dan cinta untuk dihidangkan ke dalam secangkir kopi. Melalui kopi mereka merawat alam yang telah menjadi “ibu” untuk setiap generasi yang hidup dan tumbuh di Tanah Papua.

Editor: Lutfy Mairizal Putra & Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2022.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved