EcoStory

Hutan Perempuan, Pelestarian Ekosistem Bakau oleh Perempuan Enggros (Bagian I)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Mama Yos, perempuan Kampung Enggros, mencari bia di Hutan Perempuan. (Yayasan EcoNusa/Moch. Fikri)

Perempuan di Kampung Enggros, Distrik Abepura, Jayapura, Papua, memiliki sejarah panjang dalam melestarikan hutan bakau. Di hutan ini, para perempuan mencari sumber penghidupan seperti kerang, udang, dan ikan. Di sini juga mereka berkumpul dan berbagi keluh kesah. 

Sekitar pukul 15:30 WIT Tim EcoNusa tiba di Pantai Ciberi, Jayapura. Kawasan wisata pantai ini merupakan salah satu pintu gerbang menuju Kampung Enggros, Distrik Abepura, Jayapura, Papua. Mama Yosmincee Hanasbey yang akrab disapa Mama Yos menyambut EcoNusa bersama tiga pemuda kampung yang bertugas mengemudikan speedboat

Semilir angin sore menyambut kedatangan EcoNusa. Dari jauh terlihat rumah-rumah apung dengan latar perbukitan yang cantik. Barisan awan menari-menari di atas langit yang biru. Sepanjang perjalanan, Mama Yos bercerita bahwa dulu Pantai Ciberi merupakan pantai paling indah di kawasan tersebut. Dari sana, terlihat pemandangan Teluk Youtefa dan Samudera Pasifik. Namun kini, pemandangan tersebut tertutup oleh Jembatan Holtekamp yang baru-baru ini diresmikan Presiden Jokowi. Selain itu, pembukaan kawasan wisata pantai baru yang menyajikan live music di sepanjang bibir pantai Hamadi juga membuat Pantai Ciberi kehilangan pengunjung. Hanya para pemancing yang masih setia mengunjungi kawasan wisata pantai ini.

Kurang lebih sepuluh menit dari Pantai Ciberi, speedboat merapat di dermaga Kampung Enggros. EcoNusa singgah sejenak di dermaga untuk berpindah ke perahu sampan. Walaupun terapung di atas teluk, di kampung ini terdapat lapangan, gereja, dan berbagai fasilitas lain selayaknya kampung di daratan. Menurut penuturan Mama Yos, ada lebih dari  100 kepala keluarga yang tinggal di kampungnya. 

Uniknya, di Kampung Enggros, laki-laki dan perempuan memiliki pembagian wilayah sendiri untuk berkumpul dan mencari bahan pangan sehari-hari. Laki-laki berkumpul di para-para (tempat berkumpul) seperti balai kampung dan mencari bahan pangan di laut. Sementara perempuan berkumpul dan mencari bahan pangan di hutan bakau yang sering disebut hutan perempuan.

Tonotwiyat, Tradisi Mengunjungi Hutan Bakau

Sambil mendayung perahu yang pelan-pelan memasuki kerimbunan pohon bakau di hutan perempuan, Mama Yos mengemukakan bahwa tradisi mengunjungi hutan oleh perempuan di kampungnya dikenal dengan sebutan Tonotwiyat. “Tonot artinya itu hutan. Wiyat itu artinya seperti mengajak pergi ke hutan bersama perempuan untuk mencari bia (kerang),” ujar Mama Yos.

Seorang mama tengah mencari bia (kerang) di dalam Hutan Perempuan. (Yayasan EcoNusa/Anggita Ayu Indari)

Tonotwiyat telah dilakukan secara turun temurun sejak dahulu. Mama Yos meneruskan tradisi yang dilakukan oleh ibu dan neneknya. Ia menuturkan bahwa tradisi ini telah ada sebelum ajaran Kristen masuk ke kampung. Jika dilihat dari periode sejarah penginjilan di Papua, tradisi ini mungkin sudah ada sebelum tahun 1850an. 

Tidak ada yang tahu bagaimana tradisi mengunjungi hutan perempuan dimulai. Tetapi sudah sejak lama para perempuan mengunjungi hutan untuk mencari pasokan bahan pangan seperti bia (kerang), udang, kepiting dan ikan. Namun, bia merupakan komoditas yang paling banyak ditemukan di kawasan hutan ini. Menurut Mama Yos, ada 114 jenis bia yang dapat ditemukan di sini, tetapi bia nor menjadi yang paling spesial karena khasiatnya. “Bia nor ini punya manfaat besar sekali. Bisa untuk orang diabetes. Kami biasa masak tanpa banyak bumbu karena rasanya sudah enak. Kami juga suka makan langsung di sini,” imbuhnya sembari mengunyah bia nor yang baru saja didapatkan.

Selain itu, biasanya para perempuan berkumpul mencari sumber pangan sambil berbagi cerita mengenai kehidupan. Masyarakat setempat meyakini bahwa hutan perempuan merupakan para-para (tempat berkumpul) bagi para perempuan yang tidak boleh berkumpul di para-para kampung. 

“Itu khusus untuk perempuan kita punya para-para. Tapi untuk laki-laki, mereka punya para-para di kampung. Kita perempuan tidak punya tempat makanya ke sini. Tempat curhat di sini, cerita masa lalu di sini, masalah rumah tangga dengan suami dan anak. Semua di sini sudah. Orang-orang tua bilang begini, dinding-dinding rumah itu punya telinga. Lantai pun punya telinga,” kelakar Mama Yos.

Laki-laki dilarang memasuki kawasan hutan

Selama mencari bia dan bercengkerama satu sama lain, biasanya para perempuan menanggalkan pakainnya. Tujuannya untuk mempermudah gerak mereka di dalam lumpur bakau. “Kalau tanpa busana, kami jadi mudah bergerak. Kalau kami tidak kasih lepas pakaian, nanti badan rasanya gatal,” ucap Mama Yos.

Oleh karena itu, para laki-laki sudah paham bahwa mereka tidak boleh memasuki area hutan perempuan. Untuk memberi tanda keberadaannya, para perempuan biasanya berbicara dengan suara yang keras. Jika laki-laki masih nekat menerobos masuk, ia akan dikenakan denda. Besaran denda ini pun tergantung pada siapa yang sedang berada di dalam. Jika orang biasa, denda yang dikenakan berkisar satu jutaan rupiah ditambah manik-manik (semacam perhiasaan atau harta berharga). Namun, jika kebetulan yang sedang berada di dalam adalah orang terpandang, nominal denda yang harus dibayarkan dapat melesat hingga 50 juta rupiah beserta manik-manik.

Lanjut membaca Hutan Perempuan, Pelestarian Ekosistem Bakau oleh Perempuan Enggros (Bagian II) di sini.

Editor: Leo Wahyudi & Vironica Arnila Wulandani

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved