EcoStory

Menggali Inovasi Solusi Bisnis Berkelanjutan Sektor Pangan, Pendidikan dan Kesehatan Dari Pengusaha Muda Jawa Barat

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Yayasan EcoNusa bersama mitra menjaring inovasi solutif bagi tantangan di sektor pangan, kesehatan dan pendidikan bersama para pengusaha muda wilayah Jawa Barat melalui diskusi daring “Build Back Better: Menggali Inovasi Bisnis Di Bidang Kesehatan, Pangan, dan Pendidikan”, pada Senin (10/05). Acara ini merupakan rangkaian kegiatan Econovation 2021, sebuah kompetisi inovasi bisnis nasional yang mengundang para entrepreneur untuk dapat berkontribusi dalam menciptakan ekonomi berkelanjutan yang juga mendukung pelestarian ekosistem hutan dan laut.

“Econovation adalah respon terhadap situasi pandemi yang saat ini kita alami dari sisi pendidikan, kesehatan, dan pangan. Kami mengundang inovator muda, pengusaha, dan siapa saja yang punya pikiran cerdas untuk mencari solusi-solusi terbaik, bagaimana kita kedepan bisa bersiap lebih baik dalam konteks pendidikan, kesehatan dan pangan untuk menuangkan ide dalam kontes inovasi ini. Kita butuh inovasi-inovasi yang canggih, baru, dan out of the box, untuk build back better,” ujar CEO Yayasan EcoNusa, Bustar Maitar, pada pembukaan virtual roadshow siang hari ini.

Virtual roadshow ini juga menghadirkan Egi Radityo, Pendiri Lembaga Perguruan Taman Taruna Kebangsaan dan Waketum HIPMI Jabar, Sarita Sutedja, GM Corporate Communication Foodizz, dan dr. Andhika Raspati, SpKO, Sports Medicine Specialist, sebagai narasumber. 

Kewirausahaan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi di Indonesia. Untuk mewujudkan ekonomi berkelanjutan, diperlukan kewirausahaan yang inovatif, adaptif dengan era kenormalan baru, bisa berdampak bagi masyarakat luas namun tetap menjaga kelestarian ekosistem sekitarnya. Digelar kali pertama di tahun 2021, Econovation mendorong kewirausahaan pada tiga sektor yakni sektor ketahanan pangan, sektor solusi edukasi dan sektor kesehatan berbasis komunitas.

Pada sektor kesehatan, seperti yang kita ketahui menjadi salah satu sektor yang berkaitan erat dengan pandemi Covid-19. Kebanyakan masyarakat berpendapat bahwa sektor kesehatan meraup untung yang sangat banyak ditengah pandemi ini. “Banyak orang berpikir bahwa bidang kesehatan profitnya meningkat, padahal tidak semua layanan kesehatan mengalami peningkatan keuntungan, banyak juga yang ambruk. Sekarang ini bisa dikatakan kurang knowledge dan miss informasi, banyak orang menjadi takut untuk divaksin bahkan abai terhadap prokes. Mungkin aku dari segi medis tidak terlalu concern dengan keuntungan, tapi dengan entrepreneur bisa membantu di bidang kesehatan maka distribusi testing bisa lebih dapet, distribusi vaksin lebih merata. Harapannya adalah banyak peluang yang bisa dikerjakan dan tidak hanya bicara benefit serta profit, tapi juga bicara kemaslahatan masyarakat,” ujar dr. Andhika Raspati, SpKO.

Berbicara mengenai sektor pangan, pandemi Covid-19 memberikan dampak signifikan. Menurut Sarita Sutedja, secara umum, terdapat dampak positif dan negatif pada Industri kuliner itu sendiri. Sisi negatifnya, adanya penurunan omset yang menuntut pebisnis kuliner untuk dapat mengatur ulang strategi, mencari database, dan mengelola database untuk menciptakan keterikatan dengan konsumen. Sisi positifnya, pebisnis kuliner yang berbentuk UMKM memiliki kecepatan perkembangan yang jauh lebih besar dari pergerakan korporasi. “Kalo bicara tentang inovasi, intinya itu tidak mungkin idenya jatuh dari langit, sebetulnya semua inovasi itu ada prosesnya. Beberapa langkah sederhana dalam menggali ide untuk inovasi menurut saya adalah yang pertama kita lihat peluang atau kenali masalah yang ada di sekitar kita. Kemudian lakukan riset kecil untuk mendapatkan data, fakta, informasi. Selanjutnya adalah ideation to get some insight, lalu buat business plan, dan action,” ungkapnya.

Tak hanya sektor kesehatan dan pangan saja, sektor pendidikan yang merupakan jalan untuk melahirkan generasi penerus bangsa yang berkualitas pun turut menghadapi tantangan. Terlebih lagi keterbatasan untuk melakukan kontak fisik yang mengharuskan segala bentuk kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara virtual. Egi Radityo menyatakan “Pandemi tentu menjadi challenge bagi saya dan teman-teman dibidang pendidikan karena kita harus melakukan banyak adaptasi dengan pendidikan online. Karena entitas dari negara ini adalah manusia, kualitas dari SDM pun harus diperbaiki,” ujarnya.

Ide dan inovasi yang diikutsertakan pada Econovation ditargetkan untuk dapat menjadi solusi dari tantangan nyata yang dihadapi oleh masyarakat termasuk petani, nelayan dan masyarakat adat. Selain menjadi solusi, ide dan inovasi tersebut dapat di scale-up secara nasional untuk “membangun kembali dengan lebih baik”.


Econovation 2021 memberikan kesempatan kepada anak muda Indonesia yang memiliki inovasi bisnis untuk mengembang usahanya tersebut dengan cara mendaftarkan diri melalui www.econusa.id/econovation sampai tanggal 31 Mei 2021. Lima belas (15) inovasi bisnis yang terpilih akan berkesempatan mengikuti mentoring serta business matching untuk mengembangkan bisnisnya.

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved