EcoStory

Tak Ada Wisata di Arborek, Kasbi pun Jadi

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Masyarakat di Kampung Arborek mengikuti penyuluhan kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19. (Dok. EcoNusa)

Di dermaga ataupun jalan tanah kecil menuju Balai Desa Arborek, Raja Ampat, tak terlihat ada papan informasi Covid-19. Di balai desa yang berada tepat di depan Gereja Eben, tim EcoNusa Covid-19 Response disambut oleh beberapa orang warga dan pemerintah kampung. Tim mengunjungi Arborek untuk melakukan sosialisasi Covid-19 kepada pemilik atau pengelola homestay, pemeriksaan kesehatan, dan pemberian dinding daun nipah kepada anggota asosiasi homestay.

Sebelum pandemi, Kampung Wisata Arborek cukup ramai oleh wisatawan, baik mereka yang hanya singgah ataupun menginap di penginapan-penginapan di pulau. Wisatawan asing yang berlalu-lalang di jalan-jalan kecil Arborek dulu adalah pemandangan lazim.

Ketika tim Econusa Covid-19 Response Raja Ampat berada di Arborek, kampung itu terlihat sepi. Tak banyak aktivitas di sana. Alhasil, tak banyak pula yang datang ketika kegiatan pemeriksaan kesehatan dilakukan. Menurut Dokter Nanda, pasien yang diperiksa tidak sampai 20 orang. Padahal, di desa-desa sebelumnya jumlah pasien bisa mencapai 30 orang. Sampai-sampai tim mesti membatasi jumlah pasien. 

Saat bekerja menganyam kerajinan pun, mama-mama di kampung Arborek tetap disiplin memakai masker. (Dok. EcoNusa)

Namun, di Arborek protokol kesehatan untuk mencegah Covid-19 nampaknya telah benar-benar diterapkan oleh seluruh masyarakat kampung. Meskipun kegiatan pemeriksaan oleh tim kesehatan tampak lengang, masyarakat tetap saja tertib melaksanakan protokol kesehatan. Masyarakat di Arborek benar-benar menjaga jarak.

Read also: Econusa Covid-19 Response Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Ketika melakukan penyuluhan Covid-19 kepada pemilik atau pengelola homestay yang tergabung dalam Perkumpulan Penggerak Usaha dan Penghidupan Masyarakat Asli Raja Ampat (Perjampat), tim juga mendapati bahwa warga sudah cukup sadar mengenai pandemi Covid-19. Mereka bahkan tak segan-segan menolak kunjungan wisatawan, meskipun dulu pernah keluar anjuran dari pemerintah daerah untuk membuka kembali pariwisata Raja Ampat. 

Rasa-rasanya tidak berlebihan untuk menyebut bahwa Arborek sudah sadar tentang Covid-19. Sebelum tim EcoNusa Covid-19 Response Expedition datang untuk menyosialisasikan Covid-19, mereka sudah menjalankan protokol kesehatan secara mandiri dan atas kesadaran sendiri.

Kembali bercocok tanam

Menurut Naftali Mambrako, pemilik homestay Mawar, Covid-19 mengubah kondisi Arborek. Sebelum pandemi, hampir semua kegiatan yang mereka lakukan tak terpisahkan dari wisata. Bahkan, ketersediaan bahan makanan di kampung juga tergantung pada arus keluar-masuk wisatawan ke pulau. Jika hendak menjemput tamu, misalnya, mereka biasanya menyempatkan untuk membeli kebutuhan beras dan sayur di Sorong atau Waisai. Sejak Februari, pariwisata tak lagi bisa menjadi sumber pendapatan utama. Homestay Mawar yang dahulu menjadi sumber pendapatan utama Naftali kini sepi.

“Kalau sudah begini, kami kembali lagi ke aktivitas sebelumnya, melaut dan berkebun,” ujar Naftali sambil menghela napas. 

Mereka berkebun di pulau seberang. Di sana, mereka menanam kasbi, betatas, dan sayuran. Jarak dari Arborek ke pulau seberang cukup jauh. Perlu 20 liter bensin untuk perjalanan pulang-pergi dengan perahu. Karena itu, mereka membuat rumah-rumah sementara untuk ditinggali di sana selama proses bercocok tanam.

“Pulau Arborek kecil dan berpasir, susah untuk menanam,” ungkap Naftali.

Sementara itu, Mama Regina Sauyai, salah seorang warga senior Arborek, merasa ia tak terlalu merasakan dampak Covid-19. Terutama terkait proses distribusi makanan yang tak selancar biasanya.

Su biasa makan kasbi. Kasih ikan saja cukup,” ujarnya. Ia justru merasa kasihan pada anak-anak muda di pulau. Terbiasa menyantap beras dan makanan instan, mereka tentu perlu uang untuk mengisi perut.

Bagi Mama Regina, sebenarnya warga Arborek bisa hidup mandiri.  Selama ini, kehidupan masyarakat Arborek seolah-olah terlalu bergantung pada Sorong dan Waisai. Kenyataannya masyarakat Arborek kembali berkebun dan melaut seperti sekarang.

Editor: Leo Wahyudi & V.Arnila Wulandani

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved