EcoStory

Lima Langkah Sederhana Menggali Ide untuk Inovasi Bisnis

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Menjalankan bisnis bisa jadi gampang-gampang susah. Pengusaha perlu melakukan berbagai inovasi bisnis agar usahanya berkembang. General Manager Corporate Communication Foodizz, Sarita Sutedja, membagikan lima langkah sederhana yang bisa diterapkan dalam menggali ide untuk inovasi bisnis dalam virtual roadshow Econovation 2021, pada 9 Juni 2021, yang videonya bisa dilihat di YouTube EcoNusa TV. 

EcoNusa bersama para mitra menginisiasi Econovation 2021. Acara virtual kali ini menghadirkan General Manager Corporate Communication Foodizz, Sarita Sutedja, Founder DNI Skin Centre dan Aura Dermatology, I Gusti Nyoman Darmaputra, Direktur Perusahaan Daerah (Perusda) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Syariful Hamzah Nauli, sebagai narasumber. Program ini menjadi wadah bagi generasi muda Indonesia untuk mengembangkan inovasi bisnis pada tiga kategori yakni ketahanan pangan, kesehatan berbasis komunitas, dan solusi edukasi. Harapannya kaum muda bisa menjadi solusi terhadap permasalahan yang terjadi akibat pandemi COVID-19.

Menurut Sarita, langkah pertama, adalah melihat peluang atau mengenali masalah yang ada di sekitar kita. Misalnya ketika melihat tempat-tempat kopi yang ramai di Bandung, perilaku ngopi anak-anak muda yang meningkat, kita jadi tertarik untuk terjun ke bisnis kedai kopi. “Pertanyaannya kopi seperti apa yang akan laku?” kata Sarita.

Baca Juga: Pandemi dan Meningkatnya Sampah Plastik

Untuk menjawab pertanyaan ini, langkah kedua yang harus dikerjakan adalah melakukan riset kecil untuk mendapatkan data, fakta, dan informasi seputar kedai kopi di Bandung. Riset mendata siapa saja kompetitor bisnis kita, beserta kelebihan dan kelemahan mereka. Misalnya kelebihannya memiliki banyak colokan listrik dan lokasinya strategis. 


Riset juga mencakup target pasar atau konsumen yang akan disasar, termasuk kebiasaan mereka. Misalnya, media yang mereka konsumsi sehari-hari, seberapa banyak uang yang mereka keluarkan sekali nongkrong. Riset pun meliputi kemampuan internal, kelebihan dan kekurangan kita saat ini.

Setelah memiliki data, langkah ketiga adalah membicarakan ide. Karena menurut Sarita, menggali ide tanpa memiliki data dan fakta biasanya berujung ngawur.  Hasil riset yang didapatkan bisa dibagikan ke teman-teman guna mendapatkan masukan ide tempat kopi yang potensial untuk bersaing. “Misalnya dari semua ide, ada coffee shop bertema women empowerment, mulai dari barista dan pelayannya cewek, kegiatan komunitasnya bertema women empowerment. Tapi konsumennya boleh cowok,” tuturnya.

Jika ide sudah didapat, langkah keempat adalah membuat rencana bisnis. Rencana bisnis ini disusun sedetail mungkin, meliputi rencana keuangan, marketing, operasional, organisasi, sampai rencana pertumbuhannya. Termasuk cara ekspansinya dengan membuka cabang sendiri atau sistem kemitraan. Karena ini akan mengacu terhadap sistem pendanaan dan rencana marketing.

Langkah kelima yakni action. Tahap ini adalah untuk membuktikan bahwa inovasi yang kita lakukan berhasil atau tidak. Tentunya didukung dengan rencana bisnis yang matang. “Jangan sampai setengah-setengah lalu gagal karena rencana bisnisnya tidak rapi, tidak memikirkan minimal 3-5 tahun ke depan,” katanya.

Menggali peluang lain  

Sementara itu, Direktur Perusahaan Daerah (Perusda) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Syariful Hamzah Nauli, mengatakan pandemi membuat pergerakan masyarakat menjadi terbatas. Oleh karenanya pebisnis harus melakukan inovasi yang kreatif agar bisa menjangkau konsumen. “Dari sektor pangan, pendidikan, dan kesehatan, kesehatanlah yang cukup signifikan bertahan karena banyak seperti klinik atau puskesmas mendapat ekstra pasien,” ujarnya.

Perusda Kalbar melakukan riset untuk melakukan inovasi tersebut. Namun, menurut Syahruli, ternyata pangan memiliki peluang yang cukup besar karena Kalimantan Barat berbatasan langsung dengan Malaysia. Perusda Kalbar berharap bisa mengekspor beras ke negeri jiran itu. “Mulai tahun ini kami menyuplai beras. Pasarnya ke ASN (aparatur sipil negara) dulu. Sekarang sudah bisa menjual 50 ton per bulan. Ke depan akan kami kembangkan lagi,” tuturnya.

Baca Juga: Mengawal Pembangunan, Mencegah Bencana Ekologis

Selain bidang pangan, ada banyak peluang kesehatan yang patut dilirik menurut Founder DNI Skin Centre dan Aura Dermatology, I Gusti Nyoman Darmaputra. Namun sebagian orang merasa ragu untuk terjun ke industri tersebut karena bukan lulusan kesehatan. Padahal ada banyak celah di bisnis ini. “Misalnya mulai dengan edukasi kesehatan, buat infografis, buat live Instagram. Karena sekarang orang haus informasi, orang ingin hidup sehat,” katanya.

Orang yang tidak memiliki latar belakang lulusan kesehatan pun bisa masuk ke industri obat. Sampai saat ini 90 persen bahan obat kita diimpor dari luar negeri. Celah ini bisa diambil, misalnya dengan menggunakan kearifan lokal daerah. “Obat tradisional banyak sekali yang bisa dimaksimalkan, misal jamu,” ujarnya.

Pendaftaran Econovation dibuka hingga 31 Mei 2021. Dari ratusan proposal yang sudah masuk, akan dipilih 15 kandidat dengan ide bisnis terbaik. Mereka akan mengikuti mentoring dan business matching bersama calon investor yang akan membantu dalam pengembangan inovasi bisnis. Dengan menginisiasi program Econovation, Yayasan EcoNusa dan para mitra mengajak kaum muda untuk membangun kembali perekonomian Indonesia yang lebih baik dan berkelanjutan!

Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved