EcoStory

Melihat Lingkungan Manokwari Lebih Dekat di Field Trip School of Eco Diplomacy 2019

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Kunjungan lapangan menjadi salah satu agenda dalam School of Eco Diplomacy. Ini diperlukan untuk melihat langsung relasi masyarakat dan alam sekitar

Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa kerusakan lingkungan menjadi masalah utama bagi makhluk hidup saat ini. Kerusakan lingkungan memberikan dampak buruk yang berkesinambungan bagi tumbuh-tumbuhan, binatang, dan juga manusia yang tinggal di bumi. Tentu kesadaran dari diri sendiri merupakan hal yang paling diperlukan agar dapat menjaga dan melindungi bumi yang sudah rentan ini.

Cara membuat seseorang dapat memiliki kesadaran diri salah satunya adalah dengan membawa mereka untuk terjun langsung melihat dan merasakan. Seperti yang peserta School of EcoDiplomacy 2019, Manokwari, lakukan pada hari ke-dua melalui kegiatan field trip. Terdapat dua lokasi yang sudah ditentukan yaitu Taman Wisata Alam Gunung Meja dan Pantai Petrus Kafiar.

Kedua tempat itu memberikan pelajaran bagi para peserta. Dibagi menjadi kelompok hutan dan kelompok laut, mereka membuat sebuah drama pertunjukan dari kegiatan ini dan menyusun rencana aksi apa yang harus dilakukan perihal isu yang mereka dapatkan dari masing-masing lokasi.

Kelompok hutan senang berada di Taman Wisata Alam Gunung Meja karena pohonnya yang rindang dan tinggi, juga suara burung berkicau yang mereka dengar. Namun sayangnya mereka masih melihat banyaknya sampah bertebaran.

“Akan lebih menyenangkan jika trada sampah eh? Wisatawan dan warga lokal harus sma-sama menjaganya. Di depan saja sudah banyak, bagaimana di dalamnya.”

Melihat dan merasakan bagaimana sampah membuat mereka resah, kelompok hutan membuat rencana aksi seperti melakukan sosialisasi jenis-jenis sampah dan dampaknya, memanfaatkan limbah-limbah plastik untuk didaur ulang, pemberdayaan masyarakat, dan yang terakhir menyediakan tempat sampah.

Beralih ke kelompok laut yang menjelajahi Pantai Petrus Kafiar dengan mendapatkan sejarah dari pantai tersebut. Mereka juga menemukan bahwa mata pencaharian masyarakat lokal di sini yaitu menjadi nelayan dan petani, yang hasilnya dikonsumsi sendiri. Pantai yang didirikan oleh dinas pariwisata bekerjasama dengan Universitas Papua dan lainnya ini dulu memiliki banyak penyu, namun karena tangan jahil manusia penyu kini sudah jarang terlihat.

Rencana aksi yang kelompok laut ingin lakukan adalah dengan membuat tempat sampah, membersihkan pantai setiap satu bulan sekali, melakukan 3R (Reduce, Reuse, Recycle), membuat bensin dari sampah plastik yang dapat membantu perekonomian warga, melakukan challenge ajak teman, dan memberikan informasi masyarakat untuk penyuluhan.

“Kami ingin membangun kesadaran masyarakat Manokwari dan tidak lupa untuk mengingatkan ekonomi masyarakat juga. Bahu membahu jaga alam yang Tuhan sudah kasih ke kita. Jangan pernah tanyakan alam yang pernah kita berikan, tapi tanyakan ke kita apa yang sudah alam berikan.”

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved