EcoStory

Abon Wambon, Oleh-oleh Baru dari Boven Digoel

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Para mama yang tergabung dalam Kelompok Abon Wambon sedang mengemas abon yang mereka produksi. (Yayasan EcoNusa/Roberto Yekwam)

Boven Digoel memiliki potensi alam yang melimpah, baik di daratan maupun perairan. Kabupaten yang terletak di Provinsi Papua tersebut mempunyai beberapa sungai berukuran besar dan kecil, serta rawa. Perairan tersebut, antara lain, dimanfaatkan warganya untuk mencari udang galah dan ikan, seperti gabus, kakap, serta mujair.

Melihat potensi tersebut, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) LIII Kabupaten Boven Digoel menginisiasi pembuatan abon sejak Mei 2021. Semula KPHP membina 20 orang mama yang tinggal di sekitar kantor mereka di Tanah Merah. Para mama tersebut berasal dari Suku Wambon, karenanya produknya diberi nama Abon Wambon. “Kami memproduksi abon dari ikan mujair dan gabus,” kata Ketua KPHP Boven Digoel, Ade John Moesieri, Kamis, 25 November 2021.  

Baca Juga: Sekolah Kampung Samb Kai, Membangun Ketahanan Kampung di Merauke

Menurut Ketua Kelompok Abon Wambon, Ida Ngolongga, para mama di Tanah Merah sudah akrab dengan dua jenis ikan tersebut sejak dulu. Mereka biasa memasaknya dengan menggoreng atau dibuat sup. Namun mereka belum pernah terpikir untuk membuat abon. “Ini pengetahuan baru bagi kami, dan setelah dicoba ternyata anak-anak kami suka,” ujarnya. 

Proses produksi abon tersebut mendapat dukungan dari Yayasan EcoNusa. Para mama juga mendapat bimbingan dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boven Digoel, serta Koperasi Cahaya Senta Mata. Dinas Tanaman Pangan memberikan bimbingan untuk memilih ikan yang segar dan bagus untuk dijadikan abon. Mereka juga mengingatkan para mama untuk menjaga kehalalan selama proses produksi. “Hindarkan dari yang tidak halal, misalnya hewan peliharaan,” kata Kepala Seksi Perikanan Budidaya, Hasrina Hamid.  

Baca Juga: Econovation: Inovasi Bisnis yang Mengubah Ketimpangan Menjadi Peluang

Sedangkan Koperasi Cahaya Senta Mata membimbing para mama dalam proses pembersihan ikan, pembuatan bumbu, sampai proses penirisan minyak dengan mesin spinner. “Kalau minyaknya tidak kering, jadi cepat berjamur,” kata Ketua Koperasi Cahaya Senta Mata, Adolfina Kubun. Proses produksi abon tersebut tanpa menggunakan bahan pengawet dan bisa bertahan sampai tiga bulan dalam suhu ruang.  

Proses pemisahan duri ikan, salah satu tahapan yang harus dilakukan dengan teliti untuk menjaga kualitas Abon Wambon. (Yayasan EcoNusa/Roberto Yekwam)

Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian mama memilih mundur dari kelompok tersebut. Sampai akhir November 2021, ada 11 mama yang masih bertahan. “Jiwa kewirausahaan orang Papua agak kurang, ini yang terus kami bina,” kata John. 

Sampai saat ini, kelompok Abon Wambon sudah empat kali memproduksi abon dengan dua varian jenis ikan; gabus dan mujair, dan dua pilihan rasa: pedas dan manis. Abon Wambon sudah mengantongi Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT). KPHP sempat menjual abon tersebut di perhelatan PON XX yang diselenggarakan di Papua pada 2-15 Oktober 2021.  

Para mama berkeinginan untuk terus melanjutkan usaha mereka.  Mereka berharap pemerintah bisa memberikan bantuan untuk membangun rumah produksi dan alat-alat produksi. “Karena produksinya masih menumpang di kantor KPHP,” ujar Ida.  

Baca Juga: Warga Mai Mai Membangun Ketahanan Pangan dari Rumah

KPHP pun berencana mengembangkan inisiasi mereka. Tahun depan mereka berniat membuat pil ikan gabus. Kandungan protein dalam ikan gabus disebut lebih tinggi dibandingkan ikan tawar lainnya. Ikan tersebut juga mengandung albumin yang berkhasiat mempercepat penyembuhan luka dan menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. “Baik untuk pengobatan pasca operasi,” kata John. 

Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved