EcoStory

Bupati Kaimana: Menjaga Lingkungan Saja Tidak Cukup

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Bupati Kaimana Matias Mairuma menjadi salah satu narasumber dalam Outlook EcoNusa 2020. Ia menyatakan, selain menjaga lingkungan, peningkatan ekonomi masyarakat juga perlu didukung agar masyarakat sejahtera (Yayasan EcoNusa/Moch Fikri)

Kaimana terletak di bagian leher burung Pulau Papua. Kekayaan alam di Kabupaten Kaimana, Papua Barat, ini tak kalah dengan Raja Ampat yang sudah melegenda. Masyarakat Kaimana sebagian besar tinggal di wilayah pesisir. Kaimana memiliki banyak pantai yang masih alami yang cocok sebagai destinasi wisata. Salah satu kebanggaan Kaimana adalah Teluk Triton. Keindahannya bisa disejajarkan dengan pesona Raja Ampat. Teluk Triton memiliki gugusan pulau karang dan pepohonan yang masih lebat.

“Kami memiliki sumber daya alam yang luar biasa. Bagi masyarakat di Kaimana, laut adalah ibu mereka yang memberikan susu dan madu. Jadi masyarakat lokal paham akan pentingnya menjaga lingkungan mereka,” kata Matias Mairuma, Bupati Kabupaten Kaimana dalam acara Outlook EcoNusa 2020 di Jakarta pada 28 Januari 2020.

Acara Outlook EcoNusa 2020 ini dihadiri lebih dari 150 orang yang terdiri dari pejabat, akademisi, media, blogger, mitra serta komunitas. Hadir pula peneliti Universitas Jayapura, Jimmy Wanma, Dewan Pembina Yayasan EcoNusa, Felia Salim. Acara dimoderatori oleh Yuli Fonataba, Putri Indonesia Papua 2018 dan News Anchor Liputan6.

Namun keindahan, keaslian dan segala potensi sumber daya alam serta kearifan lokal masyarakat Kaimana akan hilang di tengah ancaman investasi yang mengatasnamakan pembangunan di wilayah Papua. Kaimana luasnya sekitar 16.242 kilometer persegi. Populasinya kurang lebih 68.000 orang.  

“Lebih baik mempersiapkan masyarakat sebelum memajukan seluruh potensi Kaimana,” kata Bupati Matias menambahkan pentingnya pengembangan masyarakat lokal.

Meskipun sebagai pejabat pemerintah, kepeduliannya terhadap lingkungan memaksa dirinya untuk mengkritisi kebijakan pembangunan saat ini yang hanya bagus di atas meja. Namun di sisi lain masih mengabaikan partisipasi masyarakat. Akibatnya kebijakan pembangunan pemerintah sering kali tidak dapat terimplementasi dengan baik di lapangan.

Menurut Matias, semua masyarakat di Kaimana dan Tanah Papua ingin maju. Tapi mereka memerlukan akses jalan untuk bisa membawa hasil produksi lokal agar sampai ke pasar. Soal akses ini menjadi kendala yang harus segera dicari solusinya di Kaimana.

Selain soal aksesibilitas, persoalan lain adalah disparitas, atau perbedaan harga produk lokal dari petani lokal dan harga ketika sampai ke rantai industri. Ia mengambil contoh potensi kepiting (atau karaka dalam bahasa lokal). “Dari orang lokal seekor karaka dihargai Rp2.000 per ekor. Sampai di kota, orang makan karaka harus membayar Rp100.000. Selisih harga yang melambung dari orang lokal dan yang menikmati orang lain. Ini menjadi keprihatinan saya,” ungkap Matias.

Masyarakat Kaimana memanfaatkan kekayaan mangrove untuk diambil karaka atau ikannya sebagai mata pencaharian mereka. Masyarakat sadar untuk menjaga mangrove dan hutan agar mereka tetap hidup. “Tetapi pentingnya lingkungan dan menjaga lingkungan saja tidak cukup. Ada potensi ekonomi yang penting untuk diberikan kepada masyarakat secara berkelanjutan,” kata Matias sambil menekankan pentingnya aksesibilitas dan disparitas harga produk lokal.

Kaimana merupakan salah satu dari sembilan Kabupaten/Kota di Papua Barat di mana EcoNusa bekerja kolaborasi bersama semua pemangku kepentingan untuk membangun Tanah Papua. Kaimana memiliki potensi mangrove yang luar biasa di sepanjang pesisir.

“Suatu hari mangrove akan habis. Tapi dalam kewenangan saya sebagai bupati, saya katakan tidak. Kita harus menjaga semua itu,” tegas Matias menggarisbawahi pentingnya pemahaman masyarakat untuk menjaga mangrove sambil meningkatkan ekonomiannya tanpa harus merusaknya.

Terkait hal itu, Bustar Maitar, CEO dan pendiri EcoNusa, mengatakan bahwa masyarakat adat sudah sadar bahwa alam adalah masa depan mereka. “Masyarakat tidak perlu diyakinkan lagi tentang hal ini. Justru tugas kita bersama adalah meyakinkan orang-orang di kota di luar Tanah Papua agar tidak rakus memakan kekayaan alam Tanah Papua. Ini yang penting untuk kita lakukan sekarang,” katanya.

Editor: Lutfy Mairizal Putra

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved