EcoStory

Econovation: Inovasi Bisnis yang Mengubah Ketimpangan Menjadi Peluang

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Penjemuran sisik ikan untuk diolah menjadi minuman berkolagen. (Yayasan EcoNusa/Siti Nur Seha).

Melihat banyaknya limbah sisik ikan yang sampai di tempat pembuangan akhir (TPA) di Probolinggo, Jawa Timur, membuat Siti Nur Seha resah. Ada enam pabrik perikanan di daerah tempat dia dibesarkan itu dengan 1 ton ikan filet yang diolah per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 persen adalah limbah sisik ikan. Dengan demikian, 200 kilogram limbah sisik ikan turut berkontribusi terhadap 65 ton sampah yang masuk ke TPA setiap harinya.

Siti membawa fakta tersebut kembali ke almamaternya di Universitas Airlangga dan memaparkannya sebagai latar belakang penelitian akhir pada 2017. Saat itu, Siti merupakan mahasiswa S-1 Jurusan Fisika, Konsentrasi Fisika Material. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa sisik ikan dapat dimanfaatkan kembali karena mengandung kolagen dan kalsium. “Saya mulai riset. Ada begitu banyak potensi yang belum terolah tiap harinya,” kata Siti saat dihubungi EcoNusa.

Kolagen adalah protein berserat yang menjadi fondasi utama dari tulang, kulit, urat, dan jaringan ikat. Kolagen juga ditemukan di pembuluh darah, kornea mata, dan gigi. Fungsinya amatlah penting. Selain menjadi perekat keseluruhan tubuh, kolagen juga bertugas memulihkan jaringan tubuh yang terluka, memperkuat tulang, dan melenturkan jaringan tendon dan kulit. 

Dalam industri kecantikan, kolagen telah lama menjadi “primadona” agar konsumen dapat terlihat awet muda. Menurut Siti, saat itu permintaan minuman kesehatan yang mengandung kolagen sangat tinggi. Sayangnya, bahan baku dan produk jadi masih didatangkan dari luar negeri seperti Jepang, Australia, dan Thailand. “Saya terpikir untuk buat minuman berkolagen. Dibanding makanan, minuman kolagen lebih mudah diterima pasar,” kata Siti.

Baca juga: Econovation Beri Penghargaan kepada 15 Inovator Bisnis Berkelanjutan

Minuman kolagen produksi Siti tak berfokus pada aspek kecantikan melainkan pada kesehatan. Shaany Collagen Drink, merek dagang milik Siti, berfungsi untuk mengobati osteoarthritis, radang sendi yang paling sering terjadi. Masyarakat awam kerap menyebutnya dengan pengapuran sendi. Penyebabnya adalah kerusakan tulang rawan yang menyebabkan rasa nyeri dan kaku pada persendian. 

Berbagai tes pun dilakukan di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) dan Nano Center Indonesia hingga pada 2019 Shaany Collagen Drink dinyatakan layak konsumsi secara pengujian laboratorium. Dalam tiap kemasan Shaany Collagen Drink terdapat 5 gram kandungan kolagen. Sementara produk minuman kolagen lain menggunakan perasa, pewarna sintetik, dan pengawet, Siti menggunakan ekstrak buah untuk mendapatkan fungsi optimal kolagen. 

Menurut Siti, berdasarkan literatur dan penelitian yang dia lakukan, perbaikan sendi dapat dirasakan dalam rentang 4 pekan bagi pengidap osteoarthritis berusia 40 tahun atau lebih uzur. Efeknya akan lebih cepat bagi usia muda. Untuk merasakan kesembuhan, rata-rata pengidap osteoarthritis memerlukan waktu 20 hingga 24 pekan. “Kami fokus pada kesehatan. Manfaat kecantikan ada tapi hanya sebagai bonus,” ucap Siti.

Untuk mengurangi limbah sisik ikan dan keberlanjutan bahan baku, Shaany Collagen Drink mendapat suplai sisik ikan dari pabrik perikanan yang mayoritas mengolah ikan kakap. Dia juga menerima pasokan sisik ikan yang datang dari nelayan. Dalam proses produksi, Siti memberdayakan tujuh orang ibu rumah tangga di Desa Bimo, Kecamatan Pakuniran, Probolinggo, dengan tugas membersihkan sisik, merendam, pengeringan, hingga menjadi kolagen. Sedangkan dalam manajerial, dia dibantu tiga orang yang baru lulus perguruan tinggi. 

Shaany Collagen Drink adalah salah satu dari tiga peserta terbaik yang terpilih dalam kompetisi Econovation yang diinisiasi oleh Yayasan EcoNusa yang bermitra dengan RM Inkubasi sebagai pelaksana teknis. Kompetisi tersebut memberikan penghargaan kepada tiga inovator bisnis terbaik yang berpotensi membantu memulihkan ekonomi Indonesia pada masa pandemi. Ada tiga kategori yang dilombakan yakni ketahanan pangan, solusi pendidikan, dan kesehatan berbasis komunitas. Dua peserta terbaik lainnya adalah  Edubox dan Yant Sorghum. Mereka berhak menerima modal alat dukungan usaha sebesar Rp50 juta, tabungan giro, trofi penghargaan, website profesional, serta inkubasi bisnis.

Baca juga: Mendongkrak Produktivitas Pala di Kaimana

“Kami ingin mendapatkan sertifikasi BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) dan halal (sertifikasi Majelis Ulama Indonesia). Keduanya untuk tambah trust ke customer. Permintaan sudah datang dari Jakarta, Bandung, Jawa Tengah, Kalimantan, Sulawesi,” papar Siti.

Kesenjangan realitas yang tak berjalan dengan semestinya juga memicu ide kreatif bagi Nur Rahmi Yanti, pemilik merek dagang Yant Sorghum. Yanti membawa pangan alternatif sorgum di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, ke tingkat yang lebih tinggi agar tak sekedar berakhir menjadi pakan ternak. 

Yanti mengenal sorgum di salah satu pameran pangan lokal usai menyelesaikan studi di Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram. Saat itu, jagung dan singkong adalah dua komoditas unggulan, sedangkan sorgum hanya diposisikan sebagai bahan penghias stan pameran. “Setiap pameran sorgum selalu ada. Ketika bertemu petani, sorgum dipakai untuk pakan ayam dan sapi. Petani juga makan sorgum yang dicampur dengan garam dan kelapa,” kata Yanti.

Penelusuran literatur membuat Yanti menarik kesimpulan bahwa sorgum jauh lebih bermanfaat. Tanaman yang berasal dari Afrika ini memiliki kandungan serat lebih tinggi dibanding nasi. Ini membuat sorgum sulit terurai saat dicerna sehingga tak mudah diubah menjadi glukosa. Dengan kata lain, sorgum aman dikonsumsi bagi pengidap diabetes dan membantu mengontrol kadar gula darah.

Sorgum tak mengandung gluten sehingga dapat menjadi sumber karbohidrat yang baik bagi pengidap penyakit celiac. Penyakit yang menyerang sistem pencernaan ini akan membuat sistem imun salah menafsirkan gluten sebagai ancaman. Dalam jangka panjang, penyakit celiac akan merusak lapisan usus dan mengganggu penyerapan nutrisi penting bagi tubuh. 

Baca juga: Mengelola Sumber Penghidupan Masyarakat Kaimana, Papua Barat

Yant Sorghum, merek dagang milik Yanti, tak hanya mengolah biji sorgum, namun juga batang dan akar tanaman tersebut. Biji sorgum dapat diolah menjadi beras, tepung, kukis, mi, keripik, tempe, susu dan keju. Batang sorgum diolah menjadi gula dan akarnya dirangkai menjadi aksesoris hiasan meja dan tempat tisu.

Yanti memulai bisnis Yant Sorghum bersama sepuluh orang petani. Dia menerapkan sistem korporasi. Yant Sorghum memberikan benih kepada petani dan sarana produksi (saprodi) seperti pupuk dan obat pengendali hama secara gratis. Yant Sorghum juga membayar biaya tenaga kerja untuk pengolahan tanah dan pemeliharaan. Setelah panen, para petani menjual hasil produksi mereka kepada Yant Sorghum. 

“Analisa usaha per hektare sekitar Rp2,5-3 juta. Itu dari benih, saprodi, dan tenaga kerja. Hasilnya dijual ke kami. Petani bisa dapat Rp25 juta per hektare sekali panen. Dalam satu tahun bisa 3-4 kali panen,” ucap Yanti.

Kini, sudah ada 500 petani di 25 desa di NTB yang tergabung dalam Yant Sorghum. Tiap desa memiliki spesialisasi produksi dan standar operasional prosedur yang berbeda. Yanti berharap alokasi konsumsi pangan lokal semakin berkembang di Indonesia. Dia ingin semakin banyak orang yang mengonsumsi sorgum dan pangan alternatif lain.

Editor: Leo Wahyudi & Nur Alfiyah

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved