Kewang Muda Maluku 2022: Dorong Anak Muda Jadi Diplomat Lingkungan

Bagikan tulisan ini

Kewang Muda Maluku kembali hadir di tahun 2022 ini! Yap, setelah sukses dengan penyelenggaraannya di tahun 2021, kali ini Kewang Muda Maluku dilaksanakan di Kampung Laga, Pulau Gunung Api, Kepulauan Banda pada tanggal 27-29 Juni 2022. Program ini dilaksanakan oleh Moluccas Coastal Center dan Yayasan Econusa, dan merupakan bagian dari Kemah Pemuda yang juga dilaksanakan di berbagai daerah lainnya di Indonesia. Program Kemah Pemuda mengutamakan pendekatan diplomasi lingkungan yang menegosiasikan kepentingan berbagai pihak dengan menekankan pentingnya penyelamatan ekologi. 

Khususnya di Maluku, Kewang Muda Maluku juga bertujuan mengajak anak-anak muda untuk melanjutkan semangat seorang kewang dalam melestarikan lingkungan. Bagi yang belum tahu, kewang adalah penjaga lingkungan yang dimiliki oleh masyarakat adat Maluku sejak zaman dahulu. Kalau mau tahu lebih banyak tentang kewang, kamu bisa baca di sini, ya!

Setelah dilakukan proses seleksi, maka terpilihlah 20 anak muda dari berbagai daerah di Maluku, seperti Kota Ambon, Kepulauan Banda, Maluku Barat Daya, Tual, dan Dobo. Selama 3 hari kegiatan, ada banyak kegiatan yang para peserta jalani, seperti mendapat banyak pelajaran baru mengenai lingkungan dari para fasilitator, melakukan observasi lapangan,  berkeliling Pulau Banda, hingga membuat rencana aksi bagi lingkungan yang akan dilakukan. 

Serap Banyak Ilmu Baru

Salah satu pemateri dalam kegiatan ini adalah Opa Eliza Kissya dari Negeri Haruku, yang adalah seorang kewang di Maluku. Opa Eli menjelaskan tentang asal usul kewang yang berasal dari sebutan para leluhur tentang hutan atau ewang. Selain itu, ia pun menjelaskan pentingnya peran pemuda adat dalam pelestarian kebudayaan dan sumber daya kelautan dengan kearifan lokal. Opa Eli terharu saat menyambut para peserta Kewang Muda dan memberikan semangat agar para Kewang Muda ini dapat meneruskan perjuangannya dalam menjaga lingkungan.

Selain Opa Eli, materi yang disampaikan oleh para narasumber lainnya juga tidak kalah menarik dan penting. Dosen Universitas Pattimura, Dr. James Abrahamsz, S.Pi, M.Si memberikan kesadaran kritis bagi para peserta bahwa lingkungan mereka mungkin saja sedang dalam krisis dan tidak mereka sadari karena kurang peka dengan sekitar. Lalu, Mikha Ganobal, aktivis yang dikenal dengan tagar Save Aru menceritakan pengalamannya membangun kampanye penyelamatan hutan-hutan Aru dari genggaman para korporasi besar. 

Selanjutnya, Georgie Manuhuwa, seorang aktivis kebersihan lingkungan dari Ambon membagikan pengalamannya dalam membuat ecobrick dan mendaur ulang kertas. Tak ketinggalan, Nugie Lukas dari Yayasan Econusa, tutur membekali dasar-dasar ilmu komunikasi bagi para peserta. Penting banget nih bagi para diplomat lingkungan untuk mampu mengkomunikasikan pesan menjaga lingkungan ke banyak orang secara efektif!

Waktunya Melakukan Aksi!

Setelah menyerap banyak ilmu baru, para peserta pun mulai menyusun rencana aksi bagi lingkungan yang akan mereka laksanakan di tempat tinggal masing-masing. Aksi yang direncanakan tidak harus besar, karena sesuatu yang dimulai dari kecil pun bisa berdampak jika dilakukan secara konsisten. Harapannya, para Kewang Muda ini dapat menjadi diplomat lingkungan yang terus aktif mengajak orang lain untuk menjaga bumi.

Berita lainnya

Copyright ©2022.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved