EcoStory

Deklarasi Manokwari Dasar Pekerjaan Konservasi di Tanah Papua

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Sekretaris Daerah Papua Barat Nataniel D. Mandacan menandatangani Deklarasi Manokwari pada penutupan Konferesi Internasional Keanekaragaman Hayati, Ekowista, dan Ekonomi Kreatif (ICBE ) 2018. Deklarasi Manokwari berisi 11 poin tentang pembangunan berkelanjutan berbasis wilayah adat di Tanah Papua. Selain Provinsi Papua dan Papua Barat, Deklrasi Manokwari juga ditandatangai oleh perwakilan pemerintah pusat dan mitra pembangunan.

Gelaran Konferensi Internasional Keanekaragaman Hayati, Ekowisata dan Ekonomi Kreatif (ICBE) 2018 resmi ditutup dengan membacakan Deklarasi manokwari yang disepakati oleh Provinsi Papua dan Papua Barat. Deklarasi tersebut merupakan tindak lanjut Nota Kesepahaman yang sebelumnya ditandatangani oleh kedua Provinsi pada saat pembukaan ajang tersebut, Minggu (7 Oktober 2018) lalu.

Deklarasi Manokwari memiliki visi bersama Tanah Papua yaitu ‘Tanah Papua Damai, Berkelanjutan, Lestari dan Bermartabat. Dari visi itu dispesifikan menjadi 14 poin yang merupakan hasil konferensi ICBE 2018.

Gubernur Papua Barat Drs Dominggus Mandacan yang menutup ICBE 2018 menyatakan Konferensi ini akan menjadi sebuah awal dari pekerjaan yang besar di Tanah Papua.

“Seperti penyelesaian Perdasus (Peraturan Daerah Khusus) pembangunan berkelanjutan di Provinsi Papua Barat dan Perdasus pengakuan Hak Masyarakat Hukum Adat, penyelesaian revisi RTRW (Rancangan Tata Ruang dan Wilayah), penyelesaian revisi proses pemberian perizinan konversi lahan, dan kalau dianggap perlu menyusun Perdasus untuk pengaturan pemberian izin konversi lahan yang melibatkan masyarakat pemilik lahan,” terang dia.

Dirinya menyebut Deklarasi Manokwari merupakan dasar dan arahan utama dalam kegiatan pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua. Untuk itu dirinya meminta semua yang terlibat di dalam Konferensi ICBE untuk bekerjasama dalam pengimplementasian deklarasi.

“Kalau kita bekerjasama dengan baik, maka kita bisa kerjakan pekerjaan sesulit apapun,” ucap Dominggus memberi semangat.

Salah satu poin dalam kesimpulan tersebut ialah membentuk Museum Sejarah Alam dan Kebun Raya di Tanah Papua demi menunjang upaya konservasi dan penampungan koleksi, penelitian dan peningkatan pemahaman dan apresiasi tentang keanekaragaman hayati dan alam dan budaya Papua. hal itu secara khusus termaktub dalam poin keenam dalam deklarasi tersebut.

Pembangunan Museum itu juga didorong dalam sesi yang berlangsung di hari terakhir ICBE 2018, Pendirian bangunan edukasi tersebut diyakini dapat menjadi salah satu instrumen pendukung niatan Pembangunan Berkelanjutan yang dikumandangkan kedua Provinsi.

Ketua 2 Tim Kerja ICBE 2018 Keliopas Krey menyatakan Museum dapat menjadi bank data dan sarana edukasi terhadap hasil penelitian di Tanah Papua. Sehingga tiap kebijakan dapat mengacu pada kajian-kajian ilmiah yang ada.

“Sehingga data-data yang selama ini sulit diakses dan tersebar di mana-mana itu bisa dihimpun di museum ini. Sehingga semua siswa dari TK sampai Perguruan Tinggi mereka bisa datang untuk akses informasi data-data koleksi spesimen dan budaya kita di museum ini,” ucap dia.

Dirinya menyebut adanya museum juga dapat memperkuat budaya meneliti di Tanah Papua. Dengan demikian, kekayaan Tanah Papua yang masih minim eksplorasi sebelumnya dapat terkuak dan dijadikan dalam satu wadah. Pembangunan museum juga penting, pasalnya, Papua sendiri mengandung 50 persen keanekaragaman hayati di Indonesia.

“Tapi kami harap ada juga regulasi yang akan mengatur pendanaan penelitian di Papua ini. Karena urusan penelitian ini kerap kesulitan dana juga,” terang Keliopas.

Kepala Bidang Zoologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Hari Sutrisno dalam salah satu sesi mendorong diwujudkannya pembangunan museum di tanah Papua. Menurutnya, Penelitian-penelitian yang cukup banyak di tanah Papua dari kalangan akademisi lokal hingga peneliti asing dapat diakomodir di satu tempat.

“Penelitian di tanah Papua ini banyak dan bisa dijadikan ke dalam satu koleksi museum. kita harapkan nanti mereka jadi satelitnya yang di Bogor, jadi mereka merupakan satu dengan kami tapi mereka adalah satelitnya,” ucap Hari.

Dirinya menyarankan agar Museum juga dibarengi dengan pembangunan Kebun Raya seperti yang terkandung dalam deklarasi. Hal itu demi mengincar banyaknya pengunjung.

“Itu yang terjadi di Bogor, semua pengunjung museum pasti juga adalah pengunjung Kebun Raya, jadi mereka dapat dua benefit ketika datang berkunjung,” tukas dia.

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved