Mengenal Kewang: Penjaga Lingkungan Adat Asal Maluku

Bagikan tulisan ini

Saat ini, kerusakan lingkungan semakin banyak terjadi di berbagai tempat di bumi ini, tak terkecuali di Maluku. Mulai dari hutan yang semakin banyak ditebangi hingga menyebabkan banjir dan longsor, air laut yang semakin tercemar karena sampah dan menyebabkan terganggunya ekosistem laut, dan masih banyak contoh lainnya. Semua hal ini terjadi tak lepas dari ulah manusia. 

Dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan, kita sebetulnya bisa belajar banyak dari apa yang selama ini telah dilakukan oleh masyarakat adat. Sejak zaman dahulu, masyarakat adat di berbagai daerah telah memiliki beragam tradisi untuk menjaga alam atau melestarikan lingkungan. Bahkan, sejumlah riset juga menunjukkan bahwa masyarakat ada adalah konservasionis lingkungan terbaik untuk menjaga kelestarian bumi. 

Kewang: Pahlawan Lingkungan Asal Maluku

Di Maluku sendiri, terdapat sekitar 176 komunitas adat. Salah satu keistimewaan para komunitas adat ini adalah mereka mengenal adat sasi, yaitu larangan untuk mengambil hasil alam sebelum waktu yang ditentukan. Adat yang telah dilakukan turun temurun ini bertujuan untuk menjaga agar sumber daya alam yang ada tidak diambil secara berlebihan dan tetap lestari. Pada praktiknya, adat ini sangat bagus untuk terus dijalankan, terutama pada saat ini ketika semakin banyak kerusakan alam yang terjadi.

Untuk memastikan sasi terus berjalan, masyarakat adat di Maluku memiliki lembaga khusus yang dikenal dengan nama Lembaga Kewang. Instrumen hukum masyarakat adat ini memiliki tugas untuk menjaga kelestarian wilayah adat mereka atau yang biasa dikenal dengan hak ulayat (wilayah petuanan).  

Bisa dibilang, kewang identik dengan polisi hutan dan laut. Mereka mengawasi ketertiban masyarakat dalam mengelola lahan, mengawasi penggunaan atas tanah hutan yang baru dibuka, memberikan edukasi kepada masyarakat, hingga aktif berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat tentang batas-batas penggunaan tanah. Menariknya, dalam menjalankan tugasnya mereka tidak digaji dan menganggap apa yang dikerjakan merupakan panggilan hati!

Para kewang ini melakukan tugasnya di bawah pimpinan seorang Latu Kewano yang dalam bahasa daerah Maluku berarti Kepala Kewang. Latu Kewano dipilih berdasarkan garis keturunan tertentu secara turun temurun. Selain menjalankan tugas sehari-hari yaitu mengawasi hutan dan laut yang berada di wilayah adatnya, Latu Kewano juga bertugas mengurus keuangan yang didapat dari hasil denda pelanggaran sasi.

Meneruskan Semangat Kewang untuk Melestarikan Lingkungan

Semangat kewang dalam melestarikan lingkungan tanpa pamrih tentunya perlu dicontoh oleh masyarakat luas, terutama anak muda sebagai generasi penerus. Jika alam menjadi rusak, manusialah yang akan merasakan kerugiannya sendiri, mulai dari bertambah panasnya suhu di bumi hingga semakin banyak bencana alam yang akan terjadi. 

Kita semua bisa mengambil peran masing-masing untuk menjaga alam, dimulai dengan kesadaran diri sendiri. Lalu, kita dapat melanjutkannya dengan menjadi seorang diplomat lingkungan yang aktif mengajak orang-orang di sekitar untuk lebih peduli menjaga kelestarian lingkungan. 

Menyadari pentingnya hal ini, Yayasan EcoNusa bersama Moluccas Coastal Care akan kembali mengadakan program School of Eco Diplomacy Kewang Muda Maluku di Pulau Banda pada 27-29 Mei 2022. Selama 3 hari program, para anak muda yang terpilih akan dibekali serangkaian pelatihan tentang isu lingkungan dan hard skills serta soft skills yang dibutuhkan seorang diplomat lingkungan. 

Nah, bagi teman-teman yang berusia 20-30 tahun dan berdomisili di Maluku, jangan lupa untuk mendaftar di link ini paling lambat tanggal 22 Mei 2022 pukul 23.59 WITA!

Berita lainnya

Copyright ©2022.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved