Defending Paradise

Tarian Spektakuler Cenderawasih untuk Memikat Pasangan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Cenderawasih Vogelkop Endemik Pegunungan Arfak
Cenderawasih Vogelkop atau Vogelkop Lophorina. Cenderawasih endemik dari pegunungan Arfak.

Cenderawasih tak hanya dikenal karena warna bulunya yang eksotis dan nyanyian yang merdu, namun juga karena memiliki perilaku display (perilaku memikat lawan jenis) yang memukau. Perilaku khas ini menjadi bagian dari ritual perkawinan burung yang dijuluki burung surga atau birds-of-paradise. Perilaku tersebut berupa tarian dan atraksi spektakuler dengan menampilkan bulu-bulu indah cenderawasih untuk memikat pasangannya. Menariknya, hanya cenderawasih jantan yang melakukan perilaku display.

Burung cenderawasih menarik para peneliti dan ahli 

Keindahan dan keunikan cenderawasih ini pun menarik para peneliti dan ahli untuk menggali lebih dalam. Tahun 2004, Tim Laman, seorang fotografer dan videografer alam liar bersama Ed Scholes, ahli burung (ornithologist) Cornell Lab of Ornithology,  berkolaborasi untuk meneliti cenderawasih melalui 18 ekspedisi di Tanah Papua, Kepulauan Maluku, Papua Nugini, dan Australia. Selama 8 tahun, keduanya mempelajari dan mendokumentasikan puluhan ribu foto dan video dari 39 spesies cenderawasih. 

Ed Scholes dan Tim Laman dalam Birds-of-paradise Project. Dok. Cornell Lab of Ornithology

Kepada EcoNusa, Ed Scholes mengatakan salah satu keistimewaan Tanah Papua dan Kepulauan Maluku adalah karena berbagai jenis burung tinggal di sana. “Papua betul-betul merupakan pulau burung. Begitu banyak jenis burung dan spesies unik lainnya yang tidak bisa ditemukan di wilayah manapun,” ujarnya. 

Scholes juga menuturkan bahwa kedua wilayah ini memiliki hutan hujan tropis luar biasa yang mendukung keanekaragaman hayatinya yang amat kaya. “Sebagian besar dari keanekaragam hayati di kedua tempat ini tidak ditemukan di bagian manapun di muka bumi, tidak juga di wilayah lain di Indonesia. Kedua tempat ini bisa dikatakan rumah bagi spesies-spesies unik dan terkenal di dunia, salah satunya birds-of-paradise (cenderawasih),” lanjutnya. 

Tiap cenderawasih punya atraksi dan tarian khas untuk menarik lawan jenis

Ed Scholes menghabiskan waktu yang panjang untuk meneliti dan mempelajari cenderawasih. Ketika bertemu Tim Laman pada 2003, Scholes sedang mempelajari genus Parotia untuk gelar profesornya. Baginya, meski di dunia banyak sekali jenis burung yang cantik, tidak ada burung yang lebih indah, unik, dan spektakuler seperti cenderawasih. 

“Cara mereka menggunakan bulunya yang indah sebagai bagian dari perilaku display dalam proses menarik lawan jenis adalah hal yang membuat keluarga burung ini memiliki keistimewaan tersendiri. Sangat menarik,” ujar Scholes.

Baca juga: Melindungi Cenderawasih di Malaumkarta Raya 

Setiap spesies memiliki perilaku berbeda-beda saat unjuk gigi memamerkan keindahannya pada cenderawasih betina. Cenderawasih Vogelkop misalnya. Untuk menarik perhatian lawan jenis, ia akan membentangkan sayapnya yang berwarna hitam menjadi seperti kipas. Cenderawasih Parotia Arfak akan mengembangkan bagian khusus dari bulunya sehingga mirip rok balerina sambil menari berputar-putar. Magnificent Riflebird akan mengepakkan sayapnya yang lebar dan mengajak sang betina untuk berdansa bersama. 

“Jadi, beberapa di antara mereka akan melakukan display dengan balutan bulu di bagian atas tubuh mereka seperti Cenderawasih Vogelkop. Beberapa melakukan display di tanah. Jadi, para betina akan melihat atraksi mereka dari atas ranting. Beberapa spesies lainnya melakukan display di kanopi-kanopi pohon yang tinggi dengan menegakkan bulu-bulu indahnya. Betul-betul mengesankan karena mereka memiliki beragam warna, bentuk, gerakan, dan perilaku yang unik,” ungkap Scholes.

Cenderawasih Parotia Arfak atau Western Parotia menari dengan bulu tubuhnya yang mirip rok tutu sambil berputar-putar.

Tarian cenderawasih, subjek menarik untuk didokumentasikan

Ketika mendokumentasikan cenderawasih bersama Scholes, Laman begitu antusias mengetahui perbedaan perilaku display dan ciri fisik berbagai spesies cenderawasih. Salah satu yang paling menarik adalah saat mendokumentasikan Cenderawasih Vogelkop di pegunungan Arfak. 

“Kami mendokumentasikan momen langka perilaku display spesies Vogelkop Superb (Cenderawasih Vogelkop) yang demikian spektakuler,” ujarnya. Laman mengaku itu adalah kesempatan pertamanya. Sebelumnya, mereka belum pernah mendokumentasikan perilaku display spesies endemik pegunungan Arfak ini. “Saya senang, sekarang perilaku display Vogelkop Superb menjadi atraksi paling istimewa dari pegunungan Arfak. Penduduk sekitar kemudian menyadari bahwa mereka memiliki burung cenderawasih unik di wilayah mereka yang tidak bisa ditemukan di wilayah lain,” ungkapnya. 

Baca juga: Cenderawasih Simbol Budaya dan Mata Rantai Kehidupan Belantara Papua

Selain Cenderawasih Vogelkop Superb, Cenderawasih Kuning Besar dari Kepulauan Aru, Maluku, juga menarik perhatian Tim Laman untuk membidiknya dengan lensa kamera selama penelitian berlangsung. “Warnanya sangat menarik. Atraksi perilaku display-nya di kanopi pohon-pohon tertinggi di hutan hujan tropis begitu indah,” tutur Tim Laman. 

Bagi Tim Laman yang berprofesi sebagai fotografer dan videografer alam liar, cenderawasih adalah keluarga burung yang paling beragam di dunia. Cenderawasih merepresentasikan keragaman spesies dalam satu family. “Mereka sangat menarik dan indah. Dari segi fotografi, mereka merupakan subyek yang luar biasa menarik,” ungkapnya. 

Cenderawasih kuning besar atau Greater Bird-of-paradise menarik perhatian lawan jenis di dahan-dahan pohon yang tinggi.

Tim Laman dan Ed Scholes ajak jaga hutan, lantai dansa para burung surga

Siklus hidup cenderawasih sepenuhnya bergantung pada hutan. Selain mencari makan dan tempat tinggal, hutan adalah lantai dansa para burung jantan untuk menarik para betina. Dengan kata lain, hutan turut menentukan reproduksi dan keberlanjutan spesies-spesies cenderawasih. Jika hutan hilang, cenderawasih juga kehilangan rumah, tempat mencari makan, juga lantai dansanya. 

Scholes dan Laman mengungkapkan saat ini kehilangan hutan menjadi ancaman nyata bagi cenderawasih di masa depan. Saat ini mungkin masih banyak hutan yang tersisa, namun kelestarian hutan harus benar-benar dijaga jika masih ingin melihat keindahan cenderawasih. 

“Tujuan utama dari pekerjaan yang saya lakukan melalui proyek birds-of-paradise adalah menyampaikan pesan agar orang tergerak untuk menjaga hutan sebagai habitat cenderawasih. Burung-burung ini perlu hutan untuk survive. Jika kita bisa menjaga hutan-hutan yang menjadi habitat cenderawasih ini, maka kita bisa menjaga semua keanekaragaman hayati di hutan hujan tropis Indonesia,” ujar Laman. 

Kini, bersama EcoNusa dan Cornell Lab of Ornithology, Ed Scholes dan Tim Laman mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga hutan hujan tropis di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku. Melalui kampanye #defendingparadise, keduanya mengajak masyarakat menyerukan  kelestarian hutan-hutan itu sebagai langkah untuk melestarikan keberadaan cenderawasih. 

Suarakan dukunganmu bersama Ed Scholes dan Tim Laman di https://econusa.id/id/defendingparadise/ 

Editor: Leo Wahyudi

Artikel Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved