Defending Paradise

Ekosistem Kompleks Pengaruhi Endemisitas dan Keragaman Cenderawasih

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Cenderawasih Toowa Cemerlang atau Magnificent Rifflebird. Foto: Tim Laman/ IG @timlaman

Ekosistem alam di Tanah Papua membentang dari bawah laut, pesisir pantai, dataran rendah, dataran tinggi hingga ke area pegunungan yang tertutup salju. Dilihat dari sejarah geologis pembentukannya, kompleksitas dan keragaman ekosistem inilah yang memengaruhi tingginya endemisitas flora dan fauna di Tanah Papua termasuk burung cenderawasih atau birds-of-paradise. Hutan-hutannya menyokong kekayaan hayati, beragam spesies flora dan fauna. Sebagian besar adalah endemik yang tidak dapat ditemukan di manapun di muka bumi sekalipun di tempat lain di Indonesia.

Ekosistem yang Kompleks dan Bervariasi

Rektor Universitas Cenderawasih, Apollo Safanpo, memaparkan Tanah Papua secara umum memiliki 3 bentuk ekosistem daratan. “Tanah Papua terdiri dari 3 ekosistem besar, yaitu ekosistem pantai, dataran rendah, dan dataran tinggi,” kata Apollo kepada EcoNusa. Ketiga ekosistem besar tersebut membentuk bermacam-macam habitat, seperti hutan mangrove, hutan rawa, hingga hutan pegunungan. 

Rektor Universitas Cenderawasih, Apolo Safanpo. (Yayasan EcoNusa/ Novie Sartyawan)

Tanah Papua dan Kepulauan Maluku menjadi istimewa karena wilayah ini memiliki keragaman habitat yang luar biasa tinggi. Hutan-hutan pegunungan di Tanah Papua yang menjadi habitat bagi beragam spesies unik seperti cenderawasih, burung nuri, dan spesies burung unik lainnya. Di wilayah itu juga hidup beragam spesies mamalia, serangga, katak, dan ikan. 

Ahli ekologi Universitas Cenderawasih, Hendra K. Maury, mengatakan bahwa di Tanah Papua banyak sekali kekayaan alam yang tersimpan dan belum digali, baik keanekaragaman hayatinya maupun fungsi dari keanekaragaman hayati ini. Belum lagi ekosistem Tanah Papua yang unik dan kompleksitasnya tinggi. 

“Ekosistem di Papua ini unik sekali karena sangat kompleks. Dari pesisir sampai area pegunungan dengan ketinggian 4000 mdpl di Jayawijaya yang tertutup salju abadi. Ini luar biasa sekali kompleksnya. Dan hal ini menyebabkan tingkat endemisitas di Papua juga tinggi. Kalau kita bicara endemisitas, dilihat dari sejarah geologis pembentukannya sampai sejarah geografisnya, di area-area ekosistem tertentu di Papua ini punya area-area hotspot untuk endemisitas flora dan faunanya,” ujar Hendra. 

Baca juga: Peran Penting Cenderawasih dalam Keseimbangan Ekosistem Hutan

Dengan banyaknya flora dan fauna endemik yang hanya bisa ditemukan di suatu area tertentu, menjadikan wilayah tersebut memiliki keistimewaan dan ciri khas tersendiri. Dari kacamata ilmu pengetahuan, semakin tinggi tingkat endemisitas (tingkat kekayaan flora dan fauna endemik) akan semakin besar potensi yang dapat digali dan diteliti lebih lanjut guna mengetahui peran serta manfaatnya untuk keseimbangan ekosistem dan kehidupan manusia. Dari sisi ekonomi, tingkat endemisitas yang tinggi dapat berkontribusi terhadap praktik ekowisata yang dilakukan masyarakat.

Endemisitas dan Keragaman Cenderawasih

Keragaman ekosistem dan habitat menyebabkan spesies burung termasuk cenderawasih juga beragam. Dari sekitar 40 spesies cenderawasih yang hidup di dunia, sekitar 28 spesies cenderawasih hidup di Indonesia, yakni di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku. 

Dari 28 cenderawasih, sebagian besar dapat ditemukan di Tanah Papua. Beberapa spesies bahkan memiliki persebaran yang sangat sempit. “Beberapa di antara mereka bahkan hanya bisa ditemukan di Papua. Artinya mereka tidak hidup di wilayah lain di Pulau New Guinea (termasuk Papua Nugini). Ada beberapa spesies yang persebarannya hanya ada di Pegunungan Arfak atau di Raja Ampat. Ada juga yang hanya terdapat di beberapa tempat di Kepulauan Maluku,” jelas Ed Scholes, ornithologist dari Cornell Lab of Ornithology. 

Parotia Arfak (Parotia sefilata) di dalam hutan Pegunungan Arfak. (Yayasan EcoNusa/Lutfy Mairizal Putra)

Di Tanah Papua sendiri, ada 7 spesies endemik cenderawasih yang hidup di wilayah tertentu. Ketujuh cenderawasih itu adalah Cenderawasih Merah (Paradisaea rubra) dan Cenderawasih Botak (Cicinnurus respublica) yang hidup di wilayah Raja Ampat, Cenderawasih Parotia Arfak (Parotia sefilata), Cenderawasih Paradigala Ekor Panjang (Paradigalla carunculata), Cenderawasih Vogelkop Superb (Vogelkop lophorina), dan Cenderawasih Astrapia Arfak (Astrapia nigra) yang hanya hidup di Pegunungan Arfak, serta Cenderawasih Parotia Foja (Parotia berlepschi) yang hanya bisa ditemukan di Pegunungan Foja. Sedangkan di Kepulauan Maluku, hanya ada 2 spesies endemik cenderawasih yaitu Cenderawasih Gagak (Lycocorax pyrrhopterus) dan Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii). 

“Jadi, alasan mengapa spesies cenderawasih endemik di Tanah Papua lebih banyak jika dibandingkan dengan cenderawasih endemik di Kepulauan Maluku yang hanya dua spesies adalah karena kompleksitas dan keragaman ekosistem di Tanah Papua yang  jauh lebih tinggi dibanding dengan ekosistem di Kepulauan Maluku,” jelas Hendra.

Baca juga: Upaya Melindungi Cenderawasih di Malaumkarta Raya

Variasi dan perbedaan warna serta ciri cenderawasih yang bermacam-macam juga berkorelasi dengan kondisi ekosistemnya yang berbeda-beda.Tim Laman, fotografer dan videografer alam liar yang bekerja bersama Ed Scholes mendokumentasikan burung cenderawasih di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku, menyebutkan cenderawasih merepresentasikan keragaman spesies dalam satu keluarga atau family. “Mereka adalah keluarga burung paling beragam di dunia. Mereka memiliki warna, ukuran, bentuk, perilaku display yang luar biasa beragam dan indah,” ujarnya.

Ekosistem Hutan Hilang, Cenderawasih Hilang

Pegunungan Arfak. (Yayasan EcoNusa/Moch. Fikri)

Burung cenderawasih sangat bergantung pada hutan di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku sebagai habitatnya, terlebih spesies endemik yang hanya hidup di suatu wilayah tertentu. Apollo mengatakan cenderawasih endemik sulit untuk beradaptasi dengan alam di daerah lain karena hubungannya sangat erat dengan hutan Papua dan Maluku yang adaptif bagi burung-burung ini. 

“Nah, jika hutan terus terdeforestasi dan hilang, ini juga jadi  ancaman bagi kepunahan cenderawasih,” Apollo menegaskan. Menurutnya, perlu ada regulasi dan pengawasan yang ketat yang melindungi hutan serta habitat cenderawasih sehingga hutan-hutan yang menjadi habitat cenderawasih tidak boleh dialihfungsikan lahannya. 

Menurut Hendra, tantangan terbesar dalam pelestarian cenderawasih dan habitatnya adalah wilayah-wilayah yang berada di dataran rendah dan kepulauan karena wilayah tersebut rawan alih fungsi lahan akibat tingginya aktivitas yang dilakukan manusia. Oleh karenanya, perlu upaya kolektif agar hutan-hutan ini tidak terus menerus hilang dan mengalami deforestasi.

Editor: Leo Wahyudi

Artikel Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved