EcoStory

Laut Bukan Tempat Sampah

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Peserta Menghadap Laut 2018 membersihkan pantai di dekat Pasar Boswezen, Sorong, Papua Barat.

Laut Indonesia memanggil pemuda pemudi dan seluruh masyarakat Indonesia untuk bergabung bersama Komunitas Pandu Laut Nusantara, Dipimpin langsung oleh pembina utama Pandu Laut Nusantara Ibu Susi Pudjiastuti, “Menghadap Laut” Pada Hari Minggu, 19 Agustus 2018, dimulai jam 15.00 (WIT) 14.00 (WITA) 13.00 (WIB) dan melakukan gerakan bersih pantai sebagai gerakan Indonesia merawat laut, memperingati 73 Tahun Indonesia Merdeka, di 73 titik utama dari Aceh sampai ke Papua.

Bersama 24 kelompok masyarakat, LSM dan Pecinta Laut serta public figure seperti Kaka, Ridho SLANK dan lainnya, Pandu Laut Nusantara menyerukan Laut “Bukan Tempat Sampah” dan meminta untuk segera di hentikannya penggunaan plastik sekali pakai di Indonesia. Hal tersebut disampaikan pada kegiatan konferensi pers yang diadakan di Jakarta (13/08) hadir sebagai narasumber Susi Pudjiastuti; Menteri Kelautan dan Perikanan, Kaka Slank, Tiza Mafira, Direktur Diet Kantong Plastik.

Susi Pudjiatuti mengatakan laut merupakan kebanggaan bangsa Indonesia. Semua berawal dari komitmen dalam deklarasi Juanda, namun sayangnya saat ini banyak ancaman laut Indonesia yang harus dihadapi. Untuk itu melalui gerakan menghadap laut ini kita berupaya menyatukan seluruh pemangku kepentingan laut, organisasi bahkan individual yang memiliki rasa cinta laut. Laut adalah masa depan bangsa maka kita semua harus menjaga laut, demi masa depan anak cucu kita. Pada tanggal 19 Agustus dalam rangka 73 tahun Indonesia kita mengajak 73 titik di seluruh Indonesia untuk melakukan aksi bersih laut bersama. Dan sebagai rasa hormat terhadap laut Indonesia yang sudah memberikan banyak hal baik untuk Indonesia,maka kita melakukan aksi Menghadap Laut”

Hal ini terbukti dengan tingginya pencemaran sampah plastik di laut terus menjadi perhatian dunia. Dalam hal ini Indonesia memiliki rekor yang buruk. Penelitian Jenna Jambeck di University of Georgia menunjukkan Indonesia termasuk dalam 10 negara penyumbang terbesar sampah plastik kelaut, dengan perkiraan 0,48 – 1,29 juta metric ton per tahun. Hal ini tentunya akan berdampak pada kesehatan masyarakat, turunnya hasil laut dan mengurangi potensi pariwisata.

Tiza Mafira mengatakan fakta terkait sampah plastik. Sampah di Indonesia mencapai 64 juta ton/ tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik (sumber; BPS & INAPLAS). Kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 Milyar lembar pertahun = 85.000 ton kantong plastik (sumber; BPS & INAPLAS). Sebanyak 32% sampah plastik yang terpakai di seluruh dunia akhirnya mengotori lingkungan (sumber World Economic Forum 2016). Sampah plastik yang masuk ke laut dapat pecah menjadi partikel-partikel kecil yang disebut microplastics dengan ukuran 0,3 – 5 milimeter. Plastik berukuran besar maupun mikroplastik saat ini sudah dikonsumsi oleh hewan laut,dan bahkan telah menyebabkan kematian hewan laut.

Kaka Slank mengatakan kegiatan ini organisir langsung oleh Sekretariat Pandu Laut Nusantara dan Yayasan EcoNusa bersama kelompok-kelompok masyarakat secara swadaya diseluruh Indonesia. Diharapkan dapat menjadi ajang edukasi efektif bagi masyarakat pesisir akan kerugian dan bahaya membuang sampah ke laut.Kami mengajak sebanyak mungkin untuk ikut sebagai pandu laut dalam gerakan menghadap laut dan untuk informasi gerakan ini bisa dilihat di website www.pandulaut.org dan social media @pandulaut (twitter), @bluesinblue.id (Instagram) dan pandulaut.org (Facebook).

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved