Defending Paradise

Paradigma Keberlanjutan Kunci Penyelamatan Bumi

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Paradigma keberlanjutan diyakini menjadi konsep yang harus dijalankan agar manusia tetap dapat bertahan mendiami bumi. Bukan saja sebagai pengganti konsep pembangunan ekonomi klasik yang hanya mengejar pertumbuhan, melainkan juga sebagai mitigasi dan upaya menghentikan laju perubahan iklim.

Hal itu disampaikan oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Norwegia, Todung Mulya Lubis, dalam EcoNusa Outlook 2021 yang dihelat secara langsung dari Sorong, Papua Barat, dan virtual pada Rabu (17/2/2021). Hadir pula CEO EcoNusa, Bustar Maitar, Ketua Perkumpulan Generasi Muda Malaumkarta, Torianus Malami, Koordinator Penanaman Sereh Wangi Distrik Mare, Beyum Antonela Baru, dan Direktur Caritas Keuskupan Agung Merauke, Pater Apolinaris Miller Senduk, serta alumni School of Eco Diplomacy.

“Kita dihadapkan pada persimpangan dalam menghadapi masa depan kehidupan kita sebagai umat manusia. Dalam konteks ini yang paling penting adalah pemahaman dan komitmen kita tentang keberlanjutan. Karena keberlanjutan adalah perspektif yang mengikat dan menyelamatkan kita untuk masa depan. Keberlanjutan adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan manusia ke depan,” kata Todung.

Todung menyoroti banjir besar yang terjadi di 11 kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan pada pertengahan Januari 2021 lalu. Perubahan iklim memicu cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan angin kencang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalimantan Selatan mencatat selama dua hari curah hujan mencapai 300 milimeter yang menenggelamkan lebih dari 10.000 rumah.

Nyatanya, cuaca ekstrem bukanlah penyebab tunggal banjir besar. Alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan dan pertambangan terus terjadi. Luas tutupan hutan menyusut dari 1,18 juta hektare pada 2005 menjadi 0,92 juta hektare pada 2019 di Kalimantan Selatan. Perubahan lanskap tersebut membuat daya serap permukaan tanah menurun dan tak mampu menampung curah hujan ekstrem.

“Apa yang terjadi di Kalimantan Selatan sangat merisaukan kita. Begitu banyak banjir yang sebetulnya adalah kesalahan yang kita buat selama ini. Kita membiarkan hutan kita dijarah. Ini sama sekali tidak sejalan dengan pembangunan berkelanjutan yang telah menjadi komitmen kita,” ujar Todung.

Menurut Todung, cara pandang perekonomian dunia tengah mengalami perubahan. Para investor mempertimbangkan dampak ekologis dan sosial serta kebijakan yang berlaku sebelum mereka berinvestasi. Tak heran jika kemunculan Undang-Undang Cipta Kerja membuat 35 investor global justru khawatir terhadap eksistensi hutan tropis Indonesia. Respons ironis ini  justru muncul dari investor yang berlawanan dengan harapan pemerintah saat menyusun Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja yang ingin membuka jalan lebar untuk masuknya investasi.

“Hutan kita adalah kunci dalam mencapai SDGs (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan), tak lagi dengan menebanginya tetapi dengan menjaga kelestariannya,” kata Todung. Dunia sedang berubah. Blue economy dan green economy telah berkembang dan menjadi dasar pertimbangan para pelaku bisnis dunia, baik untuk perdagangan, maupun investasi.

Inovasi menjadi kunci penting untuk keberlanjutan. Masalahnya, “Apakah kita punya minat di sana? Karena ini butuh waktu,” katanya.

Editor: Leo Wahyudi & V. Arnila Wulandani

Artikel Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved