EcoStory

Tanam 2.850 Bibit Mangrove Bersama EcoNusa, Blink Official Indonesia Serukan Pengendalian Krisis Iklim

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Blink Official Indonesia dan Yayasan EcoNusa menanam bibit mangrove di Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk, Jakarta. (Yayasan EcoNusa/David Hermanjaya)

Blink Official Indonesia (BOI) bersama Yayasan EcoNusa menginisiasi penanaman 2850 bibit mangrove di Provinsi DKI Jakarta dan Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Acara tersebut terselenggara sebagai bagian dari seruan grup musik asal Korea Selatan, Blackpink, yang ditunjuk menjadi duta untuk Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP26) 2021.

Dalam sebuah video yang diunggah di YouTube, Blackpink mengajak penggemarnya untuk melakukan aksi mitigasi krisis iklim di sekitar domisili para penggemar. Video yang diunggah pada 9 Desember 2020 telah diputar ulang oleh lebih dari 2 juta penonton.

Baca juga: Rehabilitasi Mangrove, Upaya Pemerintah Mengurangi Emisi Karbon

“Bagi saya, ini pengalaman yang menarik banget karena pertama kali ikut menanam mangrove. Secara global, saya ikut langsung dalam aksi yang diserukan oleh Blackpink untuk mengendalikan krisis iklim,” kata Jevon Christian, pengurus BOI, usai menanam mangrove pada Minggu (24/10/2021).

Sebanyak 50 bibit mangrove ditanam di Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk, Provinsi DKI Jakarta. Kemudian, sekitar 2.800 bibit mangrove ditanam di Kampung Sawinggrai, Distrik Meos Mansar, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Penanaman bibit mangrove di Kampung Sawinggrai bekerja sama dengan anggota EcoDefender dan Perkumpulan Penggerak Usaha dan Penghidupan Masyarakat Asli Raja Ampat (PERJAMPAT).

Jevon bercerita, narasi krisis iklim yang bergulir di sekitar dirinya dan keluarga adalah kerusakan ekosistem dan kepunahan biodiversitas. Menurut Jevon, hal tersebut akan berimbas kepada sektor pariwisata Indonesia yang terkenal dengan kekayaan sumber daya alam. “Yang dekat dengan pembicaraan rumah tangga biasanya traveling. Karena krisis iklim, ekosistem di daerah wisata tersebut akan hilang,” ucap Jevon.

Baca juga: Pembangunan Berkelanjutan di Tanah Papua: Komitmen Bersama Mitra Pembangunan

Senada dengan Jevon, anggota BOI, Stefanus Parlindungan Simarmata, tergerak ingin berpartisipasi menanam mangrove agar menjadi bagian dari aksi kolektif mengendalikan krisis iklim. Sejak menempuh pendidikan di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Stefanus telah terlibat dalam aksi sosial dan lingkungan yang diselenggarakan pihak kampus, seperti konservasi penyu dan penanaman pohon.

Tumbuh besar di Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, dampak krisis iklim ia rasakan saat melihat banjir rob menggenangi Terminal Terboyo. Akibat penurunan permukaan tanah dan kenaikan permukaan air laut, Semarang diprediksi akan tenggelam pada 2071 atau 50 tahun ke depan.

Meski krisis iklim telah terjadi di depan mata, sebagian masyarakat Indonesia memercayai bahwa krisis iklim adalah fenomena alami. Sebuah survei yang dilakukan oleh YouGov terhadap 1.001 responden di 23 negara, masyarakat Indonesia berada di urutan pertama yang tak percaya krisis iklim dipicu oleh manusia.

Baca juga: Pamungkas: Kita Butuh Alam

“Cukup mengkhawatirkan masih banyak yang gak percaya krisis iklim. Ini tanggung jawab bersama. (Negara) kita dari dulu dianggap sebagai paru-paru dunia tapi hutannya mulai terkikis. Walaupun ‘gelap’, pelan-pelan semakin banyak orang-orang yang bergerak untuk mengatasi krisis iklim,” kata Stepanus.

Belum semua masyarakat Indonesia memahami bahwa ekosistem mangrove yang sehat akan meningkatkan resiliensi masyarakat pesisir terhadap dampak perubahan iklim yang saat ini terjadi. Mangrove juga dapat memperkecil laju abrasi, tsunami, badai disamping manfaat keekonomian. Selain itu, mangrove mampu menyimpan karbon 3-5 kali lebih banyak dari hutan tropis. Di Indonesia, luas mangrove lebih dari 3,3 juta hektare. Dari angka tersebut, 637.625 hektare, atau 19,26 persen, berada dalam kondisi kritis. Penanaman oleh anak muda ini menjadi bagian dari upaya besar untuk merehabilitasi mangrove.

Editor: Nur Alfiyah

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved