EcoStory

Menyelamatkan Ekosistem Papua Melalui School of Eco Diplomacy

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Peserta School of Eco Diplomacy (SED) kelas Dasar 2019 mengunjungi Pegunungan Cycloops. Mereka berdiskusi dengan masyarakat terkait kerusakakan yang terjadi di Pegunungan Cycloops. (Foto: istimewa)

Yayasan EcoNusa menginisiasi School of Eco Diplomacy (SED) Kelas Dasar di Jayapura, Papua, pada 13 – 15 November 2019. SED terselenggara atas kerja sama Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Kehutanan, Universitas Cendrawasih, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua, Forum Komunitas Jayapura-Rumah Bakau Jayapura, serta Yayasan EcoNusa.

Peserta SED dibagi menjadi lima kelompok dalam pembuatan rencana aksi. Mereka menjabarkan rencana aksi berkurangnya hutan di Pegunungan Cycloops, langkah bijak menggunakan plastik, mengatasi degradasi mangrove, mengembalikan keindahan terumbu karang, hingga penyelamatan penyu.

Salah satu kelompok menyoroti degradasi ekosistem mangrove yang terjadi di Taman Wisata Alam (TWA) Teluk Youtefa. Luasan tutupan hutan mangrove telah berkurang drastis. Pada 1967, hutan mangrove di TWA Teluk Youtefa seluas 511,24 ha. Sementara pada 2008, luasan tersebut berkurang lebih dari separuh, yakni 241,24 ha. Pengurangan luasan hutan mangrove juga terjadi selama pembangunan Jembatan Youtefa.

“Kelestarian ekosistem mangrove sangat bermanfaat bagi masyarakat. Tak hanya menyimpan karbon, kelestarian hutan mangrove juga berguna bagi masyarakat di Kampung Enggros dan bisa dimanfaatkan untuk ekowisata,”  kata Lumeli Jacky Buly, peserta SED.

Selain pengurangan luas tutupan hutan, berbagai sampah plastik mengotori ekosistem mangrove. Plastik sekali pakai tertimbun di sela-sela akar bakau. Hutan Perempuan yang hanya boleh dimasuki oleh para mama yang terletak di sekitar Teluk Youtefa pun tercemar. Kondisi ini merugikan masyarakat Kampung Enggros temat para mama mencari kerang (bia). Sampah plastik menumpuk dan butuh banyak orang untuk membersihkannya.

“Dulu mereka tidak merasa gatal karena air masih bersih, tidak tercemar. Tapi sekarang mama ke dalam mencari kerang pulang harus garuk badan terus, mungkin karena air telah tercemar oleh sampah,” kata Lian Youwe, warga Kampung Enggros yang bercerita kepada peserta SED saat melakukan kunjungan lapangan.

Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved