EcoStory

Mahasiswa Poros Penjagaan Ekosistem Laut

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Dari kiri: Dirjen Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Brahmantya Setyamurti, Dosen Filsafat Saras Dewi, Toto Sugiarto selaku moderator, Ketua Harian Pandu Laut Nusantara Prita Laura, Koordinator Staf Khusus Satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan Ikan secara Ilegal Achamat Santosa dalam diskusi Harmoni Laut di pelataran Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, Depok, Kamis (20/9/2018)

Masa depan bangsa berada di tangan pemuda-pemudi saat ini. Begitu juga dengan keberlangsungan laut Indonesia. Untuk itu, dibutuhkan pendidikan yang tepat agar Pemuda Indonesia memiliki ketertarikan dan kepedulian terhadap sektor yang akan menjadi fundamental Negara Maritim Indonesia.

Indonesia diprediksi akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2020-2030. Bonus demografi adalah jumlah usia angkatan kerja dengan usia 15 – 64 tahun mencapai 70 persen. Sedangkan 30 persen penduduknya adalah berusia tidak produktif yaitu usia 14 tahun ke bawah dan di atas 65 tahun. Untuk itu, pemupukan cinta laut juga harus dilakukan paralel sembari mempersiapkan bonus demografi tersebut.

Gerakan Pandu Laut Nusantara sebagai wadah para pihak yang memiliki kepedulian terhadap laut kali ini menyambangi Universitas Indonesia dalam Diskusi Harmoni Laut bersama mahasiswa dengan tema “Kreatif Jaga Laut”, turut hadir sebagai narasumber utama, Koordinator Staf Khusus Satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan Ikan Secara Ilegal Kementerian Kelautan dan Perikanan; Achmad Santosa, Dirjen Pengelolaan Ruang Laut KKP; Brahmantya Satyamurti, Dosen Filsafat Lingkungan UI; Saraswati Putri, Ketua Harian Pandu Laut; Prita Laura serta Ketua Yayasan EcoNusa; Bustar Maitar.

Pengelolaan laut tidak bisa dilakukan oleh Pemerintah saja, oleh karena itu dibutuhkan partisipasi dari banyak pihak. Sayangnya, budaya untuk cinta laut tidak tertanam di masyarakat sejak kecil.

Menurut Brahmantya, kondisi itu bisa dilihat dari jarangnya orang berkunjung ke laut. “Padahal laut adalah masa depan kita, maka budaya cinta laut harusnya kita tanam dari sekarang,” terang Brahmantya dalam Diskusi tersebut.

Dirinya juga menyoroti perubahan budaya ramah lingkungan yang terjadi dengan ditemukannya plastik sebagai material murah yang dapat dijadikan makanan dan minuman. “Ini yang mengenaskan, kenapa kita merubah budaya kita untuk hal yang tidak sustain,” ucap dia.

Penjagaan yang konkret dalam menjaga laut adalah mencegah larinya sampah ke laut. Sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/ tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik (sumber; BPS & INAPLAS). Sedangkan Kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 Milyar lembar pertahun = 85.000 ton kantong plastik (sumber; BPS & INAPLAS). 32% sampah plastik mengotori lingkungan. (sumber World Economic Forum 2016). Sampah plastik yang masuk ke laut dapat terbelah menjadi partikel-partikel kecil yang disebut microplastics dengan ukuran 0,3 – 5 milimeter. Microplastics ini sangat mudah dikonsumsi oleh hewan-hewan laut.

Achmad Santosa dalam kesempatan tersebut menyebut jika penjagaan dan perlindungan laut tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Pemerintah butuh banyak bantuan dari segala lapisan, terutama untuk kawasan laut lepas, di luar zona ekonomi eksklusif yang menjadi pusat terjadinya tindak kriminal.

“Gerakan-gerakan untuk menghargai laut oleh masyarakat ini harus diperbanyak, karena kita butuh laut. Namun belum tentu laut butuh kita, makanya sekarang tidak hanya human rights, tapi juga ocean rights sudah berkembang di berbagai negara,” terang dia.

Dosen Fakultas Filsafat UI Saras Dewi menyatakan budaya masyarakat Indonesia sudah dibentuk dari laut. Oleh karena itu, sebenarnya kedekatan masyarakat dengan laut sudah melekat sejak dulu.

“Orang-orang zaman dulu tidak hanya melihat laut sebagai fisiknya saja, tapi ada aspek spiritualitas di situ, ada kedekatan emosional, makanya tidak heran ketika ada ritual dan sesembahan kepada laut,” terang dia.

Sementara itu, Prita Laura melihat jika isu laut tumbuh semenjak pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Menteri Susi Pudjiastuti. Untuk itu, dibutuhkan upaya untuk menjaga momentum. “Ada keresahan di kami, yang concern terhadap lingkungan akan apa yang terjadi pada laut selepas pemerintahan selanjutnya, akan ke mana arah laut kita sementara laju kerusakan laut sangat cepat. Makanya pandu laut nusantara hadir untuk mewadahi kepedulian yang dimiliki oleh orang-orang,” terang dia.

Dalam diskusi tersebut turut diluncurkan program beasiswa bagi seluruh Mahasiswa di seluruh Indonesia. Program bertajuk EcoNusa Student Ocean Challenge (EcoSOC2018) ini mengundang mahasiswa untuk mengembangkan ide kegiatan berupa forum diskusi, kampanye, ataupun inovasi lainnya seputar isu lingkungan khususnya tentang mengembalikan ‘Harmoni Laut Sebagai Masa Depan Bangsa’ yang juga dipilih sebagai tema dari kegiatan itu.

Para Mahasiswa cukup untuk mengirimkan proposal ide kegiatan mereka dengan batas akhir pengumpulan pada 30 September 2018 melalui link bit.ly/EcoSOC18. Nantinya seluruh proposal akan diseleksi dan diumumkan pemenangnya pada 10 Oktober 2018. Besaran pendanaan untuk ide kegiatan yang terpilih ialah sebesar Rp5 juta masing-masing untuk 5 pemenang.

“Di sini laut menantang mahasiswa, maka kami tunggu ide kreatif dari kalian,” ucap Bustar Maitar memberikan pengumuman.

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved