EcoStory

Kelompok Tani di Manyaifun

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Masyarakat Manyaifun menerima dukungan alat pertanian dari tim EcoNusa (Doc. EcoNusa)

Saat memasuki perairan Pulau Manyaifun, Kecamatan Waigeo Barat Kepulauan, Kabupaten Raja Ampat, tim EcoNusa cukup takjub dengan lautnya yang tenang. Maklum saja, sepanjang perjalanan awak EcoNusa COVID-19 Respons Raja Ampat kerap melewati perairan berombak yang membuat beberapa di antara mereka mabuk laut. 

Perairan Pulau Manyaifun tenang berkat naungan Pulau Batang Pele. Hanya ada dua jalur untuk memasuki Manyaifun, yaitu dari Selpele dan Meosmanggara. Karena masih musim selatan, laut memang cukup teduh. Di pinggir pantai, bakau atau mange-mange berjejer di antara homestay.

Menurut Laura Resti dari Pengembangan Usaha Perjampat (Perkumpulan Penggerak Usaha dan Penghidupan Masyarakat Asli Raja Ampat), wisatawan memilih Manyaifun karena jaraknya yang paling dekat dari Wayag. Wayag digambarkan sebagai pulau-pulau karang ikon Raja Ampat yang telah mendunia kepopulerannya. Dari Manyaifun, hanya perlu waktu tiga jam untuk mencapai Wayag.

Selain penyangga pariwisata, Manyaifun juga dikenal sebagai daerah asal tikar senat yang melegenda. Senat adalah tikar tradisional Raja Ampat yang ada di hampir setiap rumah. Fungsinya bermacam-macam, mulai dari alas tidur, makan bersama, hingga untuk alas lantai saat bercengkrama dengan kerabat atau tamu. Senat terbuat dari kulit bagian luar pohon sagu yang memang banyak dijumpai di sana.

Sabtu pagi  19 September 2020, cuaca cerah dan suara ombak menemani masyarakat Kampung Manyaifun yang berkumpul dekat pohon beringin laut. Sebagian di antara mereka sudah duduk di atas tikar senat yang digelar di sebuah bangunan semi permanen, PAUDNI Immanuel Manyaifun.

Hosea Mambraku, lelaki Manyaifun berumur 26 tahun, tampak memerhatikan betul acara itu. Walau tak berada di dalam, dia masih bisa mendengarkan penjelasan Desi Wanma dan Utreks Hembing, para penyuluh pertanian EcoNusa COVID-19 Response Team. Meskipun berprofesi sebagai nelayan, ia mengaku tertarik juga untuk bertani dan mengolah tanah. Sebidang tanah di Pulau Batang Pele sudah ia gunakan untuk berkebun. 

“Masyarakat kampung ini sudah tergerak secara mandiri dalam hal mengurus perut. Sehingga, pandemi COVID-19 ini tak terlalu berdampak dalam penyediaan kebutuhan pangan bagi kami karena dapat memenuhi kebutuhan pangan sendiri,” kata Hosea. Ia juga menuturkan bahwa biasanya, hasil memancing ikan di laut akan mereka jual ke Waisai. Sementara hasil berkebun dikonsumsi sendiri.

Kegiatan penyuluhan itu diharapkan dapat menambah wawasan, informasi, serta modal masyarakat Kampung Manyaifun untuk memenuhi kebutuhan pokok atau nutrisi substansial seperti karbohidrat, mineral, protein, vitamin, dan banyak lagi. Materi yang dibawakan Desi dan Utreks antara lain mengenai teknik budidaya tanaman pangan, manfaat pupuk organik, dan pertanian vertikultur. Secara sederhana, mereka menjelaskan teknik-teknik dasar budidaya pertanian, mulai dari soal pembibitan, panen, sampai pascapanen. Desi Wanma berharap, penyuluhan ini bisa membantu masyarakat dalam menerapkan sistem demplot untuk memenuhi pangan lokal di Kampung Manyaifun.

Dalam kesempatan itu, Tim EcoNusa COVID-19 Response memberikan dukungan berupa pupuk organik berupapupuk Petro Bio, pupuk kandang, pupuk cair, beragam benih sayuran.Termasuk alat pertanian seperti cangkul, sprayer, gunting tanaman, sepatu bot, caping/topi petani, polybag, dan gerobak sorong.

Matheos Yacobus Rayar selaku Field Associate EcoNusa memberikan ide untuk membuat kelompok tani karena jumlah alat pertanian yang dibagikan terbatas. Responsnya cukup beragam. Maklum saja, biasanya warga Manyaifun menggarap semuanya sendiri-sendiri. Melaut, berkebun, hingga membuat tikar senat, semua dilakukan tanpa sistem kelompok. 

Meski belum bisa membayangkan akan seperti apa nanti bentuk kelompok tani itu, menurut Hosea, ide itu perlu dicoba karena peralatan pertanian dan bibit yang diberikan dapat dikelola secara bersama-sama.

“Gerobak bisa baku ganti pake dengan yang lain, dan sa melihat masyarakat senang menerimanya. Sa berharap adanya kelompok ini bisa bermanfaat,” kata Hosea.

Setelah berdialog dengan pemerintah kampung, disepakati untuk membagi 43 warga yang datang ke penyuluhan ke dalam 10 kelompok tani. Suasana menjadi riuh seperti pasar. Semua bernegosiasi mencari anggota kelompok dan menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin. 

Hari itu, peralatan pertanian yang diberikan oleh tim EcoNusa COVID-19 Response  membuka kesempatan mereka untuk mencoba hal baru, yakni mengelola sumber daya alam di wilayah mereka secara berkelompok.


Editor: V. A Wulandani & Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved