Search
Close this search box.
EcoStory

Studi Pra-Fisibilitas Pada Tambak Ikan Guna Mempertahankan Cadangan Karbon Pada Area Mangrove: Studi Kasus Pesisir Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah, Indonesia

Bagikan Tulisan
Kegiatan penelitian di pesisir Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah (Foto: EcoNusa Foundation)

Mangrove merupakan ekosistem esensial penyedia berbagai jasa lingkungan. Mulai dari perlindungan bagi kawasan pesisir, habitat beragam biota perairan dan juga penyerap karbon. Tingginya nilai dan jasa lingkungan yang dimiliki membuat kawasan mangrove cenderung rentan terhadap berbagai bentuk pemanfaatan, salah satunya pertambakan (Pendleeton et al., 2012). Kerusakan kawasan mangrove terjadi karena pengembangan pertambakan mengharuskan adanya pembongkaran tanah pada kawasan mangrove termasuk bagian sedimen. Sementara, kapasitas penyimpanan karbon pada sedimen lebih tinggi dibandingkan dengan mangrove itu sendiri (Murray et al., 2011).  

Studi Pra-Fisibilitas pada tambak ikan yang berlokasi di Desa Sungai Pasir, Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah ini bertujuan untuk mengetahui simpanan karbon di area pertambakan untuk dianalisis dampak dari pemanfaatan yang ada. Ada tiga hal yang dinilai dalam penelitian ini, yakni: (1) kondisi vegetasi mangrove, meliputi Indeks Nilai Penting (INP) diantaranya indeks dominansi, indeks kekayaan jenis, indeks keanekaragaman jenis, dan indeks kemerataan; (2) nilai cadangan karbon pada ekosistem mangrove dan (3) nilai cadangan karbon di tambak guna mengukur cadangan karbon di dalam tanah.   

Penelitian ini memusatkan perhatian pada tambak tradisional yang dibangun oleh masyarakat. Tambak-tambak ini terletak di sepanjang pantai di Desa Sungai Pasir, dibangun dengan membuka lahan mangrove yang berjarak 150 meter dari garis pantai. Komoditas perikanan yang dibudidayakan di tambak ini adalah udang dan bandeng. Di tambak tradisional, sebagian besar petambak membudidayakan bandeng, sedangkan sebagian kecil sisanya membudidayakan udang windu.

Penelitian ini menemukan beragam spesies mangrove di Desa Sungai pasir, antara lain: Acrostichum speciosum, Avicennia alba, Nypa fruticans, Rhizophora mucronata, dan Sonneratia caseolaris. Nilai INP tertinggi adalah 175,55 untuk semai; 192,72 untuk anakan; 300 untuk pancang dan pohon. Nilai INP digunakan untuk mengetahui komposisi jenis dan dominasi suatu jenis dalam suatu tegakan hutan atau vegetasi. Komposisi mangrove di Desa Sungai Pasir didominasi spesies Avicennia alba dengan tingkat keanekaragaman, kekayaan dan kemerataan yang rendah.

Keseluruhan luas kawasan mangrove di lokasi penelitian mencapai 4,24 ha. Perhitungan karbon mangrove dilakukan dengan mempertimbangkan stok karbon di tiga kelompok karbon, yakni biomassa di atas tanah, biomassa di bawah tanah, dan karbon organik tanah. Penilaian penyimpanan karbon dilakukan untuk tiga klasifikasi tutupan lahan, antara lain mangrove dengan kerapatan rendah, mangrove dengan kerapatan sedang, dan mangrove dengan kerapatan tinggi.

Nilai cadangan karbon di atas permukaan tanah vegetasi mangrove rata-rata diperkirakan mencapai 18,18 ton C/ha dan penyerapan CO2 sebesar 66,72 ton CO2e/ha. Kemudian cadangan karbon di bawah permukaan tanah vegetasi mangrove rata-rata sebesar 8,34 ton C/ha, yang berkontribusi terhadap karbon di bawah permukaan tanah sebesar 30,61 ton CO2e/ha.

Pengukuran karbon tanah di ekosistem mangrove Sungai Pasir (Foto: EcoNusa Foundation)

Pengukuran karbon tanah di ekosistem mangrove Sungai Pasir pada kedalaman 0-400 cm menghasilkan total cadangan karbon tanah sebesar 2.273,54 ton C/ha pada mangrove dengan kerapatan rendah, 2.320,91 ton C/ha pada mangrove dengan kerapatan sedang dan 2.601,78 ton C/ha pada mangrove dengan kerapatan tinggi, yang setara dengan kontribusi penyerapan karbon dioksida sebesar 8.343,90 ton CO2e/ha, 8.517,74 ton CO2e/ha dan 9.548,55 ton CO2e/ha. 

Rata-rata cadangan karbon di lokasi tersebut diperkirakan sebesar 2.398,75 ton C/ha dan kontribusi penyerapan 8.803,40 ton CO2e/ha. Cadangan karbon yang diamati dalam penelitian ini melebihi rata-rata cadangan karbon tanah di Delta Mahakam (879 ton C/ha; Arifanti et al.., 2019), melebihi rata-rata cadangan karbon di Indonesia (849 ton C/ha; Murdiyarso et al., 2015), dan lebih tinggi daripada rata-rata cadangan karbon global yang dilaporkan oleh IPCC (2014) yaitu 471 ton C/ha.

Terdapat perbedaan total cadangan karbon antara ekosistem hutan mangrove dan tambak ikan di Desa Sungai Pasir. Rata-rata total cadangan karbon ekosistem di hutan mangrove adalah 2.424,83 ton C/ha dengan kisaran antara 2.280,35 ton C/ha hingga 2.636,39 ton C/ha di tiga tutupan lahan yang berbeda. Namun, rata-rata cadangan karbon ekosistem untuk tambak ikan adalah 1.938,06 ton C/ha. 

Dari Studi Pre-Fisibilitas perhitungan cadangan karbon dan kontribusi penyerapan CO2 merekomendasikan restorasi mangrove di Desa Sungai Pasir untuk memberikan pengaruh positif dalam jangka panjang. Terlebih kajian Sidik et al. (2019) menyebutkan setelah sepuluh tahun restorasi, hutan mangrove dapat kembali mencapai fungsi dan jasa ekosistem yang serupa dengan tegakan alami. Upaya restorasi menjadi strategis dilakukan untuk mendukung upaya mitigasi  perubahan iklim dan mengurangi konsentrasi gas rumah kaca.

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2023.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved