EcoStory

Jalan Panjang Pertanian Edor

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Foto udara Kampung Edor, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat (Yayasan EcoNusa/Moch. Fikri)

Jauh dari Kabupaten Kaimana membuat tak semua kebutuhan masyarakat Kampung Edor, Distrik Buruway, Papua Barat, bisa diperoleh dengan mudah, termasuk kebutuhan pangan dasar berupa sayur-mayur. Secara perlahan, masyarakat Kampung Edor membangun dan menata budaya baru dalam sistem sosial kehidupan mereka: pertanian.

Selama ini sebagian besar masyarakat menggantungkan hidupnya dari hasil penangkapan ikan. Bila menggunakan dua mesin tempel berkapasitas masing-masing 40 PK, Kaimana dapat ditempuh selama satu setengah jam dari Kampung Edor. Di sana, laki-laki Kampung Edor menjual hasil tangkapan mereka sekaligus membeli kebutuhan rumah tangga.

Sayangnya, aktivitas tersebut belum bisa membuat masyarakat bernafas lega. Kepala Kampung Edor Abdul Kadir Suban mengatakan, penghasilan masyarakat dari sektor perikanan tak membuat kebutuhan rumah tangga berada di level aman. Hal ini terjadi karena tingginya biaya operasional selama penangkapan hingga penjualan ikan.

“Mereka terbebani dengan biaya operasional yang sangat tinggi sehingga (pendapatan) hanya bisa untuk penuhi kebutuhan rumah tangga. Namun masih kurang,” kata Abdul.

Menurut Abdul, sekali melaut diperlukan sekitar 20 liter bahan bakar premium. Ketiadaan listrik dari Perusahaan Listrik Negara membuat pengawetan ikan mendongkrak naik biaya operasional. 15 liter solar habis dalam semalam untuk menghidupkan dua masin pendingin. Selang 2-3 hari kemudian barulah ikan siap dijual di Kaimana bila terkumpul cukup banyak.

Abdul memutar otak. Ia berharap masyarakat Kampung Edor bisa mengolah lahan dan mendapatkan sayur-mayur tanpa harus pergi ke Kaimana. Harapan Abdul mulai berjalan ketika pada tahun 2010 penyuluh pertanian lapangan Dinas Pertanian datang ke Kampung Edor. Namun pada akhirnya Abdul harus kecewa karena pendampingan hanya sesaat.

“Mereka memberikan pendampingan bagaimana membuka lahan, membuat bedengan dan lainnya. Namun sayangnya program itu tidak berlanjut sehingga masyarakat kecewa program tidak berjalan dengan rutin,” ujar Abdul.

Membeli sayur di Kaimana pernah dirasakan oleh Haswia Tanarubun, Ketua Kelompok Tani II. Haswia membeli sayur-mayur setiap tiga hari sekali. Rinciannya, lima puluh ribu untuk membeli sayur, lima puluh ribu untuk patungan membeli premium.

“Ya, jadinya mahal. Kalau mama mau makan sayur, ada orang ke kota, mama titip uang. ‘Tolong belikan sayur.’ Kalau mama sendiri turun juga bisa beli karena sayur Itu dimakan untuk kesehatan,” kata Haswia.

Haswia aktif bertani sejak November 2018. Suaminya melaut. Mereka saling membantu: Haswia memberi tenaga tambahan mengangkat ikan, sedangkan suaminya mencari kayu bayar dan mengolah lahan.

Berdasarkan kepemilikan, lahan pertanian di Kampung Edor terbagi menjadi dua. Lahan pribadi digarap oleh masing-masing rumah tangga di sekitar rumah. Lahan kelompok tani dengan ukuran lebih besar diolah bersama. Terdapat dua kelompok tani yang mewakili dua rukun warga dengan masing-masing 15 kepala keluarga tiap kelompok.

“Untuk kemajuan kami, pengalaman untuk anak-anak kami, ya harus bertani. Bertani yang lebih bagus. Lebih dinikmati untuk dipakai, lebih senang untuk kita. Kami ajak anak-anak harus rajin bertani. Bertani itu lebih bagus,” ungkap Haswia.

Pertanian masyarakat Kampung Edor tak sepenuhnya bebas dari pupuk kimia. Meski belum terbiasa, Haswia menggunakan pupuk kimia untuk tanaman sayur seperti kangkung dan bayam. Sedangkan tanaman lain seperti buncis, terong, nangka, pepaya, Haswia menggunakan abu pembakaran kayu tungku.

Mengisi kekosongan tersebut, Yayasan EcoNusa memberikan pendampingan pertanian untuk mencapai good agricultural practices (GAP) dari pembukaan lahan hingga panen. Instruktur pertanian Ramadhan Nur Iman mengatakan, pembakaran lahan bukan cara yang baik untuk memulai pertanian. Pembuatan terasering diperlukan sebagai tindak konservasi.

Para mama kemudian dikumpulkan dalam satu kelas SD Negeri Edor untuk mendapatkan pengetahuan dasar tentang jenis-jenis hara: hara makro dan hara mikro. “Dengan pemahaman ini, pembakaran lahan diharapkan dapat berkurang dengan tujuan menjaga ketersediaan hara mikro dalam tanah,” kata Ramadhan.

Untuk mencegah masuknya hama, lahan dikelilingi serai dapur (Cymbopogon citratus) dan serai wangi (Cymbopogon nardus) dengan rentang tiap tanaman sejauh satu meter. Kedua tanaman tersebut memiliki fungsi penolak hama.

Selain itu, para mama belajar membuat pupuk organik. Lubang pembuatan kompos dibuat di masing-masing kelompok sebesar dua kali satu meter. Sampah daun dimasukkan ke dalam lubang dan disiram air untuk mempercepat proses pembusukan daun. Lubang ditutup dengan daun pisang untuk menahan kelembapan.

Para mama juga mendapat pelatihan cara membuat pestisida nabati. Kekayaan hutan Kampung Edor menyediakan berbagai bahan yang diperlukan: daun sirsak (Annona muricata), daun pepaya (Carica papaya L.), daun Jeruk (Citrus sp.), akar tuba (Derris elliptica), daun kentut (Paederia scandens), ciplukan (Physalis angulata), dan daun suren (Toona sinensis).

Nurhaida Yagana, Ketua Kelompok Tani I, menuturkan dia akan lebih rajin mengawasi lahan pertanian. Rencananya, dia akan memasang pagar kayu untuk menghindari masuknya babi liar merusak bayam, kangkung, sawi, bunci, dan kacang panjang miliknya.

Pertanian di Kampung Edor baru saja berjalan, meski begitu Abdul (Kepala Kampung Edor) punya kegigihan untuk menatap masa depan warganya. “Masyarakat bisa konsumsi banyak sayur sehingga ada peningkatan gizi bagi anak-anak kampung Edor,” ujar Abdul. Selain manfaat gizi dan peningkatan ekonomi rumah tangga, Abdul berharap hasil pertanian Kampung Edor dapat bersaing di Pasar Kaimana.

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved