EcoStory

Sekolah Kampung Waimon dan Kamisle: Pelatihan untuk Kemajuan Kampung

Bagikan Tulisan
Warga Waimon antusias belajar menganyam jaring di kegiatan Sekolah Kampung. (Yayasan EcoNusa/Jemima Desi Wanma)

Kampung Waimon di Distrik Segun dan Kampung Kasimle di Distrik Seget, Sorong, Papua Barat punya potensi laut yang kaya. Kampung Waimon menjadi basis pengepulan udang banana (Fenneropenaeus merguiensis). Dalam satu hari, setiap armada yang dioperasikan oleh 2–3 orang nelayan dapat menangkap sekitar 80–100 kilogram udang. Di pengepul, udang banana dihargai Rp60.000 per kilogram.

Di dua kampung tersebut, masyarakat juga biasa menangkap ikan kakap, nila, kerapu, baronang, dan lobster. Jika air sedang setengah pasang dan jernih, dalam sehari mereka bisa mendapatkan 100 ekor lobster. Namun jika arus kencang dan jarak pandang kabur, hanya sekitar 15 ekor lobster yang berhasil ditangkap.

Jaring termasuk dalam salah satu alat yang wajib dimiliki untuk menangkap komoditas laut tersebut. Namun, sering kali jaring yang dipakai oleh nelayan rusak karena tersangkut karang atau kayu. Lantaran masyarakat tidak bisa memperbaiki jaring, akhirnya jala yang rusak tersebut dibuang begitu saja atau mereka menyuruh orang lain untuk memperbaikinya dengan ongkos Rp150.000 per satu jaring.

Baca Juga: Membangun Asa Baru dari Vanili di Sekolah Kampung Molof dan Warlef, Keerom

Karena hal ini, Yayasan Econusa mengambil langkah inisiatif dengan menyelenggarakan Sekolah Kampung di Waimon pada 24-26 November 2022 dan Sekolah Kampung di Kasimle pada 27-30 November 2022. Sekolah Kampung tersebut merupakan bagian dari program Sekolah Eco-Involvement yang bertujuan membangun ketahanan masyarakat kampung. Program ini diawali dengan kegiatan Workshop Kepala Kampung dan Sekolah Transformasi Sosial (STS) yang telah dilakukan di Distrik Segun pada Oktober 2022.

Ada dua kelas yang diajarkan di Sekolah Kampung di Waimon dan Kasimle, yakni kelas perbaikan jaring yang diajarkan oleh Set Wambraw, salah satu nelayan yang memiliki kemampuan menganyam jaring dengan baik, dan kelas budidaya sayuran organik yang diberikan oleh staf Pengelolaan Sumber Daya Alam Yayasan EcoNusa, Utreks Hembring.

Di Kampung Waimon ada sekitar 20 orang nelayan yang mengikuti kelas perbaikan jaring. Sedangkan di Kampung Kasimle, ada 10 nelayan yang mengikuti kelas tersebut. Di depan mereka, Set mengajari langkah-langkah memperbaiki jaring. Tahap pertama, siapkan jaring yang rusak dan bentangkan di atas bambu seperti menjemur pakaian memanjang. Dari situ akan terlihat bagian-bagian yang rusak.

Baca Juga: Kopi Paniai jadi Finalis di Jakarta Coffee Week 2022

Kemudian, lubang jaring dirapikan segi empat, baru kemudian dianyam menggunakan jarum jaring. “Rapikan simpul jaring yang berantakan menggunakan gunting, lalu kita gambar arah dari arah yang akan kita tuju tanpa memutus tali, lalu pilih arah yang akan kita mulai  masukan jarum jahit dan mulai dengan menganyam jaring pada bagian yang sobek, terus dilakukan hingga bagian jaring yang robek tertutupi,” kata Set.

Sedangkan kelas pertanian sayuran organik di masing-masing kampung diikuti oleh 11 orang. Utreks antara lain mengajarkan tentang cara pengolahan bedeng, pemilihan benih yang berkualitas dan cara perendaman benih, serta teknik penanaman dan pemupukan yang baik.

Kepala Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam) Kasimle, Moy, mengatakan selama ini ada pengadaan bibit menggunakan dana desa. Namun karena tidak ada yang mengajari masyarakat cara membudidayakan sayuran, kebanyakan sayuran yang mereka tanam mati. Padahal, ada perusahaan yang mau membeli hasil sayur dari masyarakat. “Kami harap kedatangan EcoNusa ke kampung ini bisa membantu kami karena perusahaan kadang datang minta kami untuk tanam sayur kemudian mereka akan membeli dengan harga Rp7 ribu per ikat, tapi kami tidak tahu harus bagaimana,” katanya.

Baca Juga: Merawat Jaring Harapan di Kampung Segun

Kepala Kampung Kasimle, Moses Klawomon juga meminta masyarakat aktif bertanya kepada staf EcoNusa. ”Jangan malas bertanam sayur, jangan jalan ambil orang punya tanaman di kebun. Harus bekerja, harus tanam. Sekarang ada EcoNusa, kalian bisa tanyakan apa yang mau ditanyakan,” kata Moses.  

Di Kampung Waimon, pelatihan pertanian sayuran organik ini membuat masyarakat kembali antusias berkebun. Sebelumnya, EcoNusa telah mendorong pembuatan kebun percontohan (demplot) pertanian.

Baik Pemerintahan Kampung Waimon dan Pemerintahan Kampung Kasimle meminta ada kelanjutan Sekolah Kampung pada 2023 demi kemajuan kampung. “Kegiatan selanjutnya harus ada dan EcoNusa jangan meninggalkan kami begitu saja. Terus dibina pelatihan jaring dan ke depannya ada pelatihan lainnya seperti pelatihan pertanian dan lainnya,” kata Oktana, warga Kampung Waimon.

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2022.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved