EcoStory

Pengelolaan Wisata Berkelanjutan Pantai Hamadi dan Holtekam

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Dari kiri: Kepala Bidang Pemasaran dan Sarana Pariwisata Kota Jayapura, Felson Mambrasar, Kepala Kampung Engros, Distrik Abepura, Orgenes Meraudje, dan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Yapis Papua, Khusnul Khotimah dalam diskusi virtual bertajuk “Pengelolaan Wisata Berkelanjutan di Pantai Hamadi dan Pantai Holtekamp Jayapura” pada Kamis (12/11/2020).

Potensi wisata alam Tanah Papua dapat menciptakan bisnis wisata berkelanjutan yang ramah lingkungan. Menjaga kelestarian hutan, laut, dan kawasan pesisir akan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata. Maka, sekalipun ada investasi ekonomi yang masuk untuk mengembangkan potensi daerah,  kelestarian lingkungan tetap tak boleh diabaikan.

Tanah Papua memiliki banyak tujuan wisata yang indah dan alami, salah satunya seperti di Provinsi Papua. Di sana kita dapat menikmati keindahan kawasan perairan Pantai Base-G, Pantai Holtekamp, Pantai Hamadi, Pantai Ciberi, dan Pantai Yacoba. Pantai Holtekamp dan Pantai Hamadi dihubungkan oleh Jembatan Youtefa, jembatan yang menjadi ikon Kota Jayapura.

Baca juga: Mangrove, Kekayaan atau Kerusakan Ekologi Tak Ternilai?

Kepala Kampung Enggros, Distrik Abepura, Orgenes Meraudje, mengatakan bahwa pengembangan wisata memberikan manfaat perekonomian kepada masyarakat. Orgenes sebagai salah satu pengelola wisata di Pantai Hamadi dan Pantai Holtekamp merasakan dampaknya. Ia membangun pondok penginapan yang berhasil menarik perhatian pengunjung. 

“Dulu kami menjual kelapa untuk mendapatkan penghasilan. Dengan mengembangkan destinasi wisata, kami tidak lagi menjual kelapa sampai hari ini. Ternyata pendapatan cukup bagus di sana,” kata Orgenes dalam diskusi virtual bertajuk “Pengelolaan Wisata Berkelanjutan di Pantai Hamadi dan Pantai Holtekamp Jayapura” pada Kamis (12/11/2020). 

Menurut Orgenes, pantai-pantai tersebut menjadi bagian dari “teras rumah” Kota Jayapura yang harus ditata dengan baik. Pengembangan wisata yang menarik minat wisatawan tak dapat berjalan dengan baik bila kelestarian kawasan perairan tersebut terabaikan. Salah satu masalah krusial adalah pengelolaan sampah yang datang dari kiriman air laut dan aktivitas wisatawan.

Baca juga: Paradigma Keberlanjutan Kunci Penyelamatan Bumi

“Destinasi wisata dari Pantai Ciberi sampai Pantai Holtekamp baru saja berkembang. Kami membutuhkan dukungan pemerintah. Tapi sampai hari ini pemerintah belum siapkan satu tempat untuk menampung sampah. Jadi pengelolaan sampah di sana sifatnya masih manual. Sampah wisatawan kami bakar atau ditanam. Kalau bisa diletakkan bak sampah dan diangkut, maka akan lebih tertib,” ujarnya.

Pengelolaan sampah sejatinya menjadi salah satu aspek penting dalam memasarkan kawasan wisata. Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Yapis Papua, Khusnul Khotimah, mengatakan, setelah masyarakat mengenal dan tertarik untuk datang ke kawasan wisata, mereka dapat bertindak sebagai “agen pemasaran” secara tak langsung. Kepuasan wisatawan sebagai pelanggan akan memicu mereka untuk menceritakan pengalaman tersebut kepada wisatawan lainnya. 

“Jangan sampai wisatawan yang datang tidak puas dengan service excellence. Ini harus kita bangun. Pengalaman wisatawan yang datang itu yang kita tuju agar dia datang kembali. Ini yang terkadang kita lupa,” ucap Khusnul.

Baca juga: Outlook EcoNusa 2021, Fokus Kembangkan Potensi Kampung

Program Associate Pengelolaan Sumber Daya Alam Yayasan EcoNusa, Aloysius Numberi, menghimbau agar pengelolaan kawasan pariwisata memperhitungkan dampak ekologi dan sosial. Kalkulasi ini harus diperhitungkan hingga beberapa tahun ke depan. Sebab, selain sebagai penggerak perekonomian masyarakat dan membantu mendorong sektor ekonomi lainnya, pariwisata memiliki efek negatif yang harus dikelola.

“Pariwisata merupakan kebutuhan manusia yang akan terus tumbuh. Sektor perekonomian ini akan menciptakan peluang kerja dan berkontribusi pada peningkatan ekonomi masyarakat setempat. Tapi jangan sampai lingkungan kita rusak dan budaya kita hilang dipengaruhi wisatawan yang datang,” kata Aloysius.

Editor: Leo Wahyudi & V. Arnila Wulandani

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved