EcoStory

Tanam Sagu, Tanam Masa Depan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
PERJAMPAT menginisiasi penanaman kembali sagu di Kampung Manyaifun, Distrik Waigeo Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Program penanaman kembali ini dilakukan pada lahan seluas satu hektar, dengan dampingan Yayasan EcoNusa.

Sagu miliki nilai khusus bagi masyarakat Papua. Tak hanya untuk kebutuhan pangan, pohon sagu juga dimanfaatkan untuk kebutuhan papan. Pelepah sagu misalnya, digunakan sebagai bahan pembuatan dinding bangunan. Pelepah ini juga menjadi bahan baku pembuatan tikar, yang berfungsi penting dalam sebuah tempat tinggal.

Penggunaan bahan sagu untuk bangunan ini, diterapkan oleh Perkumpulan Penggerak Usaha dan Penghidupan Masyarakat Asli Raja Ampat (PERJAMPAT) pada 114 bangunan penginapan yang mereka kelola di kawasan wisata Raja Ampat.

Mengingat pentingnya keberadaan sagu, PERJAMPAT menginisiasi penanaman kembali sagu di Kampung Manyaifun, Distrik Waigeo Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Program penanaman kembali ini dilakukan pada lahan seluas satu hektar, dengan dampingan Yayasan EcoNusa.

Community Initiative Officer Yayasan EcoNusa Samuel Wospakrik mengatakan, satu penginapan seluas enam kali empat meter membutuhkan 100 hingga 200 batang pohon sagu guna membuat atap. Padahal, satu pohon sagu hanya menghasilkan lima hingga delapan batang pohon. “Selain dari pihak home stay lokal, resort juga pakai daun sagu. Jadi mereka meminta masyarakat ambil daun sagu, mereka bayar,” kata Samuel.

Program penanaman kembali pohon sagu dirancang pada Oktober 2018, proses penanaman berlangsung selama sebulan pada Januari 2019. Selain penanaman bersama di satu lokasi, masyarakat juga membawa bibit sagu untuk ditanam di lingkungan keluarga masing-masing. “Bawa pulang bibit untuk ditanam lagi itu, adalah inisiatif mereka,” jelas Samuel.

Bagi Timotus Membraku, salah satu pengelola penginapan, penanaman kembali pohon sagu merupakan bentuk persiapan bagi generasi berikutnya. Dengan adanya lahan dan pohon sagu yang tumbuh, menurutnya, generasi mendatang dapat mengolah lahan untuk menunjang kehidupan. “Mereka kelola untuk bisa menjadi uang, sehingga hasilnya bisa digunakan untuk membeli kebutuhan keluarga seperti gula dan sabun,” ujarnya.

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved