EcoStory

Ekonomi Sirkular untuk Kurangi Sampah Plastik

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Peserta School of Eco Diplomacy Kewang Muda Maluku membersihkan sampah plastik di Pulau Nailaka, Kepulauan Banda Neira, Provinsi Maluku. (Yayasan EcoNusa/Lutfy Mairizal Putra)

Plastik seolah telah menjadi kebutuhan pokok yang tak terelakkan bagi setiap individu di seluruh dunia. Namun pertanyaannya, apakah penggunaan plastik sudah dilakukan dengan bijak oleh setiap individu tersebut? Sampah plastik merupakan salah satu polutan terbesar di dunia. Artinya, sebagian besar sampah-sampah plastik ini tidak terkelola dengan baik dan terbuang sia-sia tanpa didaur ulang kembali. Hal ini bisa menjadi bom waktu yang dapat membahayakan alam dan manusia sewaktu-waktu.

Mengutip hasil penelitian J. Jambeck, Indonesia merupakan penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Hal tersebut akibat dari rendahnya pengelolaan sampah plastik oleh masyarakat dan tingginya produksi  kemasan plastik sekali pakai. Ironisnya, Indonesia dan Tiongkok merupakan negara pengguna produk plastik terbesar, meskipun menjadi penghasil sampah plastik terbesar. 

Riset J Jambeck memaparkan bahwa di negara Amerika Serikat, penggunaan produk atau kemasan plastik rata-rata 38 juta kilogram per hari. Namun demikian, negara ini berhasil dalam manajemen sampah plastik sehingga angka sampah plastik yang tak terkelola (mismanaged plastic waste) sangat rendah. Berbeda dengan Tiongkok dan Indonesia. Sebagai ‘juara’ satu dan dua negara dengan sampah plastik terbesar di dunia, sebetulnya penggunaan plastik di kedua negara ini lebih rendah daripada Amerika Serikat. Penggunaan plastik di Tiongkok 32 juta kilogram per hari. Sayangnya, sampah plastik yang tak bisa dikelola di negara ini mencapai 24 juta kg per hari. Begitu juga Indonesia, meski penggunaan plastik hanya 11 juta kilogram per hari, jumlah sampah tak terkelola dengan baik mencapai 9 juta kilogram per hari.

Sedangkan menurut data Sustainable Waste Indonesia (SWI), produksi sampah plastik di Indonesia mencapai 5,6 juta ton/tahun. Namun, sampah plastik yang terdaur ulang kurang dari 10%. Lebih dari 50% sampah plastik tetap berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Jika hal ini terus berlanjut, maka TPA semakin lama akan melebihi kapasitas maksimum. 

Rendahnya pengelolaan sampah di Indonesia memicu sampah-sampah plastik berakhir di lautan dan mencemari ekosistem laut.  Menurut KLHK, 80% sampah yang mencemari laut memang bersumber dari sampah daratan. Artinya, besar kemungkinan sampah laut berasal dari sampah-sampah tak terdaur ulang.  

Persoalan sampah tak terkelola, terutama sampah plastik ini, akan membawa dampak lanjutan yang signifikan terhadap lingkungan. Persoalan ini memicu perubahan iklim akibat pencemaran udara karena bau menyengat yang ditimbulkan atau sampah yang dibakar. Selain itu, hal ini bisa mengganggu ekosistem laut karena sampah-sampah plastik yang terendam di lautan menimbulkan bau mirip makanan bagi hewan laut. Jika sampah plastik termakan hewan-hewan laut, kandungan plastik akan meracuni hewan-hewan laut ini. Sebagai dampak selanjutnya, jika hewan-hewan laut tercemar ini dikonsumsi manusia, mikroplastik (plastik yang telah menjadi bagian amat kecil) yang terkandung dalam hewan laut ini dapat membahayakan manusia.

Menurut Dian Kurniawati, narasumber Akademi Salam dan CEO Tridi Oasis, untuk dapat mengurangi produksi sampah maka pola pikir masyarakat perlu diubah dari ekonomi linear menjadi ekonomi sirkular. “Dalam ekonomi linear seperti saat ini, sampah terus bertambah karena yang dilakukan hanyalah mengambil sumber daya alam, lalu dibuatlah suatu produk dan hanya dipakai sekali saja setelah itu dibuang. Hal tersebut akan berdampak pada lingkungan dan manusia akan kekurangan sumber daya alam,” ujarnya pada Kelas Belajar EcoYouth School of EcoDiplomacy, “Ubah Sampah Jadi Berkah” yang digelar virtual pada 17/04/2021.

Dengan menerapkan pola pikir ekonomi sirkular maka akan mengurangi produksi sampah dan juga menjaga sumber daya alam tetap utuh. “Kita ambil sumber daya alam secukupnya lalu kita buat suatu produk. Setelah dipakai, kita daur ulang kembali menjadi produk baru. Jadi kita tidak perlu mengambil lagi sumber daya yang baru,” lanjut Dian.

Senada dengan Dian, Magafira Ali, Ketua Yayasan Cahaya Samudera Indonesia, menjelaskan bahwa pola pikir masyarakat memang perlu diubah bahwa sampah bisa menjadi suatu yang bernilai ekonomis jika dikelola dengan benar. “Sampah itu dianggap oleh masyarakat hanya bisa dibuang atau dibakar. Namun bagi kami, jika diolah dengan benar, sampah plastik bisa dibuat menjadi BBM atau minyak tanah,” ucap Magafira. 

Menurut Magafira, beberapa jenis sampah plastik yang tidak bisa diolah menjadi BBM dapat diolah menjadi kerajinan. Dengan begitu masyarakat bisa mendapatkan penghasilan dari sampah plastik sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan. “Yang lebih utama untuk saat ini adalah bagaimana mengubah mental anak muda dan juga orang tua untuk mendaur ulang sampah plastik agar dapat dipakai kembali,” lanjut Magafira.

Pengelola Bank Sampah Sorong Raya, Virly Yuriken, menambahkan, “Ketika bicara mengenai pengelolaan sampah, artinya kita turut memberi jaminan bagi pariwisata berkelanjutan. Sebab nilai ekonomis yang didapat dari pengelolaan sampah akan jauh lebih besar ketika lingkungan tersebut sampahnya dikelola dengan baik.” Dalam menanggulangi permasalahan sampah, sangat diperlukan keterlibatan pemerintah agar pemerintah tahu bahwa masyarakat memiliki inisiatif dalam menanggulangi sampah yang wajib dibantu pemerintah.

Editor: V. Arnila Wulandani

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved