EcoStory

Catatan Perjalanan: Pengalaman Mengikuti Kuliah Pengabdian Masyarakat Relawan Hutan Merdeka

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Salah satu peserta Kuliah Pengabdian Masyarakat Relawan Hutan Merdeka bersama masyarakat Distrik Konda, Sorong Selatan. Dalam kegiatan KPM tersebut, para mahasiswa memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan nilai komoditas kepada masyarakat. (Yayasan EcoNusa/Arfan Sulaiman)

Saya Nurmas Jihad Fahrurrozi, mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong. Saat saya membuat tulisan ini, saya sedang melaksanakan kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Relawan Hutan Merdeka yang bekerjasama dengan Yayasan EcoNusa. Kuliah ini berlangsung pada 12 September – 26 Oktober 2021.

Saya ditempatkan di Kampung Wamargege, Distrik Konda, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat, bersama sembilan teman mahasiswa lainnya. Kebetulan, saya menjadi ketua tim kelompok ini. Saya ingin berkisah sedikit tentang pengalaman saya mengikuti kuliah pengabdian masyarakat tersebut.

Pada mulanya, saya dan perwakilan tim KPM bersama dosen pembimbing lapangan telah melaksanakan survei awal untuk melihat lokasi KPM. Semula kami berpikir akan ditempatkan di lokasi tersebut. Namun saat hari pelaksanaan KPM, ternyata tempat yang akan kami jadikan posko bukan tempat survei pertama. Untunglah saya dan tim merasa nyaman di tempat baru itu.

Baca Juga: Kuliah Pengabdian Masyarakat Hutan Merdeka, Jembatan antara Masyarakat Adat dan Pemerintah Daerah

Dua hari setelah penerjunan, kami dan dosen pembimbing lapangan melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat kampung yang dituju, yakni Kampung Konda dan Kampung Wamargege yang terletak di pesisir Sorong Selatan. Kedua kampung ini menarik. Meski bertetangga, namun masyarakatnya sulit disatukan. Salah satu alasannya karena malu. Menurut salah seorang masyarakat, jika diadakan pertemuan yang melibatkan dua kampung, maka yang mampu berbicara di depan umum sajalah yang akan tetap terus melanjutkan pertemuan. Sedangkan sebagian masyarakat lain yang merasa minder akan pulang dan meninggalkan lokasi pertemuan.

Meski demikian, mereka sangat baik dan memiliki semangat gotong royong. Ketika kami membuat pagar di depan posko, masyarakat Kampung Wamargege dengan sukarela membantu kami membuat pagar dan para-para. Begitu pun saat kami membuat media tanam. Sepertinya mereka ingin bangkit dari ketertinggalan dan keterbelakangan.

Di Kampung Konda pun demikian. Ketika saya dan tim mencari tanah dan kayu guna pembuatan media tanam, baik yang tua maupun yang muda ikut membantu mencari tanah dari kebun Kepala Kampung Konda. Kami juga membuat media tanam dari bekas sarang burung maleo. Waktu kami mencari beberapa kebutuhan program seperti kayu, buah mangrove, dan kelapa di pulau, masyarakat pun membantu menunjukan lokasinya.

Baca Juga: Minyak Lawang, Potensi Tersembunyi di Boven Digoel

Ada pengalaman yang sangat berkesan dan sulit kami lupakan saat kami mencari buah kelapa di salah satu pulau. Ketika itu air laut sedang surut. Perahu kami tidak bisa bergerak karena tertanam di lumpur bakau. Akhirnya kami berusaha berjalan, tapi kaki kami pun melesak ke dalam lumpur. Kami kesulitan bergerak karena dalamnya mencapai lutut, bahkan sepinggang. Kami terjebak!

Tapi kami tidak menyerah. Kami tetap berupaya sekuat tenaga agar dapat keluar dari jebakan lumpur bakau itu. Pelan-pelan, kami berusaha berjalan sambil mendorong perahu. Akhirnya, kami bisa keluar setelah mendorong perahu sekitar 100 meter. Ini merupakan pengalaman kami yang luar biasa!

Beberapa minggu sebelumnya, saya dan tim  diundang untuk menghadiri acara adat Pondok Daun dari suku besar Yaben di Kampung Wamargege. Kami dijamu dengan luar biasa oleh tuan rumah dengan suguhan berbahan dasar sagu. Peralatan makannya menarik karena berasal dari alam. Mereka menggunakan pelepah sagu sebagai piring atau mangkuk, bambu sebagai gelas dan wadah air, dan banyak lagi peralatan makan yang berasal dari alam yang dipakai pada acara tersebut.

Baca Juga: Suara Kaum Muda di COP 26 dan Indonesia untuk Melawan Krisis Iklim

Acara itu dilaksanakan setiap tahun sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan hasil panen sagu yang diperoleh oleh masyarakat Suku Yaben. Sungguh luar biasa khasanah budaya yang terdapat di Kampung Wamargege, khususnya Suku Yaben.

Dengan KPM ini, kami berharap adik-adik yang akan meneruskan KPM di sini memiliki ide-ide yang lebih kreatif dan inovatif. Mahasiswa diharapkan dapat memajukan masyarakat secara berkesinambungan, serta mampu menggerakan tim agar program berjalan dengan baik.

Inilah pengalaman KPM yang dapat saya bagikan. Semoga ke depan bisa lebih baik lagi. Salam. 

Editor: FX. Adi Saputra, Nur Alfiyah, Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved