EcoStory

Minyak Lawang, Potensi Tersembunyi di Boven Digoel

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Minyak Lawang KOUH diproduksi di Distrik Kouh, Kabupaten Boven Digoel, Papua. Minyak lawang ini diproses dengan penyulingan tradisional. (Yayasan EcoNusa/Nur Alfiyah)

Wangi rempah tercium dari sekitar dandang besar yang tingginya setara orang dewasa di Kampung Mandobo, Distrik Kouh, Boven Digoel, Papua. Di penutup dandang itu tersambung pipa kecil yang meneteskan cairan bening beraroma wangi. Cairan bening hasil penyulingan itu ditampung di sebuah periuk. “Kami sedang menyuling kulit kayu lawang untuk diambil minyaknya. Kami sudah menjual minyak lawang yang kami hasilkan di PON (Pekan Olahraga Nasional) Papua,” kata Fayaho Wanimba, Ketua Kelompok Penyulingan Minyak Fina Fenandi, Rabu, 24 November 2021.

Fayaho kemudian menunjuk botol-botol kaca yang berisi cairan kekuningan di meja. Menurut Fayaho, isinya adalah minyak hasil penyulingan yang dikumpulkan selama beberapa hari dan telah ditapis. Butuh waktu seminggu agar minyak hasil sulingan tersebut mengendap dan terpisah dari air. “Minyak lawang ini lebih berat dari minyak yang lain. Kalau yang lain airnya di bawah, minyaknya di atas. Kalau minyak lawang, airnya yang di atas, minyaknya di bawah,” ujar Fayaho.

Baca Juga: Abon Wambon, Oleh-oleh Baru dari Boven Digoel

Minyak lawang adalah obat luar yang dihasilkan dari kandungan minyak pada kulit kayu lawang (Cinnamomum culilawang). Minyak tersebut antara lain berkhasiat untuk meredakan rematik, pegal-pegal, asam urat, mempercepat penyembuhan luka luar, sakit perut, dan keseleo. Kelompok Fina Fenandi mendapatkan pohon lawang dari sekitar hutan di Distrik Kouh. Mereka mengambil kayu dengan diameter 20-30 centimeter. Kulit kayu tersebut diambil, kemudian dicacah dengan palu. Hasil cacahan yang masih sangat kasar tersebut dicincang kembali dengan mesin pencacah. Setelah hancur, kulit kayu tersebut kemudian dikeringkan untuk mengurangi kadar airnya. Baru kemudian disuling secara tradisional.         

Sudah tiga tahun belakangan, kelompok Fina Fenandi memproduksi minyak tersebut. Fina Fenandi memiliki 15 orang anggota kelompok yang semuanya tinggal di Distrik Kouh. Di distrik tersebut terdapat tiga suku dan tiga kampung, yakni Suku Mandobo, Suku Wanggom, dan Suku Awyu, serta Kampung Kouh, Kampung Mandopo, dan Kampung Jaer. “Dalam bahasa Suku Kombai dan Suku Wanggom, Fina Fenandi artinya satu pikiran dan satu pendapat,” kata Fayaho.

Baca Juga: Sekolah Kampung Samb Kai, Membangun Ketahanan Kampung di Merauke

Kelompok Masyarakat Fina Fenandi yang memproduksi Minyak Lawang KOUH. (Yayasan EcoNusa/Roberto Yekwam)

Sejak tahun lalu, Kelompok Masyarakat Fina Fenandi dibina oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) LIII Kabupaten Boven Digoel, salah satu Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di bawah Dinas Kehutanan Provinsi Papua, dan didukung oleh Yayasan EcoNusa. Menurut Ketua KPHP Boven Digoel, Ade John Moesieri, pembuatan minyak lawang tersebut memang inisiatif Kelompok Fina Fenandi sendiri. 

Fayaho dan kawan-kawannya sangat menyadari potensi alam yang ada di sekitar Boven Digoel. Mereka sudah mendatangi beberapa instansi lain dan mengirimkan contoh minyak produksi mereka, namun belum ada hasil. Sampai akhirnya mereka mendatangi KPHP untuk meminta binaan. “Boven Digoel punya hutan besar dan hasilnya besar, tapi belum dikelola secara optimal. Kami berusaha melakukan pendampingan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata John.

Baca Juga: Charlie Heatubun: Hutan Adalah Tempat yang Tak Tergantikan

KPHP membawa minyak hasil produksi mereka di perhelatan PON XX yang diselenggarakan di Papua pada 2-15 Oktober 2021. Ada sekitar 170 botol ukuran 10 mililiter dan 30 mililiter yang dibawa ke Merauke dan Jayapura yang habis terjual. “Kami lihat ini peluang pasar menjanjikan,” kata John. Untuk mengembangkan produksi minyak tersebut, KPHP sedang mengupayakan pembangunan rumah produksi untuk mendapatkan izin edar yang disyaratkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).  

Kelompok Fina Fenandi terus belajar untuk meningkatkan keahlian mereka. Menurut Fayaho, mereka akan mempraktikan pengambilan kulit kayu sebagai bahan baku minyak tanpa menebang pohonnya. Mereka cukup mengikis sebagian kulit kayu yang dibutuhkan dan membiarkannya kulit kayu baru tumbuh kembali. Mereka juga berencana membudidayakan pohon lawang tersebut agar tetap lestari. “Sehingga kami tidak merusak hutan yang ada,” katanya. 

Baca Juga: Econovation: Inovasi Bisnis yang Mengubah Ketimpangan Menjadi Peluang

Manajer Komunikasi Strategis Yayasan EcoNusa, Nina Nuraisyah, mengatakan EcoNusa mendukung segala praktik baik yang dilakukan. Ia memuji kelompok Fina Fenandi yang terus belajar untuk mengelola hasil hutan tanpa merusaknya. “EcoNusa selalu mendukung upaya apa pun yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan dan menjaga kelestarian hutan,” ujarnya. 

Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved