EcoStory

Catatan Perjalanan: Membangkitkan Kembali Kemandirian Pulau Bacan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Pesisir Sali, Bacan, Maluku Utara (Dok. EcoNusa/Kei Miyamoto)

Minggu, 25 Oktober 2020, pukul 20.15, kami tiba di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku. Kami akan bermalam di dekat pelabuhan Babang. Rencananya esok hari, pukul 4.30 subuh kami bertolak ke pulau Sali Kecil, Bacan Timur,  yang masih dalam gugusan kepulauan Bacan.

Bacan adalah sebuah kesultanan tersendiri dan merupakan ibukota Kabupaten Halmahera Selatan. Kepulauan ini terkenal dengan batu Bacan. Batu mulia paling digemari dan berharga tinggi ketika orang tergila-gila dengan batu akik. Pulau Bacan pada masa jayanya menghasilkan gula tebu sendiri karena di sana ada pabrik gula tebu dan perkebunannya. Di pulau ini juga terdapat pengolahan karet dan kebun karet. Boleh dikata, Bacan adalah salah satu pulau yang dapat menghidupi dirinya sendiri kala itu. 

Namun sekarang Bacan mendatangkan gula dari luar pulau bahkan dari luar provinsi. Hampir semua bahan pokok kebutuhan masyarakat didatangkan dari luar pulau. Padahal dahulu pulau ini sanggup menyediakan sebagian besar kebutuhannya sendiri. “Penundukan” kepulauan Indonesia terutama wilayah timur dilakukan dengan politik pangan yang membuat warga pulau bergantung pada pangan dari luar sehingga gampang dimainkan. Ini adalah pola penundukan sistematis yang terasa sangat biasa-biasa saja. Seharusnya Bacan bisa mandiri dalam mencukupi kebutuhan pangan. Warga harus dibangkitkan kesadarannya bahwa produksi pangan lokal adalah sebuah keharusan agar tidak tergantung sumber pangan dari luar pulau.

Setelah bermalam di pelabuhan Babang di Pulau Bacan kami tiba di Pulau Sali Kecil. Ada sebuah kampung “tua” yang berdampingan dengan resort mewah yang pernah ditentang warga. Pulau Sali Kecil adalah pulau yang dikeramatkan bagi sebagian warga kepulauan Maluku Utara. Hal ini yang membuat warga sempat menolak pembangunan  resort mewah milik orang asing. 

Dalam kasus ini, toh tidak semua warga menolak. Lagi-lagi di sini terlihat jelas bahwa kepentingan investasi luar selalu membuat warga terpecah. Parahnya,  proses ini kemudian tetap dimenangkan oleh penguasa dan pengusaha. Hampir semua warga Kampung Sali Kecil adalah nelayan dan petani. Laut mereka kaya ikan. Pulau mereka dipenuhi kelapa dan tanaman rempah lainnya seperti pala dan cengkeh.  

Terdapat makam keramat di Pulau Sali Kecil, yang terletak di tengah kampung. Warga mengatakan ada banyak orang datang berziarah ke makam tersebut untuk “meminta” sesuatu. Ada banyak yang datang ketika mendekati pemilihan kepala daerah. da pula yang datang ketika ingin naik pangkat dan bermacam kepentingan lainnya. Pulau Sali Kecil adalah salah satu pulau penting di Maluku Utara. Sayangnya tidak banyak terdengar oleh orang luar di negeri ini.

Dari pagi  kami melakukan pelayanan kesehatan. Kampung ini hanya ada 1 orang bidan dan 1 orang kader kesehatan. Kegiatan selesai pukul 15.00. Kami lalu mendokumentasikan penghidupan masyarakat dan memberikan dukungan sarana pertanian untuk ketahanan pangan. Semua anggota tim kembali ke kapal untuk mempersiapkan perjalanan selanjutnya. 

Mesin kapal mulai dinyalakan, tetapi kapal belum bisa bergerak. Ternyata jangkar yang dipasang  di kedalaman 150 meter rupanya tersangkut sesuatu. Hampir 2 jam kapal kami berusaha mengangkat jangkar, namun tetap tidak berhasil. khirnya tali berhasil ditarik, tapi jangkar yang beratnya hampir 150 kg tidak berhasil terangkat. Tali yang mengikat jangkar tersebut terputus. Kami harus merelakan jangkar tersebut dan melanjutkan perjalanan ke lokasi selanjutnya.

Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved