EcoStory

Baru Sebagian Masyarakat yang Paham Meski Krisis Iklim Mengancam

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Salah satu kampung di pesisir Raja Ampat, Papua Barat. Pemanasan global membuat kampung-kampung di pesisir terancam tenggelam. (Yayasan EcoNusa)

Pemanasan global dan perubahan iklim menjadi salah satu ancaman yang kini dihadapi oleh seluruh penduduk dunia, termasuk Indonesia. Laporan Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) yang beranggotakan 195 negara menyebutkan bahwa suhu bumi telah meningkat 1,1 derajat Celcius sejak abad 19. Apabila tidak ada penanganan serius, diperkirakan 20 tahun lagi, suhu bumi akan naik hingga 1,5 derajat Celcius. Kenaikan suhu bumi tersebut, antara lain, berdampak pada meningkatnya bencana alam, berkurangnya ketersediaan pangan, dan masalah kesehatan.

Ironisnya, hanya sebagian orang yang tahu tentang kondisi tersebut. Hasil survei yang dilakukan oleh lembaga survei Indopol Survey and Consulting tentang Persepsi Publik terhadap Isu Perubahan Iklim dan Dinamika Politik Elektoral Menjelang Pemilu 2024 menyimpulkan bahwa hanya 6,59 persen saja responden yang khawatir terhadap perubahan iklim. Kecilnya angka kekhawatiran publik terhadap isu perubahan iklim disebabkan oleh rendahnya pengetahuan publik tentang isu tersebut. 

“Hanya sebesar 30,24 persen yang tahu. Sisanya tidak tahu dan belum bersikap,” kata Direktur Eksekutif Indopol, Ratno Sulistiyanto, dalam acara Diskusi Santai tentang Krisis Iklim dan Resiliensi Masyarakat Pesisir Indonesia, Suara Anak Muda untuk Perubahan yang diadakan oleh EcoNusa dan Indopol Survey, pada Minggu, 9 Januari 2022.

Read Also: Ancaman Kerajaan Ikan di Kaimana

Survei tersebut dilakukan oleh Indopol pada 19-27 November 2021. Data diambil dari instrumen kuesioner dengan 1.230 responden dengan margin error ±2,8 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen (Slovin). Responden diambil dengan kriteria berumur 17 tahun atau sudah menikah dan sampel diambil dengan cara multistage random sampling di mana jumlah responden tiap provinsi diambil secara proporsional berdasarkan Proyeksi Jumlah Penduduk Indonesia Tahun 2020 (BPS RI 2020). 

Fakta ini rupanya berbeda dengan hasil Survei Indonesians & Climate Change yang diadakan oleh Purpose Climate Lab pada 2021. Survey ini melibatkan 2.073 responden dari 27 wilayah perkotaan dan pedesaan di Indonesia. Ternyata 85 persen orang yang mengatakan bahwa isu iklim penting bagi kehidupan mereka, dan bisa memberi dampak buruk secara langsung pada diri mereka sendiri (66 persen) dan generasi mendatang (74 persen).

Hasil survei tersebut hampir sama dengan Lembaga survei Indikator Politik Indonesia bersama Yayasan Indonesia CERAH pada 6 – 16 September 2021 juga menyimpulkan bahwa 82 persen responden mengetahui atau pernah mendengar istilah perubahan iklim. Dari 4.020 responden, ada 82 persen responden juga mengaku khawatir terhadap isu lingkungan hidup. Artinya, meski ada yang belum sadar tentang perubahan iklim, toh masih banyak yang sudah menyadari akan dampak buruknya terhadap lingkungan dan generasi berikut.

Read Also: Habis COP 26, Terus Kita Mau Apa?

Melihat hasil survey tersebut, Manager Program Kelautan EcoNusa, Wiro Wirandi, mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan akan sangat merasakan dampak perubahan iklim tersebut. “Ketika suhu menjadi panas, es kutub akan mencair sehingga volume air laut akan naik dan berdampak kepada masyarakat yang tinggal di pesisir,” ujarnya.  

Faktanya, dampak kenaikan muka air laut tersebut sudah dirasakan oleh masyarakat pesisir menurut Deputi Eksternal Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Edo Rakhman. Akibat naiknya permukaan air laut, sekitar 1 hektare tanah hilang setiap tahun di sepanjang kawasan pesisir Demak, Jawa Tengah. Kondisi ini sudah membuat 4 desa di Demak tenggelam. 

Cuaca yang tidak menentu dan gelombang ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim juga membuat ekonomi nelayan makin sulit. Karena mereka hanya bisa melaut selama 6 bulan dalam setahun. Sedangkan 6 bulan sisanya, mereka harus alih profesi menjadi kuli kasar atau pedagang asongan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Jika mereka tetap melaut saat cuaca buruk, taruhannya adalah nyawa. “Rata-rata 100 nelayan hilang atau meninggal di laut setiap tahun akibat melaut pada saat cuaca buruk,” kata Edo.  

Read Also: Manifestasi Sumpah Pemuda, Ribuan Pemuda Terjun dalam Aksi Muda Jaga Iklim

Kondisi akan makin memburuk jika krisis iklim tidak ditangani. Menurut Edo, pada 2050 diperkirakan sebanyak 199 kabupaten dan kota di pesisir Indonesia akan mengalami banjir rob tahunan dan sekitar 118.000 hektare wilayah akan terendam air laut. Bencana ini akan mengancam 23 juta penduduk Indonesia, dengan kerugian negara diperkirakan mencapai  Rp 1.576 triliun.

Dampak perubahan iklim juga sudah terjadi di pulau-pulau kecil di Provinsi Maluku. Koordinator Moluccas Coastal Care (MCC), Teria Salhuteru, memperlihatkan video ketika Pulau Banda diterjang angin kencang pada akhir tahun lalu. Tingginya gelombang yang disebabkan oleh angin tersebut membuat nelayan urung melaut. Ia pun memperlihatkan kenaikan muka air laut di Ambon setelah mangrove di kota tersebut ditebang untuk membangun kafe. “Secara ekonomi pembangunan itu oke, tapi tidak melihat dampak yang terjadi,” katanya.  Ia menambahkan, “Orang luar kalau lihat Banda itu wah. Tapi sebenarnya rapuh, masyarakat tidak tahu tentang yang terjadi di lingkungan mereka.”

Menurut Ratno, agar permasalahan perubahan iklim tersebut lebih banyak diketahui oleh publik, para pemangku kepentingan di bidang lingkungan perlu melakukan sosialisasi dan kampanye terkait hal ini. “Sehingga masyarakat umum sadar arti penting dampak perubahan iklim di masa depan nanti,” ujarnya dalam diskusi yang dihadiri oleh perwakilan komunitas peduli lingkungan, akademisi, dan mahasiswa tersebut. 

Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved