EcoStory

Anak Muda Papua Punya Cerita

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Raden Lukman, salah satu pembicara MaCe Papua tengah membangi pengalamannya dalam acara Mari Cerita (MaCe) Papua “Sa Cinta Ko” di GoWork Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (27/2/2019)

“Saya bangga sebagai anak Papua, hatinya paling mencintai. Kita ditegur duluan, kita anggap dia sebagai saudara, om, tante,” tutur Michael Jakarimilena dalam acara diskusi MaCe Papua pagi tadi, Rabu 27 Februari 2019 di Jakarta Pusat.

“Anak-anak Papua itu transparan, tidak sembunyikan apa-apa. Anak Papua juga mau menerima orang apa adanya. Satu isi Papua dia bisa kasih.” Michael bercerita bahwa dulu yang biasa menjadi cita-cita anak Papua adalah menjadi PNS atau pemain bola. “Dulu cita-cita saya ingin menjadi pemain Persipura. Itu impian setiap anak laki di Papua.”

“Puji Tuhan saya bisa jadi salah satu yang menginspirasi teman-teman. Saya merasa punya tanggung jawab, kenapa saya jadi entertainer supaya saya bisa kasih inspirasi,” lanjut Michael.

Sementara pembicara lainnya dalam acara Mace Papua ini, Raden Lukman, mengatakan, “Saya punya impian cuma satu. Saya ingin sekolah di kota besar. Kita sudah sangat bahagia dengan main kelereng, main di pantai. Lalu melihat game seperti di Timezone, saya katakan ke Papa Mama saya, saya mau setiap hari ke mall,” cerita Raden, yang akhirnya berkuliah di Jogja, jauh dari Sorong kota kelahirannya.

Lulus dari UGM jurusan Teknik Geodesi, Raden menyelesaikan bukunya “Kukenalkan Papuaku” bersamaan dengan skripsinya, pada tahun 2018. Raden melihat pendidikan di Papua selama ini tidak mendapat kesempatan yang sama, “Kalau kita bicara akademik, bukan karena kita terbelakang, tapi kita hanya kurang pada start.” Ia melanjutkan, “Pendidikan di Papua itu pada prinsipnya bukan berbeda dengan daerah lain. Mungkin karena akses.”

Sementara Lisa Duwiry yang juga menjadi pembicara dalam Mace Papua mengatakan, “Hal yang paling urgent, berdasar pengalaman bagi saya, adalah pendidikan.” Lisa melihat, “Pelajaran sama, tapi kok ketinggalan. Angka buta huruf di Papua paling tinggi. Dan misalnya anak Papua ke Semarang, pelajaran sama, tapi pelajar baru dari Papua harus ikut kelas adaptasi.”

Tiga pembicara yang menjadi tamu dalam acara Mace Papua ini adalah orang-orang muda Papua yang menceritakan tentang pengalaman dan harapan-harapan mereka untuk Papua.

Michael Jakarimilena adalah musisi alumni Indonesia Idol 2004, Michael masuk 5 besar Indonesia Idol Season 1 tersebut. Raden Lukman, 21 tahun, lahir dan besar di Sorong. Orangtuanya berasal dari Banten dan Jakarta, tapi sudah puluhan tahun menetap di Sorong. Sedangkan Lisa Duwiry adalah seorang aktivis muda yang menggunakan media sosial untuk menggerakkan publik untuk kampanye kemanusiaannya di Korowai.

Lisa mengingatkan bahwa, “Di Papua, 34-40% anak masih buta huruf. Ini tertinggi di Indonesia. Gurunya tidak ada. Akhirnya kita secara mandiri membiayai satu guru untuk mau mengajar di pedalaman.” Lisa mendorong dukungan publik lewat tagar Twitter #UntukKorowai dan juga #KalepinKorowai yang dipicu pengalaman satu anak bernama Kalepin yang terbuang dari komunitasnya. Terinspirasi dari anak ini, Lisa membantu anak-anak dari Korowai yang bernasib sama. “Kami akan buat satu bangunan asrama dan sekolah.”

Michael menambahkan, “Masih sangat dibutuhkan guru di Papua.” Michael dan istrinya membuat program homeschooling (IG @eduforpapua) yang dijalankan setelah jam sekolah. Pengajarnya termasuk mahasiswa Universitas Cenderawasih.

Raden juga mengiyakan bahwa, “Kita kekurangan guru di Papua. Anak-anak itu waktu jam sekolah , mereka lari-lari di rumahnya. Daerah KKN saya di Kais, pedalaman Kabupaten Sorong Selatan. Tenaga pendidikan itu paling kurang.”

Tidak sedikit anak muda Papua yang memiliki kesempatan merantau ke Pulau Jawa untuk menempuh pendidikan maupun berkarier. Banyak dari mereka yang berprestasi dan mau membangun Tanah Papua melalui talenta yang dimiiki.

Saat ini Raden bersama seorang kawannya sedang mengembangkan aplikasi bernama Jelajah Sorong. Aplikasi ini memudahkan pengunjung Sorong untuk menyesuaikan pilihan perjalanan dengan bujet mereka, dengan basis masyarakat lokal. Raden juga mengatakan bahwa ia ingin pulang ke Sorong, “Saya ingin jadi disainer tata kota yang berdasar geospasial.”

Lisa menambahkan bahwa ada hal sederhana yang bisa dilakukan untuk membangun masyarakat, “Dengan modal kuota internet saja, kita bisa manfaatkan potensi sosial media yang tidak ada batasnya. Buat tujuan baik. Jadi bukan buat senang-senang saja. Dengan menggaungkan hashtag kita sudah bisa ajak orang. Ketika orang tertarik dengan apa yang kita ajak, dari situ akan muncul aksi-aksi. Seperti gerakan untuk Korowai, saya mulai dari satu tweet saja.”

“Papua tidak hanya dibangun oleh materi, membangun papua dengan hati,” Raden meyakinkan pendengar diskusi Mace Papua.

Saat ditanyakan harapannya untuk Papua oleh Raditya Harda yang memandu acara Mace Papua ini, Michael menyatakan: “Papua sejahtera. Manusianya. Anak-anak Papua super kreatifnya bukan main.” Dengan penuh semangat, Michael menambahkan, “Kebangkitan musik hip hop nanti dari Papua.”

“Kita dilahirkan di Papua karena suatu alasan. Kita punya tanggung jawab besar untuk melindungi. Papua itu miniaturnya Indonesia, karena dia punya hati yang terbuka bagi semua orang,” kata Michael.

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved