EcoStory

Adit Insomnia dan Safira Umm Dukung Pelestarian Hutan Lewat Musik

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Pewara Adit Insomnia dan Safira Umm berpose usai memandu jalannya konser Rockin’ Paradise. (Yayasan EcoNusa/@highiso)

Pewara Adit Insomnia dan Safira Umm memiliki alasan tersendiri dalam setiap acara yang mereka pimpin. Keduanya ingin terlibat menjadi bagian perubahan, termasuk isu lingkungan di timur Indonesia. Melalui konser musik Rockin’ Paradise, mereka terlibat dalam kampanye perlindungan hutan di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku, benteng terakhir hutan tropis Indonesia.

“Saya punya concern terhadap timur Indonesia, punya tempat spesial di hati saya, terutama alamnya. Saya gak kebayang kalau rumah saudara-saudara saya yang ada di sana itu rusak,” kata Safira Umm kepada EcoNusa.

Safira menuturkan, hutan di timur Indonesia telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat. Kebudayaan masyarakat terbentuk dan berkaitan erat dengan hutan. Pangan, sandang, dan papan bersumber dari hutan. Tak ayal lagi bila masyarakat di Tanah Papua menyebut hutan sebagai “mama yang memberi kehidupan”.

Baca juga: Gegara Media Sosial, Marcello Tahitoe Ogah Pakai Plastik Sekali Pakai

Sayangnya, hutan tak terlepas dari ancaman. Alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, tambang, pembangunan infrastruktur, dan perumahan membuat tutupan hutan berkurang. Oleh karena itu, bagi Adit Insomnia, perlindungan hutan dan sumber daya alam lainnya wajib disuarakan.

Menurut pemilik nama Aditya Fadila ini tak semua orang memiliki kesempatan langsung melindungi hutan, terutama bagi masyarakat yang hidup di wilayah urban. Bagi Adit Insomnia, musik adalah salah satu medium mengkampanyekan perlindungan hutan yang dapat menjangkau berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda.

“Kita harus suarakan perlindungan sumber daya alam seperti perlindungan hutan lewat musik. Apalagi kita belum berbuat banyak untuk lingkungan. Hutan kita sudah hampir habis. Karena saya gak bisa langsung ke hutan jadi saya ambil aksi ini,” ujar Adit Insomnia.

Baca juga: Pamungkas: Kita Butuh Alam

Safira dan Adit Insomnia mulai gerakan perubahan mereka dari lingkup terkecil di sekitar mereka yakni diri sendiri dan keluarga. Mereka tak lagi menggunakan kantong plastik sekali pakai. Alat makan yang terbuat dari kayu dan besi anti karat selalu menjadi barang yang wajib mereka bawa. Kesadaran lingkungan ini juga berpengaruh hingga ke dapur dan lemari pakaian.

“Tidak masak yang berlebihan di rumah supaya tidak menghasilkan sampah makanan. Kurangi membeli pakaian. Kalau berbelanja daring itu sampah plastiknya banyak. Saya juga mengunduh aplikasi yang bisa mengukur berapa emisi yang dikeluarkan,” kata Safira.

Terkait pengelolaan sampah, Adit Insomnia terinspirasi manajemen sampah festival musik Fuji Rock Festival. Selama dua tahun terakhir, Adit Insomnia rutin menyaksikan konser di sana. Ia terkesan panitia dan penonton konser memiliki kesadaran yang tinggi dalam mengelola sampah. Menurut Adit Insomnia, masyarakat dan penggemar musik patut mencontoh pengelolaan sampah di Fuji Rock Festival.

Baca juga: Izin Sawit Bermasalah, Warga Merasa Kena Tipu

“Tutup botol air mineral, botol, dan label, dibuang di tempat terpisah. Hampir gak ada sampah. Penontonnya sadar banget kalau sampah itu gak baik,” ungkapnya.

Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved