Maluku Expedition: Marine Debris and Covid Response
 07 November 2020 - 18 November 2020
 Maluku
Ended
Besides being famous for spices, Maluku is also rich in marine products. President Susilo Bambang Yudhoyono designated the province as a national fish barn in 2010. However, our natural wealth is threatened by marine debris. Research has shown that plastic kills marine animals that consume it, degrades sea water quality, and kills coral reefs. Coral reefs are home to a quarter of marine species and serve to reduce ocean pollution. The Maluku Expedition Route-2 focuses on efforts to participate in maintaining the gift of marine wealth that we have. For 12 days, we sailed to visit 7 small islands in Maluku to clean up trash on beaches and oceans, plant corals, and campaign to be free of plastic waste. We also document the good practices of the community to manage and utilize natural resources, as well as participate in efforts to prevent the transmission of Covid-19.

Ittinerary

Warga Nuruwe memenuhi kebutuhan hidup dengan bertani pala, cengkih, sagu, rumput laut, dan kelapa. EcoNusa mendokumentasikan aktivitas keseharian warga mengolah rumput laut dan menggali cerita tentang kesulitan yang mereka hadapi. Tim juga memberikan edukasi pencegahan Covid-19, melakukan pemeriksaan kesehatan gratis, dan membagikan masker. Serta memberikan penyuluhan pertanian dan berupa bibit dan alat pertanian.

 

Baca juga: Ekspedisi Maluku EcoNusa Penyemangat bagi Nuruwe

Tim Ekspedisi Maluku Rute 2 bertemu Eliza Marten Kissya, Kepala Kewang Adat Haruku, yang sudah 41 tahun menjaga hutan dan laut Haruku. Bersama Eli –sapaan Eliza–, EcoNusa bersama komunitas setempat, Moluccas Coastal Care menanam mangrove di pesisir pantai Negeri Haruku. Tim juga menanam terumbu karang bersama komunitas Tunas Bahari Maluku dan membersihkan sampah laut, memberikan edukasi pencegahan Covid-19, melakukan pemeriksaan gratis, dan membagikan masker. Serta memberikan penyuluhan pertanian dan berupa bibit dan alat pertanian.

Keindahan landscape Haruku, Kecamatan Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. (Dok.EcoNusa/Victor Fidelis)

Baca juga: Eliza, Sang Penjaga Hutan dan Laut di Negeri Haruku

Ameth adalah desa dan negeri yang dipimpin oleh seorang raja. Di sini, EcoNusa mengajak para siswa sekolah dan mahasiswa untuk membersihkan sampah di pantai. EcoNusa juga memberikan edukasi tentang pencegahan Covid-19 dan membagikan masker kepada warga. Serta memberikan penyuluhan pertanian dan berupa bibit dan alat pertanian.

Kaka Slank ikut memungut dan mengumpulkan sampah di sepanjang pantai di Kampung Ameth, Nusa Laut, Maluku. (Dok.EcoNusa/Victor Fidelis)

&nbsp

Baca juga: Ridho dan Kaka Slank Ajak Masyarakat Jaga Lingkungan dengan Bersih Sampah

Run tersohor karena hasil palanya yang melimpah. Konon, semua bibit pohon pala di dunia berasal dari Run. Namun akses ke pulau tersebut sangat terbatas. Di tengah pandemi, warga harus menyeberangi lautan ke Banda untuk mendapatkan tes Covid-19. EcoNusa memberikan dukungan kepada masyarakat dengan menyerahkan alat rapid test kepada tenaga kesehatan, serta memberikan edukasi tentang pencegahan Covid-19 dan membagikan masker kepada warga. EcoNusa juga mengajak para siswa sekolah dasar untuk ikut membersihkan sampah di pantai. Selain itu juga memberikan penyuluhan pertanian dan berupa bibit dan alat pertanian.

Baca juga: Pulau Rhun Belum Tersentuh Dukungan Covid-19

Ay memiliki ekosistem bawah laut yang cantik, sehingga pulau ini menjadi destinasi wisata. Bersama komunitas Baileo Maluku, EcoNusa membersihkan sampah di pantai. Selain itu, juga memberikan edukasi tentang pencegahan Covid-19 dan membagikan masker kepada warga. Serta memberikan penyuluhan pertanian dan berupa bibit dan alat pertanian.

Jemima Desy Wanma, tim penyuluh pertanian sedang menyampaikan pengetahuan tentang pertanian organik kepada warga (Dok.EcoNusa/Victor Fidelis)

Baca juga: Apresiasi Warga terhadap Dukungan Pertanian EcoNusa

Pulau Hatta dulunya bernama Rozengain. Namun setelah salah satu proklamator Indonesia, Mohammad Hatta, diasingkan ke Pulau Banda selama enam tahun (1936-1942), namanya kemudian diganti menjadi Hatta. Hatta yang indah menjadi tempat wisata. EcoNusa mengajak para siswa di pulau tersebut untuk membersihkan sampah di pantai. Tim EcoNusa juga memberikan edukasi tentang pencegahan Covid-19 dan membagikan masker kepada warga. Serta memberikan penyuluhan pertanian dan berupa bibit dan alat pertanian.

Tim medis EcoNusa mempraktekkan simulasi evakuasi pasien Covid-19 di Pulau Hatta. (Doc. EcoNusa/David Hermanjaya)

Baca juga: Simulasi Penanganan Covid-19 di Pulau Hatta

Banda Neira menjadi tempat persinggahan terakhir EcoNusa di Ekspedisi Maluku ini. Di laguna pulau tersebut, tim ekspedisi berupaya membersihkan laut dengan menjaring sampah.Tim EcoNusa juga memberikan edukasi tentang pencegahan Covid-19 dan membagikan masker kepada warga. Serta memberikan penyuluhan pertanian dan berupa bibit dan alat pertanian.

Jaring yang sedang diujicoba untuk menjaring sampah. (Dok.EcoNusa/Victor Fidelis)

Baca juga: Melawan Monster Plastik di Penghujung Tahun

Maluku: Expedition Team Marine Debris and Covid Response

The following is the Team who joined the expedition:
Bustar_resized

Bustar Maitar

CEO EcoNusa

Wiro Wirandi

Tim Leader (Manajer Program Kelautan)

Etik Meiwati

Bagian Operasional (Bendahara dan Direktur Operasional)

dr. Saiful

Dokter

Destyana

Perawat

Jemima Desi Wanma

Penyuluh Pertanian

Victor Fidelis Santosa

Fotografer

Nurdin Tubaka

Penulis

David Herman Jaya

Videografer

Ridho Hafiedz

Relawan Umum

Akhadi Wira Satriaji

Relawan Umum

Juliarta Ottay

Program and Policy Advisor at Rainforest Foundation Norway

#EkspedisiEcoNusa

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved