EcoStory

Apresiasi Warga terhadap Dukungan Pertanian EcoNusa

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Jemima Desy Wanma, tim penyuluh pertanian sedang menyampaikan pengetahuan tentang pertanian organik kepada warga (Dok.EcoNusa/Victor Fidelis)

Yayasan EcoNusa dengan misi solidaritasnya menyalurkan dukungan alat pertanian kepada masyarakat pulau-pulau terpencil dan pesisir di wilayah Maluku. Tak hanya itu, EcoNusa juga memberikan penyuluhan pertanian terkait cara bercocok tanam yang baik. Semua kampung yang disinggahi Tim Ekspedisi Maluku EcoNusa mendapat dukungan paket pertanian, termasuk Kampung Nuruwe, Haruku, Ameth, Rhun, Hatta dan Tanah Rata, Kecamatan Banda Neira. 

Banyak cerita terjalin di kampung-kampung tersebut. Penyuluhan pertanian dibawakan dalam nuansa santai di ruang diskusi penyuluhan dengan penuh canda. Sesekali permainan dilakukan untuk memantik para peserta penyuluhan agar berpikir menemukan jawabannya. Penyuluhan pertanian pun berlangsung dalam suasana keakraban. 

Masyarakat Maluku memiliki keanekaragaman potensi sumber daya alam yang berlimpah, baik di laut maupun di darat. Respon masyarakat di kampung-kampung juga sangat baik. Di sisi lain, meski memiliki keterbatasan informasi dan alat transportasi, mereka tetap menjalani kehidupan sehari-hari dengan normal. Masyarakat juga berkisah tentang produksi yang melimpah dan lahan luas. Sayangnya, mereka terkendala oleh pemasaran yang terbatas, bibit, dan modal pertanian. 

Baca juga: Mengembalikan Kemandirian Pangan Masyarakat di Pesisir Halmahera

Kendala lainnya, meski memiliki tanah yang subur dan kemauan bertani yang kuat, benih bibit sulit didapatkan.  Selain itu, pengetahuan masyarakat akan pembenihan pun terbatas. Pasokan air juga menghambat pertanian karena masyarakat masih mengandalkan air hujan. Melihat kendala dan keterbatasan tersebut, pengetahuan tentang pengendalian hama yang disampaikan tim penyuluh pertanian amat berguna sebagai bekal untuk memperkecil resiko tanaman terserang hama penyakit. 

Pertanian Warga

Dukungan paket dan alat pertanian yang disalurkan Yayasan EcoNusa diantaranya, pupuk organik  petrobio, benih bayam, kangkung, tomat, cabe rawit, terong ungu, kacang panjang, dan sawit. Sementara, alat pertanian yang diberikan adalah cangkul, sprayer, dan sepatu boot.

Kaka dari grup musik Slank sedang menyerahkan dukungan alat pertanian kepada perwakilan warga. (Dok.EcoNusa/Victor Fidelis)

Di Negeri Ameth, Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah, warga mengapresiasi paket bantuan dan alat pertanian yang disalurkan Yayasan EcoNusa, meskipun sebelumnya juga sudah ada bantuan dari pemerintah kabupaten.

Eghy Holle, 52, mengaku, dukungan dari EcoNusa sangat membantu masyarakat dalam bercocok tanam. Penyuluhan pertanian pun diterima dengan baik oleh masyarakat. 

Ibu tiga anak ini berharap, bantuan paket dan alat pertanian disalurkan benar-benar kepada mereka yang berhak menerimanya. Karena dari pengalaman sebelumnya, bantuan tidak tepat sasaran. Pasalnya, ada beragam pertanian yang digeluti warga. Ada petani cengkeh, petani sayur-sayuran yang menggunakan metode hidroponik.

“Ya, ibu berharap, bantuan itu dong bisa salurkan tepat sasaran,” kata Egy. 

Agus Molle, 67, mengatakan, di Desa Ameth dulunya ada kelompok pertanian. Tapi kini tak ada lagi. Biasanya bantuan yang disalurkan pemerintah langsung diperuntukkan kepada kelompok-kelompok tani tersebut.

Ternyata warga Ameth mengalami kendala dalam bercocok tanam lantaran hak kepemilikan lahan. Pasalnya tanah-tanah di Nusa Laut dianggap sebagai dati (tanah adat) sehingga lahan yang dimiliki warga terbatas. 

“Jadi ada beberapa kepala keluarga yang memiliki satu lahan kemudian ramai-ramai bercocok tanam di situ. Rata-rata masyarakat di Saparua, Nusalaut, dan Haruku menggunakan tanah dati dari Belanda. Makanya susah sekali untuk mengambil dana atau kredit di bank,” ungkap Agus. 

Hal ini berbanding terbalik dengan warga di Desa Pulau Ay yang kaya akan komoditas pala dan kenarinya. Desa yang terletak di sebelah barat Kepulauan Banda ini memang berlimpah sumber daya alamnya. Desa ini juga merupakan salah satu tempat snorkeling yang paling bagus di Laut Banda. Wajar kalau kekayaan dan keindahan alam di kepulauan ini menarik bangsa-bangsa Eropa untuk datang di masa silam.

Baca juga: Ekspedisi Maluku EcoNusa: Misi Solidaritas untuk Kepulauan Maluku

Menurut masyarakat setempat, luas kebun kenari dan pala di sana berdasarkan luas wilayah perkampungannya. Saat ini, mereka mulai panen pala dan kenari. Pala kering dijual seharga Rp 80.000 per kilogram, sementara untuk bunganya Rp 240.000. Kenari dijual dengan harga Rp 50.000 per kilogramnya. Pala tidak hanya dijual, namun ada juga yang diolah menjadi minyak atsiri seperti di Pulau Rhun. Dari olahan ini, warga mendapatkan keuntungan yang cukup menjanjikan.

Tika, 38, salah satu petani kenari mengatakan, sejak kecil dia sudah memetik kenari di kebun. Ia mengaku, setiap hari dirinya ke hutan untuk mengambil kenari menggunakan alat tradisional yang dibuat dari bambu dan besi.

Kenari kemudian dijemur sebelum dikupas untuk mengambil isinya. Dalam sehari, ia bisa mengupas 5 kilogram kenari dari kulitnya. Sayangnya, tidak ada perusahaan yang bisa menampung hasil pertanian warga. 

Pertanian merupakan lumbung pangan yang sangat baik di Maluku. Namun demikian, rata-rata, masyarakat di kampung-kampung yang dikunjungi menghadapi beberapa kendala pokok dalam praktik pertanian yang mereka lakukan. Padahal kebanyakan masyarakat berprofesi sebagai petani. 

Di tempat terpisah, Andre Laminggu Sondak, Sekretaris Konservasi Desa Pulau Ay, mengatakan, untuk melindungi komoditas di sana, Pemerintah Desa mengeluarkan sasi, baik sasi darat maupun laut.

Untuk sasi darat, warga yang kedapatan mengambil satu buah pala akan dikenakan sanksi sebesar Rp 50.000. Jika pelanggar sasi tidak bisa membayar, maka akan dikenakan sanksi cambuk. “Jadi ada sasi seperti itu. Kalau ada yang kedapatan mencuri buah pala saat sasi sudah diterapkan, maka mereka akan mendapatkan sanksi,” kata Andre.

Selain itu, pemerintah desa juga menerapkan retribusi bagi kapal-kapal yang masuk, dan para wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang melakukan diving di teritorial laut mereka.

Editor: V. Arnila Wulandani & Leo Wahyudi 

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved