Mengintip Keistimewaan Desa Ngilngof di Maluku Tenggara

Bagikan tulisan ini

Pada ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia tahun 2021, desa Ngilngof yang merupakan sebuah desa di Maluku Tenggara sukses meraih juara 1 kategori Desa Wisata Maju. Secara keseluruhan, terdapat 1.830 desa yang turut berpartisipasi dalam ajang ini. Keren banget, ya! Desa wisata maju sendiri adalah sebutan bagi desa yang masyarakatnya telah sadar akan potensi wisata di daerahnya, telah dikunjungi oleh wisatawan dari dalam dan luar negeri, serta masyarakatnya sudah mampu mengelola usaha pariwisata. Nah, sebenarnya ada apa aja sih di desa Ngilngof yang membuatnya istimewa? Yuk, kita cari tahu lebih lanjut!

1. Menyuguhkan banyak pemandangan alam yang indah

Sudah bukan rahasia lagi kalau daya tarik utama desa wisata ini adalah panorama alamnya yang indah. Desa wisata yang terletak di Kepulauan Kei Kecil ini menjadi rumah bagi berbagai pantai berpasir putih, seperti Pantai Ngurbloat, Yenroa, dan Ngurfaruan. Bahkan, disinyalir dari situs Indonesia Travel, Pantai Ngurbloat disebut-sebut oleh National Geographic sebagai pantai yang memiliki pasir terhalus se-Asia. Selain pantai, terdapat beragam kekayaan alam lainnya, seperti Danau Ablel, Bukit Kilyeuw, dan Bukit Kilmanut yang tidak kalah cantik.

2. Tempat konservasi mangrove

Nggak cuma menjadi desa wisata, keistimewaan Desa Ngilngof lainnya adalah memiliki hutan mangrove yang masih asri. Masyarakat setempatnya pun masih sangat aktif dalam melakukan kegiatan konservasi mangrove. Sehingga, wisatawan yang datang ke sana pun bisa turut mendapatkan edukasi lebih lanjut mengenai mangrove. Kawasan mangrove ini berada di sekitar Pantai Yenroa dan masih menjadi habitat beraneka macam biota laut, seperti ikan, kepiting, dan siput. Dalam bahasa Kei sendiri, ‘yen’ berarti ‘kaki’, sementara ‘roa’ berarti laut.

Menjaga kelestarian hutan mangrove ini merupakan sesuatu yang penting, mengingat saat ini banyak wilayah pesisir, termasuk di Desa Ngilngof sendiri yang lahannya digunakan untuk perluasan jalan. Jika tidak diawasi dengan baik,bisa-bisa lahan mangrove yang ada bisa ikut tergusur. Padahal, mangrove berperan penting dalam menjaga kehidupan masyarakat pesisir, seperti misalnya menahan ombak. 

3. Masyarakatnya masih menjalankan tradisi sasi

Suku Kei yang bertempat tinggal di Desa Ngilngof merupakan salah satu suku lokal yang masih aktif menjalankan tradisi sasi. Sasi ialah sebuah bentuk larangan pengambilan sumber daya alam di darat dan laut dalam kurun waktu tertentu. Kearifan lokal ini banyak dilakukan oleh masyarakat lokal di Maluku dan Papua dan bertujuan agar sumber daya alam yang ada dapat tumbuh dan dilestarikan dengan baik.  

Salah satu jenis sasi yang dilakukan warga setempat adalah sasi kelapa. Prosesi sasi kelapa biasanya dilakukan setelah ibadah mingguan di gereja, di mana sebuah kayu akan ditanam di sekitar kebun kelapa sebagai tanda larangan sasi. Setelah adanya tanda itu, maka masa tutup sasi akan dimulai. Lalu, sekitar 3-4 bulan kemudian, akan dilakukan kembali upacara adat untuk merayakan masa buka sasi. Ketika itulah warga diperbolehkan untuk memanen hasil kelapa dari kebun kelapa mereka. Jika terjadi pelanggaran terhadap sasi, maka akan ada hukum adat yang berlaku. 

Gimana, terdengar menarik kan Desa Ngilngof ini? Kamu pun tentunya bisa langsung berkunjung ke sana untuk menikmati secara langsung keindahan desa wisata ini. Nah, ketika berwisata ke sana, jangan lupa juga untuk turut berpartisipasi dalam menjaga kelestarian alamnya, ya! Misalnya adalah dengan tidak mengotori pantai, tidak mengambil hasil panen maupun benda-benda dari alam lainnya secara sembarangan, dan mempelajari lebih lanjut tentang konservasi mangrove yang ada di sana.

Berita lainnya

Copyright ©2022.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved