EcoStory

Mengenal Kehidupan Suku Ngalum Ok, Manusia Air dari Pegunungan Bintang

Bagikan Tulisan

Suku Ngalum Ok ialah salah satu dari tujuh suku yang mendiami lembah di bagian selatan barisan Pegunungan Jayawijaya, tepatnya di lembah Oksibil, wilayah Pegunungan Bintang, Papua. Kata Oksibil dalam Ngalum weng (bahasa Ngalum) terdiri dari dua kata, yakni Ok yang artinya air, dan Sibil berarti dekat. Ngalum sendiri mengandung arti timur, yang menyiratkan orang Ngalum adalah orang-orang yang tinggal di daerah timur.

Kebanyakan orang-orang Ngalum Ok hidup berdekatan dengan air, seperti sungai dan mata air. Oleh karena itu, mereka kerap disebut sebagai “manusia air” karena  hidupnya selalu mencari air.

Bagi masyarakat Ngalum Ok, air adalah sumber kehidupan yang mengandung makna filosofi, teologi, ekologi, juga ekonomi. Orang Ngalum Ok melihat bahwa air (ok) menciptakan dan mendatangkan kehidupan yang hakiki, memberikan kesuburan dan kemakmuran bagi manusia, menyuguhkan kesejukan, kedamaian, ketenangan, ketentraman, kesucian, kedewasaan, keselamatan, dan mengajarkan nilai-nilai hidup lainnya. Oleh karena itu, Suku Ngalum Ok menerapkan filosofi hidup seperti air. Mereka tidak suka mencari keributan dan senantiasa damai dengan lingkungan sekitarnya, termasuk dengan alam.

Baca juga: Suku Dani Manfaatkan Hutan sebagai Sumber Obat

Dalam kepercayaan orang Ngalum Ok, dunia dan seluruh isinya diciptakan dan dijaga oleh Atangki (Tuhan). Bila alam tidak dijaga dengan baik, mereka percaya bahwa Atangki akan marah dan menciptakan bencana alam yang mencelakakan mereka.

Mereka juga percaya bahwa manusia pertama yang juga merupakan nenek moyang mereka, Kaka I Onkora dan Kaka I Ase, diciptakan oleh Atangki di Aplim-Apom, atau banyak dikenal dengan nama Puncak Mandala, puncak tertinggi dari deretan pegunungan Jayawijaya. Aplim-Apom adalah tempat suci yang amat sakral bagi masyarakat Suku Ngalum Ok.

Dalam bahasa Ngalum, Aplim-Apom berasal dari gabungan beberapa kata, di antaranya Ap berarti rumah, Lim berarti darah atau api, dan Om yang berarti keladi. Aplim melambangkan laki-laki dan Apom melambangkan perempuan.

Baca juga: Menke Womom, Bukti Kedekatan Suku Abun dan Sang Dewa Laut

Sebagian besar masyarakat Ngalum Ok bertahan hidup dengan cara bercocok tanam. Beberapa tanaman pangan yang ditanam antara lain batatas (ubi), singkong, sayur lilin, sayur yamen, sayur gedi, dan om (keladi/talas). Beberapa jenis tanaman pangan lain yang diperkenalkan oleh para misionaris yang juga mereka tanam adalah kacang merah, kedelai, wortel, kubis, dan tomat.

Sedikit berbeda dengan tanaman pangan lainnya, om (keladi) memiliki “tempat khusus” dalam kehidupan orang-orang Ngalum. Bagi mereka, keladi memegang peranan penting sebagai sarana yang menghubungkan mereka dengan Atangki, Sang Maha Pencipta.

Selain bercocok tanam, masyarakat Suku Ngalum Ok juga memelihara kang (babi). Bagi orang Ngalum, binatang ini memiliki peranan penting, tak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan, namun juga melambangkan status sosial dan ekonomi.

Baca juga: Sasi Sambite: Kearifan Lokal untuk Meningkatkan Kualitas Pala Arguni Bawah

Kehidupan masyarakat Ngalum Ok dan alam mempunyai hubungan yang amat erat. Alam tak hanya ditempatkan sebagai tempat hidup, namun juga sebagai entitas ciptaan Atangki yang memberikan pelajaran tentang filosofi hidup, sehingga keberadaannya harus dijaga. Menjaga alam sama artinya dengan menjaga kehidupan manusia dari bencana dan kehancuran.

Editor: Leo Wahyudi & Nur Alfiyah

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2022.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved