EcoStory

Menata Ulang Kampung di Merauke Berbasis Data

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Billy Matemko menginput data kampung ke dalam aplikasi Si Kampung (Yayasan EcoNusa/Lutfy Mairizal Putra)

Sejumlah kampung di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, menata ulang kampung mereka berlandaskan data. Mereka juga berupaya mandiri secara pangan sebab hutan yang telah lama menjadi “pasar swalayan” bagi masyarakat kini tinggal kenangan. Hutan telah berganti menjadi perkebunan kelapa sawit. Secara perlahan, masyarakat adat di Merauke membangun ketahanan kampung agar tak lagi melepaskan sumber penghidupan yang mereka miliki.

Billy Metemko, warga Kampung Bupul, Distrik Elikobel, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, menilai pembangunan Kampung Bupul tak terlaksana secara optimal karena tak berangkat pada fakta yang ada di kampung. Akibatnya, penggunaan dana kampung hanya dilandasi perkiraan. “Selama ini pemerintah kampung tidak tahu persis berapa jumlah penduduk. Hanya kira-kira saja,” kata Billy kepada EcoNusa.

Baca juga: Sekolah Kampung Samb Kai, Membangun Ketahanan Kampung di Merauke

Kesadaran pentingnya pangkalan data ia dapatkan usai mengikuti Sekolah Kampung Samb Kai di Kampung Waninggap Nanggo pada November 2020 yang diikuti oleh sepuluh kampung. Billy menjadi satu dari empat orang perwakilan Kampung Bupul yang dipilih oleh kepala kampung. Sekolah Transformasi Sosial yang berlangsung selama 15 hari itu diselenggarakan oleh Yayasan EcoNusa bekerja sama dengan INSIST dan Caritas Merauke. Selain kelas pangkalan data, sekolah kampung juga membuat kelas pertanian organik.

Pangkalan Data

Dalam kelas pangkalan data, peserta sekolah kampung mempelajari perangkat keras pengumpulan data seperti pesawat nirawak (drone), perangkat sistem navigasi satelit (GPS), dan perangkat lunak pengolah data seperti Quantum GIS dan aplikasi Sistem Informasi Kampung (Si Kampung). “Walau dengan aplikasi seperti Quantum GIS yang baru pertama kali (saya pakai) tapi dengan metode yang digunakan oleh guru waktu beri materi sangat menarik sehingga membuat teman-teman semangat,” ujar Billy.

Ada tiga jenis data yang hendak dikumpulkan peserta sekolah kampung yakni data sosial, sektoral, dan spasial. Data sosial menyangkut data demografi masyarakat namun dalam taraf yang lebih mendalam. Selain mengumpulkan data demografi (jumlah orang dalam satu rumah, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan golongan darah), tim pangkalan data juga mengumpulkan data pendidikan, kesehatan, mata pencaharian, hingga sistem pemerintahan desa.

Data sektoral diperlukan untuk menganalisis kausalitas produksi pangan dengan ekosistem di sekitar kampung. Misalnya, data luas lahan, jenis tanah, cuaca, sumber aliran air, tumbuhan obat yang tersedia, situs sejarah dan budaya, warisan adat, kesenian tradisional, dan jaringan jalan.

Baca juga: Menjadi Produsen dengan Berkebun

Menurut Billy, data spasial memiliki peran yang krusial bagi masyarakat, teruma di Kampung Bupul yang telah dikelilingi konsesi perkebunan kelapa sawit. Melalui peta spasial, masyarakat bisa mengetahui potensi yang kampung miliki dan mempertahankan hak adat mereka. “Karena di dalam hutan itu ada kehidupan. Ada sumber daya alam seperti ikan, daging, obat-obatan yang bisa dimanfaatkan. Ada banyak juga yang belum kita gali. Kalau memang ada pembangunan, wilayah mana yang harus dikasih, masyarakat sudah tahu,” ujarnya.  

Kendala

Di antara para peserta, Billy dan Hendrik J. Tanjai masuk dalam tim pangkalan data, sedangkan Wensislaus Agji dan Rafael Mekiuw masuk dalam tim pertanian organik. Mereka wajib membagi apa yang mereka pelajari kepada masyarakat di Kampung Bupul. Mereka berhasil menarik minat dan semangat membangun kampung masyarakat lainya. Hingga kini, tim pangkalan data dan pertanian organik memiliki anggota masing-masing 14 orang.

Berbagai kendala muncul hingga data sosial baru terkumpul sekitar 80 persen. Pasificus, mantan Kepala Kampung Bupul, mengatakan bahwa pengumpulan data berhenti sesaat untuk menghormati masa berkabung setelah kehilangan anggota keluarga. Ketika seseorang meninggal dunia, keluarga yang ditinggalkan menjalani masa duka dengan berdiam diri di rumah selama 40 hari.

Baca juga: Habis COP 26, Terus Kita Mau Apa?

Pihak keluarga mengenakan galang duka yang terbuat dari kulit kayu di kedua lengan. Usai masa berkabung, terdapat upacara adat untuk memutus gelang tersebut. Masyarakat Kampung Bupul menyebut prosesi itu dengan Sal. “Ada beberapa orang yang meninggal karena sakit. Karena di Bupul kita berkeluarga, kita tidak bisa mengambil data. Harus menghormati masa duka,” kata Pasificus.

Ahmad Mahmudi, guru Sekolah Kampung Samb Kai, mengatakan membuat sistem pangkalan data menjadi salah satu indikator guna membangun ketahanan kampung. Pangkalan data menjadi dasar pembuatan kebijakan strategis dalam penggunaan dana kampung. Berdasarkan studi pendahuluan sebelum pelaksanaan sekolah kampung, Mahmudi menemukan fakta bahwa belanja konsumsi pangan masyarakat terbilang besar.

“Kalau pemerintah kampung punya data, kebijakan pangan dapat dibuat. Misalnya potensi pertanian bisa panen lebih dari dua kali jadi dari dua ton dapat tiga ton. Rumus untuk memperkuat kampung adalah menahan selama mungkin pendapatan yang masuk ke kampung dan ketika dibelanjakan untuk barang modal, alat produksi,” ungkap Mahmudi.

Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved