EcoStory

Labu Air, Tanaman Unik Pembuat Koteka

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Tanaman labu air sebagai bahan pembuat koteka. (Gambar: Greeners)

Siapa yang menyangka jika koteka yang identik sebagai pakaian tradisional beberapa suku di Papua ternyata terbuat dari tanaman labu air (Lagenaria siceraria (Molina) Standl)?

Sebagian orang mengira koteka terbuat dari kayu atau tanduk binatang, karena memiliki tekstur bahan yang keras. Padahal koteka terbuat dari labu air yang merupakan tanaman budidaya tertua.

Dilansir pada laman historia.id, koteka berasal dari bahasa suku ‘Mee’, suku yang bermukim di bagian barat Pegunungan Tengah, Papua, termasuk wilayah kabupaten Paniai, Dogiyai, Deiyai, Intan Jaya, dan Nabire. Dalam bahasa Mee,bahasa Ekagi, maupunEkari, koteka artinya pakaian.

Koteka sering terlihat dipakai oleh laki-laki dari Suku Dani (salah satu suku adat di Papua) sebagai penutup alat kelamin. Selain berfungsi sebagai penutup alat kelamin, Koteka juga berfungsi sebagai penanda status sosial, kebanggaan bahkan simbol perlawanan.

Beranjak ke tanaman labu air, tanaman ini diketahui mudah beradaptasi dengan kondisi cuaca, baik di musim penghujan ataupun kemarau. Bagi orang-orang Suku Dani (suku terbesar yang mendiami Baliem, Papua), labu air ini biasa ditanam di lahan pekarangan. Labu ini tidak hanya ditanam sebagai bahan pangan tapi juga dijadikan alat rumah tangga.

Labu air tumbuh menjalar, merambat, memiliki batang yang kuat, penampangnya berlekuk dan sulur-sulurnya biasanya spiral. Bagian daunnya mempunyai tangkai panjang 5 – 30 cm, lebarnya 10- 30 cm, helai daunnya berbentuk oval dengan pangkalnya menyerupai jantung. Tepi daun bergerigi dan permukaan bawahnya berbulu putih halus. Merupakan bunga betina, labu air memiliki bunga bertangkai pendek dan bertekstur kuat.

Buah labu air sendiri termasuk ke dalam varietas labu bertekstur keras. Adapun buahnya bervariasi, mulai dari membulat hingga lonjong memanjang (panjangnya 10 – 100 cm). Buah labu air yang muda biasanya dijadikan olahan sayur. Sedangkan untuk buah tuanya selain untuk dibuat koteka, dapat dibuat menjadi wadah air, tabung ataupun kantung hias. Tiap tanaman bisa menghasilkan 10 – 15 buah atau lebih.

Tanaman labu air mengandung banyak manfaat untuk kesehatan. Dikutip dari Jurnal Akademika Kimia (2017), daun dan buah labu air mengandung saponin dan polifenol. Rebusan atau jus labu air dapat digunakan sebagai obat anti muntah dan sakit kepala, selain itu juga dapat mengatasi kegundulan.

Dari tulisan di laman historia.id, dalam membuat koteka, diperhitungkan sejak masa tanam labu. Setelah beberapa bulan labu yang siap panen dipetik lalu dikeringkan di perapian. Proses pengeringannya sekitar 1 sampai 2 minggu. Biasanya pengerjaannya dibuat untuk lebih dari satu koteka.

Setelah labu kering, kemudian isi labu dikeluarkan hingga tersisa kulit labu yang keras. Buah labu yang telah dibersihkan kembali dikeringkan di perapian, dan setelah itu siap untuk dipasangkan. Setelah terpasang, koteka menyatu dengan pemiliknya dan tidak akan diganti sampai rusak. Agar tak jatuh saat dikenakan, koteka diikatkan tali halus yang melingkari pinggang.

Pembentukan labu juga memiliki makna dan tujuan tersendiri. Bagi lingkungan masyarakat adat/Suku Dani, bentuk koteka menandakan kelas sosial pemakainya. Koteka yang berbentuk melengkung hanya dikenakan orang-orang yang punya pengaruh dalam masyarakat..

Dikutip dari historia.id, untuk koteka yang ujungnya melengkung ke depan (kolo) disandang oleh Ap Kain atau pemimpin konfederasi (pemimpin klan). Sedangkan golongan menengah mengenakan koteka yang ujungnya melengkung ke samping (haliag). Golongan menengah ini di antaranya adalah Ap Menteg (panglima perang) dan Ap Ubalik (tabib dan pemimpin adat). Untuk bentuk koteka yang tegak lurus boleh digunakan masyarakat biasa.

Supaya mendapatkan bentuk koteka yang lurus maka labu diikat dengan batu. Apabila ingin mendapatkan koteka yang melengkung maka sebelum panen batu yang diikat menggantung tersebut dilepas

Untuk menambah kesan gagah dan menambah daya tarik bagi lawan jenis, ujung koteka biasanya dipasang jambul yang terbuat dari bulu ayam atau burung. Bagi anak-anak yang telah berusia lima tahun juga mulai diperkenankan memakai koteka. Selain menjadi alat penutup kelamin dan simbol kebanggaan, koteka juga menjadi salah satu cenderamata yang dapat dibeli jika berkunjung ke Papua.

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved