EcoStory

#BakuDukung Cegah Covid

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Pandemi Covid-19 membuat dunia mengambil sikap dan langkah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Pandemi ini telah memberikan dampak terhadap 210 negara di dunia. Menurut data dari World Health Organization (WHO), hingga 10 Agustus 2020 ada lebih dari 19 juta orang terinfeksi corona dan lebih dari 700.000 orang meninggal dunia. Hal serupa juga terjadi di Indonesia. Terdapat 127.083 kasus corona dan 5.765 orang meninggal dunia.

Begitu juga di Indonesia bagian timur. Tanah Papua, salah satu wilayah di Indonesia dengan jumlah masyarakat adat yang besar, tercatat dalam statistik sebagai salah satu daerah dengan angka kasus corona yang tinggi. Hingga 10 Agustus 2020, sudah ada 3.278 kasus di Provinsi Papua dan 557 kasus di Provinsi Papua Barat. 

Selain itu, wilayah Kepulauan Maluku juga mencatat angka kasus Covid-19  yang cukup tinggi. Di Provinsi Maluku sendiri, sudah ada  setidaknya 1.345 kasus. Sedangkan di Provinsi Maluku Utara, sudah ada 1.680 kasus.

Jumlah ini tak bisa disepelekan karena ada lebih dari 300 suku asli hidup di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku yang tersebar mulai dari kawasan hutan, pegunungan, pesisir, dan pulau-pulau kecil.

Masyarakat adat menjadi kelompok paling rentan terhadap corona, sebab pola hidup masyarakat yang cenderung komunal dengan ketergantungan tinggi antar anggotanya. Ditambah lagi, akses ke fasilitas kesehatan, keterbatasan alat kesehatan, juga sulit dan jauhnya medan yang perlu dicapai oleh tenaga medis membuat tingkat risiko kematian pada masyarakat adat terdampak corona meningkat. 

Juru Bicara Penanganan Corona di Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, menyatakan Papua kekurangan sumber daya yang diperlukan dalam menghadapi Corona mengingat hanya ada tujuh dokter spesialis paru-paru di Papua. Selain itu, dari 200 ruang isolasi yang ada di Papua, hanya 2 ruang isolasi yang memenuhi standar Badan Kesehatan Dunia (WHO). Hal tersebut diperburuk lagi dengan minimnya ketersediaan ventilator sebagai alat bantu pernapasan, yakni hanya ada 60 unit saja. Melihat kondisi ini, tentu dampak kesehatan akibat pandemi ini cukup besar untuk masyarakat adat.

Selain dampak kesehatan, corona juga berdampak pada perekonomian masyarakat. Langkah cepat pemerintah daerah menutup akses transportasi menimbulkan kenaikan harga barang pokok. Praktik ekowisata yang dikelola oleh masyarakat setempat seketika berhenti. Mereka kembali pada aktivitas sebelumnya seperti berkebun dan memancing ikan. Ekowisata yang menjadi sumber pencaharian utama otomatis berhenti beroperasi.

Anton, inisiator koperasi mama Papua, menceritakan kepada Yayasan Econusa dampak yang dirasakan masyarakat terkait pandemi ini. Menurutnya, ada kerugian ekonomi yang harus ditanggung masyarakat karena terhentinya aktivitas perdagangan. Sebagai contoh, 1.000 tandan pisang di Kabupaten Kaimana batal terkirim karena adanya pandemi. 

Perlindungan masyarakat dan bantuan terhadap tenaga medis di Tanah Papua dan kawasan Indonesia Timur lainnya menjadi hal terpenting saat ini. Untuk itu, Yayasan EcoNusa mengajak semua pihak memberikan bantuan sebagai wujud perlindungan terhadap masyarakat adat dan juga tenaga medis di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku. Bantuan tersebut akan disalurkan untuk memberikan Alat Pelindung Diri (APD) dan juga masker untuk  masyarakat adat di hutan, pesisir dan pulau-pulau kecil di wilayah Indonesia Timur sebagai bentuk pencegahan terhadap penyakit corona.

Info lebih lanjut dapat menghubungi: 

Cory : +62 813-8972-7556

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved