Biomimikri: 3 Benda & Teknologi Keren Terinspirasi dari Alam

Bagikan tulisan ini

Sejak kecil mungkin kita sering mendengar nasihat untuk rajin melihat sekeliling dan kembali ke alam agar kita bisa belajar banyak hal. Siapa nih yang suka berjalan-jalan di alam terbuka? Berjalan di hutan, mendaki gunung, berenang di lautan, melihat aneka tumbuhan, dan berjumpa dengan aneka hewan. Rasanya pasti menyenangkan sekali, ya!

Selain menyenangkan dan menenangkan, kita bisa sekaligus belajar banyak hal dan mendapatkan inspirasi saat berjalan-jalan di alam. Bahkan, ada istilah khusus yang menggambarkan proses mempelajari dan meniru sistem yang ada di alam untuk membuat teknologi yang dapat dimanfaatkan manusia. Istilah ini disebut sebagai ‘biomimikri’ yang dicetuskan oleh Janine Benyus, seorang ilmuwan dan penulis pada tahun 1982. Sejak dulu hingga pada saat ini, memang ada banyak benda dan teknologi buatan manusia yang cara kerjanya terinspirasi oleh sistem kerja berbagai entitas yang ada di alam. Penasaran gak sih apa aja contoh biomimikri yang menarik untuk diketahui? Ini dia 3 di antaranya!

1. Burung Kingfisher & Kereta Shinkansen

Kereta Shinkansen yang beroperasi di Jepang adalah salah satu jenis kereta dengan kecepatan tertinggi yang ada saat ini. Kecepatan kereta peluru ini bahkan bisa mencapai 320 km/jam. Keren banget ya! Tapi, ternyata pada awalnya Shinkansen sempat menimbulkan masalah karena menghasilkan suara bising yang bisa terdengar hingga 400 meter dari lintasan. Karena bentuk bagian depan keretanya tumpul, maka ketika kereta ini memasuki terowongan dengan kecepatan tinggi akan menimbulkan gelombang suara yang terdengar seperti ledakan.

Para insinyur pun berusaha untuk memecahkan masalah ini. Menariknya, solusi yang didapat ternyata terinspirasi dari burung kingfisher yang memiliki bentuk paruh panjang dan runcing. Dengan bentuk paruh seperti itu, burung kingfisher mampu masuk ke dalam air untuk berburu dengan kecepatan tinggi tanpa menimbulkan suara maupun banyak percikan air. Nah, karena itulah bentuk bagian depan kereta Shinkansen dijadikan lebih ‘mancung’ dibanding sebelumnya layaknya paruh burung kingfisher. Dengan begitu, kini Shinkansen tidak menimbulkan suara bising lagi saat memasuki terowongan, kecepatannya meningkat hingga 10%, dan juga menggunakan listrik 15% lebih sedikit dari sebelumnya.

2. Sarang Semut dan Rayap & Bangunan Ramah Lingkungan

Di sepanjang jalanan Taman Nasional Wasur, Papua kita bisa melihat ada banyaknya gundukan tanah tinggi bahkan hingga mencapai 5 meter. Gundukan tanah yang disebut warga lokal sebagai musamus ini sebenarnya merupakan sarang atau rumah yang dibangun para rayap dan semut. Kerennya, meskipun dari tanah, sarang mereka ini mampu bertahan hingga puluhan tahun dan tidak goyah meskipun terkena hujan maupun teriknya matahari. Selain itu, kehebatan lainnya dari sarang-sarang ini adalah memiliki kemampuan untuk menjaga suhu di dalamnya tetap stabil.

Kehebatan sarang rayap ini menarik perhatian para peneliti yang kemudian melakukan penelitian lebih lanjut. Hasilnya, ditemukan bahwa sarang rayap dapat bekerja seperti paru-paru yang menghirup dan mengembuskan udara secara otomatis. Hal ini karena struktur sarang rayap terdiri atas banyak pori mikroskopik atau celah yang saling terhubung satu sama lain. Struktur sarang rayap ini telah diadopsi oleh bangunan Eastgate Centre di Harare, Zimbabwe yang dibangun oleh Mick Pearce.  Bangunan yang berfungsi sebagai pusat perbelanjaan serta perkantoran ini pun bisa lebih hemat energi dan mampu menyerap panas tanpa mengubah temperatur ruangan. 

3. Perekat Velcro & Tanaman Burdock

Kamu mungkin udah enggak asing lagi dengan perekat velcro, yaitu jenis perekat yang mampu merekatkan kain dengan kain. Perekat ini biasa kita temui misalnya di sepatu, gulungan kabel laptop, atau baju. Ternyata, perekat velcro ini juga merupakan bentuk biomimikri yang ditemukan secara enggak sengaja, lho! Pada tahun 1941, seorang insinyur asal Swiss, George de Mestral sedang berjalan-jalan bersama anjingnya di Pegunungan Alpen. Ketika itulah dia mengamati ada banyak biji dari tanaman burdock yang menempel di pakaian dan bulu anjingnya saat mereka melewati tanaman tersebut. Alih-alih kesal, George de Mestral justru merasa penasaran dengan kemampuan tanaman burdock itu.

Ia pun melakukan penelitian dan menemukan kalau ternyata biji kecil yang ada di tanaman burdock memiliki ratusan pengait yang bisa menyangkut dengan kencang pada berbagai jenis serat. Dari sini, George pun menjadi terinspirasi untuk membuat suatu produk yang mampu merekatkan 2 benda berbahan kain. Proses penelitian dan pembuatannya tidaklah mudah dan memerlukan waktu hingga 10 tahun sebelum akhirnya dipatenkan pada tahun 1955. Wow, ternyata perekat ‘sederhana’ yang umum kita jumpai sekarang ini memiliki cerita penemuan yang luar biasa, ya!

Ternyata emang benar ya alam bisa memberikan kita banyak inspirasi! Selain ketiga penemuan ini, masih banyak benda lainnya yang cara kerjanya terinspirasi dari sistem kerja aneka hewan dan tumbuhan di alam. Beberapa contoh lainnya ialah sonar lumba-lumba yang menginspirasi sistem pendeteksi dini tsunami, kunang-kunang yang menginspirasi bola lampu LED, sirip paus bungkuk yang menginspirasi turbin angin, hingga nyamuk yang menjadi inspirasi bagi peneliti untuk mengembangkan jarum suntik yang tidak menyakitkan. 

Nah, coba deh lain kali kalau kita sedang berjalan-jalan di alam terbuka, kita amati sekeliling kita. Siapa tau, kamu akan menemukan hal-hal tidak terduga yang bisa diteliti lebih lanjut dan dijadikan inspirasi untuk membuat penemuan baru yang bermanfaat! Kalau sudah mendapatkan ide ingin meneliti apa, nantikan info tentang Ilmuwan Muda Papua selanjutnya, ya! Melalui program ini, kamu bisa mendapatkan workshop serta pendampingan untuk melakukan penelitianmu.

Berita lainnya

Copyright ©2022.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved