EcoDefender

Talk Show Ilmuwan Muda Papua 2021: Peran Peneliti di Negara Mega Biodiversity

Bagikan tulisan ini

Keseruan dari program Ilmuwan Muda Papua (IMP) 2021 masih terus berlanjut. Setelah melewati sejumlah rangkaian, mulai dari seleksi proposal, bootcamp untuk persiapan penelitian, hingga proses pengambilan data penelitian, pada hari Sabtu, 18 Desember 2021 diadakan talk show bertajuk ‘Peran Peneliti di Negara Mega Biodiversity’. Selama dua setengah jam, talk show yang berlangsung secara daring ini diikuti secara antusias oleh para anak muda dari berbagai daerah di Indonesia.

Ilmuwan Muda Papua sendiri merupakan program yang diadakan oleh Yayasan EcoNusa bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Papua Barat. Program ini pertama kali diadakan pada tahun 2020 sebagai upaya untuk mencetak peneliti-peneliti muda asal Papua yang mampu menjawab berbagai tantangan serta permasalahan sosial dan lingkungan di negara biodiversitas ini, khususnya di Tanah Papua. Pada tahun 2021, IMP kembali hadir mendapat sambutan yang meriah. Dari 104 proposal penelitian yang masuk, terpilih 25 calon ilmuwan muda dari 5 universitas di Papua untuk mengikuti serangkaian program.

Ilmuwan Muda Papua 2021: Pengalaman Menantang yang Menyenangkan

Dalam talkshow kali ini, para peserta berkesempatan langsung untuk mendengarkan pengalaman 5 orang peserta Ilmuwan Muda Papua 2021 selama mereka melakukan penelitian. Mereka adalah Elon Boari, Maria Priska Numberi, Vivi Mariana, Indriani Rammah, dan Yoel Tirso Dando Soda. Meskipun topik penelitian kelimanya berbeda-beda, kelimanya sepakat bahwa mengikuti program Ilmuwan Muda Papua 2021 merupakan sesuatu yang menyenangkan karena ada banyak ilmu dan pengalaman baru yang mereka dapat. Namun, di sisi lain mereka juga mengaku menghadapi berbagai macam tantangan selama proses penelitian. Terlebih lagi, ini merupakan pengalaman pertama bagi kelimanya untuk melakukan penelitian secara langsung.

Misalnya adalah Maria yang penelitiannya berjudul Analisis Karakteristik Sarang dan Populasi Penyu Lekang di Kampung Yewana, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura Papua. Untuk mencapai lokasi penelitian di Kampung Yewana, ia harus menempuh perjalanan naik mobil selama 2 jam, yang kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan terjal yang berliku-liku. Sementara itu, Vivi yang meneliti tentang Penggunaan Pasta Buah Merah (Pandanus Conoideus) dan Tepung Buah Pandan Tikar (Pandanus Tectorius)  dalam Formulasi Cookies Sagu menghadapi tantangan lain. Selama ini, belum ada yang memanfaatkan buah pandan tikar menjadi tepung dan sebagai bahan baku cookies sagu. Sehingga, Vivi pun harus melakukan percobaan berkali-kali sebelum akhirnya menemukan formula yang tepat dan berhasil. Tak jarang ia menghadapi masalah seperti misalnya cookies yang gosong.

Terlepas dari berbagai tantangan yang harus dihadapi, para peserta Ilmuwan Muda Papua 2021 merasa puas ketika pada akhirnya berhasil menyelesaikan penelitian dan menawarkan suatu hal baru yang dapat berdampak bagi pengembangan lingkungan serta masyarakat. Penelitian Yoel tentang Pemanfaatan Daun Pisang Kering sebagai Media Persemaian Benih Tanaman Kakao menemukan media persemaian alternatif bagi para petani kakao yang lebih murah dan ramah lingkungan dibandingkan karung goni maupun handuk yang biasa digunakan. Lalu, ada pula penelitian Indri mengenai Perancangan Kawasan Wisata di Pulau-Pulau Kecil Terluar (Pulau Habe) dengan Pendekatan Sustainable Architecture. Dalam penelitiannya, Indri membuat rancangan arsitektur berkelanjutan bagi pengembangan Pulau Habe dengan memperhatikan unsur sosial, budaya, dan lingkungan. Selanjutnya, Elon melalui penelitiannya yang bertajuk Keragaman Jenis Burung (Aves) pada Areal Ekowisata Bird Watching di Kampung Malagufuk juga berhasil mengidentifikasi keberagaman burung yang ada di kampung tersebut. Luar biasa sekali, ya penelitian-penelitian yang mereka lakukan!

Peran Penting Anak Muda untuk Menjadi Peneliti di Negara Biodiversitas

Setelah berbincang-bincang dengan para ilmuwan muda, dalam talkshow kali ini juga hadir Dr. Mirza Dikari Kusrini selaku dosen bidang Ekologi dan Manajemen di Fakultas Kehutanan dan lIngkungan Institut Pertanian Bogor dan Dr.rer.nat. Hawis Madduppa, S.Pi, M.Si selaku Sekretaris Jenderal Akademi Ilmuwan Muda Indonesia. Dengan antusias Bu Miki membagikan pengalamannya menjadi peneliti selama bertahun-tahun. Di akhir sesinya, ia pun memberikan pesan kepada para peserta, bahwa “Keberhasilan dalam karier sebagai peneliti adalah suatu proses panjang. Perlu kedisiplinan, keteguhan untuk terus berkarya dalam berbagai tantangan, ketertarikan untuk terus belajar, serta kelenturan dalam berkomunikasi dan bertindak.”

Tak mau ketinggalan, Pak Hawis ikut membagikan pengalamannya sebagai peneliti, terutama mengenai laut. Dalam kesempatan itu, Pak Hawis kembali menekankan pentingnya anak muda untuk menjadi peneliti. “Indonesia merupakan negara mega biodiversitas yang memiliki berbagai jenis habitat dan menjadi salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia. Di Indonesia ada sekitar 28.000 spesies tumbuhan, 350.000 spesies hewan, dan sekitar 10.000 mikroba. Jadi, masih ada banyak sekali yang harus diteliti lebih lanjut agar biodiversitas ini dapat terus terjaga hingga masa depan”, tuturnya.

Jadi, siapa nih yang mulai tertarik untuk menjadi peneliti muda? Apapun bidang yang kamu tekuni, kamu bisa lho melakukan penelitian yang dapat berguna untuk lingkungan dan masyarakat sekitarmu. Mulailah dengan bertanya dengan diri sendiri tentang masalah apa yang menarik minatmu untuk lantas dicari solusinya melalui penelitianmu. Agar lebih siap lagi, nantikan program Ilmuwan Muda Papua selanjutnya dan jangan lupa untuk ikut, ya!

Berita lainnya

Copyright ©2022.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved