EcoStory

Pisang, Warisan Kehidupan di Kaimana

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Mama Evi, warga Kampung Tanggaromi, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. (Yayasan EcoNusa/Moch. Fikri)

Di sebelah utara Kabupaten Kaimana terdapat Kampung Tanggaromi. Jaraknya sekitar 30 kilometer dari pusat kota. Kampung yang dihuni sekitar 200 warga ini berkebun sayur mayur dan menanam pisang untuk menopang kehidupan mereka. Berkebun ini diwariskan turun temurun dari para orang tua dan nenek moyang mereka dahulu kala.

Salah satunya adalah Mama Evi (40) yang sejak kecil tinggal di Tanggaromi. Mama Evi bercerita bahwa ia dapat berkebun dan menanam pisang atas didikan orang tuanya. Dari usahanya ini, Mama Evi mampu menyekolahkan anak-anaknya. Tak heran kalau ia sangat meyakini bahwa berkebun itu merupakan kehidupan baginya.

“Dulu orang tua saya mengajarkan saya berkebun sejak saya masih kecil. Tiap hari ikut tanam sayur mayur. Tiap hari ikut tanam pisang. Mereka mengajarkan saya sampai saya bisa, sampai saya bisa bekerja mencari uang sendiri,” kata Mama Evi.

“Pertama kali saya diajarkan menanam singkong, ubi jalar, dan pisang,” kenangnya sambil duduk santai di pasar menunggui dagangannya. “Namanya juga perempuan, kami harus belajar sejak kecil.”

Warisan kehidupan ini pun ia terapkan kepada keenam anaknya. Anak pertamanya kini berumur 20 tahun. Dia yang paling rajin dan taat membantunya berkebun dan menanam pisang. “Keenam anak saya ajari berkebun, ajarkan tanam pisang. Seperti saya dulu, mereka sa ajarkan agar dapat bekerja cepat. Sa suruh kerja, mereka kerja,” katanya bangga.

Bagi Mama Evi pisang itu penting sekali. “Saya mendapatkan uang untuk hidup, untuk makan, menyekolahkan anak-anak itu dari pisang,” katnya sambil bermain dengan anak terakhirnya yang bernama Shentika. Menurut Mama Evi, harga pisang satu sisir di pasar harganya Rp 15 – 20 ribu. Dalam seminggu ia bisa mendapatkan penghasilan Rp 500 – 600 ribu. Kalau pasar  sedang ramai ia bisa memperoleh Rp 800 ribu. “Paling laris ya ketika hari besar seperti Natal. Dalam 3 minggu saya bisa mendapat Rp 4 juta,” katanya dengan mata berbinar.

Mama Evi kadang menjual hasil sayur mayur dan pisang  di  pasar Tanggaromi. Tak jarang ia membawa hasil kebunnya ke pasar yang ada di Kota Kaimana. “Kalau dibawa ke kota, harganya sa naikkan. Karena jaraknya jauh dan torang harus naik taksi bolak-balik. Harga taksi sendiri Rp 150 ribu. Jadi jika ke kota 1 sisir Mama jual Rp 50 ribu,” katanya.

Kerja keras Mama Evi pun tak berhenti di situ. Terkadang pada malam hari Mama masih pergi ke laut untuk memancing ikan. “Apa saja sa kerjakan. Alam beri banyak sekali hal yang dapat dimanfaatkan. Ikan yang biasa Mama tangkap ada ikan mera-mera atau ikan burapu. Mama jual 1 ekor besar Rp 50ribu sedangkan yang sedang Rp 30ribu,”  katanya.

Seperti Mama-Mama di Tanah Papua pada umumnya, mereka tidak bisa dipisahkan oleh tas tradisional khas Papua, yakni Noken. “Kadang juga Mama bikin Noken, tapi di sini Noken tidak terlalu laku. Jadi kadang hanya Mama buat jika ada pesanan,” katanya menyiratkan kegigihan hidup yang ia jalani.

Harapan Mama Evi kini hanya satu. “Jika saya jadi petani, saya ingin jadi petani sukses. Jika jadi nelayan, ya nelayan yang sukses. Jika jadi pedagang, tentu pedagang yang sukses. Kerja keras itu harus dilakukan agar mau sukses. Itu yang saya terapkan ke anak-anak Mama,” pungkas Mama Evi, sebuah potret optimisme penduduk Kaimana.

Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved