EcoStory

Peralatan Tangkap Ikan Tak Bertuan Ancaman Serius Ekosistem Laut

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Ilustrasi alat pancing tak bertuan yang membahayakan makhluk laut (gambar: oceana)

Beragam barang dapat ditemukan dalam tumpukan sampah, tak terkecuali sampah di laut. Dari jenis barang tersebut dapat diketahui asal sampah tersebut. Kebanyakan memang berasal dari daratan, berdasarkan temuan jenis sampah seperti kantong, botol hingga sedotan plastik.

Maka dari itu, tidak heran gerakan-gerakan yang diinisiasi oleh pihak yang berwenang hingga kelompok pecinta lingkungan adalah meminimalisir konsumsi plastik oleh manusia di daratan. Pasalnya, beberapa kali sampah plastik ini menghasilkan dampak buruk bagi ekosistem laut. Mulai dari penyu yang terperangkap oleh lingkaran plastik hingga sedotan yang tersumbat di hidung penyu.

Akan tetapi, ada satu aktivitas dari manusia di lautan yang turut menghasilkan sampah mematikan bagi makhluk yang hidup di air. Yaitu jaring atau peralatan menangkap ikan yang terabaikan.

Perlengkapan yang diabaikan itu kerap disebut dengan istilah Peralatan Tak Bertuan atau Ghost Gear. Asal dari peralatan ini beragam, mulai dari tidak sengaja hilang saat para nelayan bertugas di lautan, atau bahkan sengaja dibuang karena kondisinya yang sudah tidak layak pakai.

Ghost Gear jarang mendapat perhatian secara khusus dibandingkan jenis-jenis sampah plastik lainnya. Padahal, berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh Lembaga PBB Untuk Pangan dan Agrikultur (FAO), jumlah mereka mencapai 10% dari keseluruhan plastik yang masuk ke lautan tiap tahunnya. Itu berarti, secara hitungan kasar Ghost Gear menmyumbang 640.000 metriks ton sampah per tahun dan diperkirakan akan mencapai 800.000 metrik ton tahun ini.

Bahkan jumlahnya kemungkinan dapat mencapai lebih besar dari perhitungan tersebut. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh The Ocean Cleanup menunjukan 46% plastik yang mengambang di Perairan Pasifik Terdiri dari Ghost Gear ini.

Dampak dari setiap plastik yang berakhir di lautan berbeda-beda. Khusus untuk Ghost Gear, dampaknya tetap mematikan sebagaimana alat-alat ini dibuat, untuk menangkap dan membunuh ekosistem laut. Termasuk ikan, penyu, burung – burung di laut serta mamalia air seperti paus, lumba-lumba, anjing laut serta singa laut.

Sebuah jaring yang dibiarkan begitu saja akan menutup dan mencekik terumbu karang serta menghancurkan seluruh ekosistem yang ada.

Saat ini, dampak dari kerusakan yang ditimbulkan oleh Ghost Gear memang masih sulit untuk dihitung.

Ghost Gear menyebabkan hilangnya persediaan ikan yang berharga secara ekonomi. Ikan yang hilang akibat Ghost Gear adalah ikan yang tidak akan bisa berkembang biak, tidak bisa dijual atau dimakan. Hal ini sama seperti dampak dari penangkapan ikan secara ilegal dan berlebihan.

Di Laut Baltic, sebuah jaring insang yang hilang dapat menghancurkan seafood seharga USD$20 ribu. Di Britania Raya, hilangnya peralatan memancing menyebabkan sektor perikanan merugi rata-rata €420 ribu per tahunnya, berdasarkan dari hilangnya tangkapan ikan, penggantian peralatan dan waktu yang hilang akibat menyetel ulang peralatan tersebut.

Di sisi lain, Ghost Gear menimbulkan ancaman terhadap kehidupan ekosistem laut secara luas. Diperkirakan 136 ribu Paus, Lumba-lumba, Anjing Laut dan Singa Laut mati akibat Ghost Gear setiap tahunnya, kebanyakan dari mereka bahkan harus menderita lama sebelum mati.

Untuk mengetahui akar masalah dari Ghost Gear, yang perlu diketahui pertama kali adalah asal dari peralatan tersebut. Berdasarkan survei yang dilakukan pada nelayan Indonesia dan Australia yang dipublikasi dalam Marine Policy edisi Oktober, sekitar ⅘ peralatan yang hilang tersebut dapat disebabkan oleh cuaca yang buruk dan ⅕ sisanya tersangkut oleh peralatan yang dipasang oleh nelayan lain.

Selain itu, penyebab lainnya juga bisa dikarenakan praktik penangkapan ikan secara ilegal. Joanna Toole dari Organisasi Pangan dan Agrikultur PBB (FAO) menyatakan peralatan tersebut sengaja dibuang oleh Anak Buah Kapal demi menghindari deteksi yang dilakukan oleh pihak berwajib.

Penyebab lainnya, ketidak laikan fasilitas penampungan dan daur ulang di tiap pelabuhan menjadikan peralatan usang yang dibawa oleh nelayan tidak terakomodir.

Sebagai langkah pencegahan bertambahnya populasi Ghost Gear di lautan, FAO untuk pertama kalinya mengeluarkan panduang kepada Pemerintah di tiap negara untuk melabeli tiap peralatan tangkap ikan. “Dengan cara-cara yang dapat memberikan kita kemampuan untuk melacak peralatan tersebut hingga ke pabrikan asal,” ucap Toole.

Akan tetapi, panduan tersebut belum memaksa dan tiap negara yang mau menjalankannya hanya melakukannya dengan sukarela, dan PBB pun tidak memberikan secara spesifik bagaimana cara untuk melakukan pelabelan tersebut. Meskipun demikian, beberapa panduan sudah ada sehingga implementasi di tiap negara dapat berbeda-beda.

Sebagai contoh, Uni Eropa mewajibkan penandaan nama pelabuhan dan nomor kapal di tiap peralatan tangkap ikan. Sementara di Amerika, tiap wilayah memiliki peraturan berbeda-beda dan beberapa ada yang ketat dibandingkan yang lainnya.

Baru-baru ini, SINTEF Institute dari Norwegia mengembangkan sebuah alat untuk menandai peralatan tangkap ikan yang digunakan nelayan. Alat yang diberi nama PingMe tersebut dikembangkan sebagai respon atas pemandangan tidak sedap seekor penyu yang tertangkap jaring yang tidak bertuan.

Ilmuwan Tone Berg yang mengembangkan alat tersebut menerangkan PingMe harus ditempel di jaring yang masih digunakan, dan mereka akan memantulkan sinyal suara yang dipancarkan oleh sistem sonar kapal nelayan tersebut. Memanfaatkan perangkat elektronik yang tertanam, PingMe akan membedakan tiap sinyal yang mereka pantulkan sesuai dengan pengaturan yang dilakukan oleh tiap nelayan.

Apabila nelayan kehilangan jaringnya,maka mereka bisa melacaknya menggunakan layar sonar yang menampilkan pantulan sinyal dari PingMe. Sebagai tambahan, bahkan nelayan yang melintas pun dapat menangkap sinyal dari PingMe yang menempel di jaring yang hilang tersebut. Sehingga dapat diketahui identitas si pemilik yang bertanggungjawab terhadap jaring tersebut.

Apapun caranya, mencegah dibuang atau terbuangnya peralatan tangkap ikan menjadi salah satu cara untuk memastikan ekosistem laut tetap sehat.

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved