EcoStory

Menjaga Kearifan Lokal Lewat Kuliner

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Jungle Chef Charles Toto memperagakan masakan tradisional khas Tanah Papau yang bisa didapatkan bahannya di hutan. Tanpa keberlangsungan tutupan hutan, bahan makanan tradisional sulit di dapat dan berpotensi menghilangkan sejarah kuliner Tanah Papua.

Potensi kuliner di Indonesia sangat tinggi. Pasalnya, ada lebih dari 700 suku bangsa yang tersebar di Nusantara yang masing-masing memiliki kuliner khas secara sajian atau cara menyantapnya. Secara tidak langsung, ada budaya dan kearifan asli yang terkandung dalam setiap cita rasa di tiap daerah.

Menjadikan kuliner sebagai salah satu senjata dalam mengenalkan kebudayaan dan branding sebuah negara biasa dikenal sebagai Gastrodiplomacy, yang berasal dari kata gastronomi atau Upaboga dan Diplomasi.

Gastrodiplomacy menjadi tema dari diskusi rutin Lingkungan dan Masyarakat Papua (Lingkar Papua) yang dihelat Yayasan EcoNusa Indonesia. Bertempat di Ballroom Yayasan Tenaga Kerja Indonesia, Kamis (29/11/2018), Gastrodiplomacy diperkenalkan oleh Jungle Chef Charles Toto yang sudah melalang buana bahkan ke mancanegara memperkenalkan kuliner asli Papua.

“Jangan mau kita kalah dari Thailand. Gastrodiplomacy mereka bagus, orang sebut Tomyam pasti langsung terasosiasi dengan Thailand. Di kita, dengan 700 suku dan makanan masing-masing harusnya bisa lebih kaya lagi. Selama ini makanan rendang baru dikenal sebagai Padang, belum menjadi Indonesia,” terang dia di tengah demo memasak yang dilakukan sebagai bagian dari Diskusi Lingkar Papua.

Memanfaatkan kuliner sebagai salah satu daya tarik seharusnya menjadi senjata Indonesia, mengingat nusantara merupakan rumah dari beragam suku dan masing-masing suku memiliki jenis kuliner sendiri. Oleh karena itu, meningkatkan pengetahuan dan kecintaan pangan lokal menjadi kewajiban dari semua warga Indonesia.

“Mari kita belajar jati diri kita, sehingga orang tahu bagaimana cita rasa yang berasal dari daerah kita, perkenalkan bagaimana makanan tradisional kita lebih sehat dan lebih berbudaya daripada makanan luar yang masuk ke Indonesia,” ucap Charles.

Dirinya menyebut saat ini tengah melakukan food mapping di Tanah Papua untuk mengetahui wilayah mana yang sedang kehilangan sumber makanan aslinya. Setelah tahu pemetaan, tim dari Jungle Chef dikatakan dia melakukan advokasi pada masyarakat untuk menanam kembali sumber makanan asli mereka.

“Kalau memang sagu mulai bergeser, kita minta agar sagu ditanam, lalu tumbuh-tumbuhan yang jadi bahan masakan juga, kami edukasi masyarakat agar kembali kepada jati diri asli kami,” imbuh dia.

Dalam kesempatan tersebut, Charles secara khusus membuat masakan dari telur lilin, dengan daun gedi. Secara khusus dirinya membawa garam hitam yang merupakan produk asli dari masyarakat kombai dan korowai yang mengolahnya dari daun, karena wilayah suku tersebut yang jauh dari laut.

“Dan garam ini secara khusus dikurasi di Paris sebagai garam yang ramah bagi para penderita hipertensi. Jadi bisa dilihat bagaimana banyak sumber makanan yang sehat yang berasal dari alam kita,” tutup Charles.

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved