EcoStory

Menelisik Sejarah Cengkih Tua di Lereng Gamalama

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Foto aerial Cengih Afo III di Desa Tongale, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. (Yayasan EcoNusa/Moch. Fikri)

Bagaikan emas dan permata, harum dan kehangatan cengkih menjadi harta karun berharga di abad ke-15 hingga menjadi rebutan bangsa-bangsa Portugis, Spanyol, dan Belanda. Mereka rela berlayar mengarungi ombak besar, membelah laut dari Barat ke wilayah Timur hingga tiba di tanah Maluku Utara. Sejarah mencatat kedatangan bangsa Portugis di wilayah Maluku Utara, tepatnya ke Ternate, pada 1512. Tujuannya mencari dan menemukan pulau rempah-rempah. Pada masa itu, Sultan Bayanullah memberikan hak kepada Portugis untuk melakukan perdagangan rempah-rempah, termasuk sang primadona, cengkih.

Sampai sekarang, Maluku Utara termasuk Ternate masih menjadi daerah penghasil rempah-rempah, terutama cengkeh. Padahal pada masa perusahaan dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), berkuasa di pulau ini di abad ke-17 hingga ke-19, pohon-pohon cengkih pernah dimusnahkan melalui kebijakan extirpatie. Dengan kebijakan ini seluruh pohon cengkih dan pala ditebang. Warga pribumi pada masa itu tidak diperbolehkan menanam dan atau memelihara pohon-pohon rempah dengan tujuan agar menjaga monopoli perdagangan rempah dunia.

Itu semua saya dapatkan dari pelajaran sejarah. Namun jujur, saya belum pernah melihat sendiri bagaimana bentuk pohon cengkeh, salah satu hasil bumi yang amat berharga di masa itu. Ekspedisi Maluku EcoNusa membawa saya menapakkan kaki di Pulau Ternate, pulau yang memiliki catatan sejarah penting tentang perdagangan rempah dunia. Bersama tim EcoNusa, kami melihat saksi bisu dari dinamika perdagangan rempah di Maluku Utara dan dunia, Cengkih Afo.

Terletak di Desa Tongale, pohon Cengkih Afo berusia sekitar 200 tahun masih berdiri dengan kokohnya. Ini merupakan pohon cengkeh tertua yang ada di tanah Maluku Utara, atau mungkin di dunia. Sebenarnya, ada tiga pohon Cengkih Afo, yang berusia 500 tahun (Cengkih Afo 1), 250 tahun (Cengkih Afo 2), dan 200 tahun (Cengkih Afo 3). Sayangnya Cengkih Afo 1 sudah tumbang di tahun 2001 silam, dan Cengkih Afo 2 tumbang di 2019. Kini hanya tersisa Cengkih Afo 3 yang masih berdiri kokoh dan memproduksi bunga cengkeh setiap tahunnya, meskipun tidak banyak.

Konon pada zaman penjajahan dulu, pohon ini sengaja ditanam di dalam rimbunnya hutan di lereng Gunung Gamalama. Tersembunyi di balik pepohonan tinggi besar yang dikenal dengan nama pohon Afo. Oleh karena itu, sekarang masyarakat mengenal pohon cengkeh tertua ini dengan nama Cengkih Afo.

Belakangan diketahui bahwa Cengkih Afo merupakan varietas cengkeh dengan kualitas tertinggi, hingga bibitnya menjadi bibit induk dari pohon-pohon cengkeh yang tersebar di daratan Maluku Utara, bahkan seluruh nusantara.

“Cengkeh terbanyak di dunia, di Zanzibar juga (bibitnya) berasal dari Cengkih Afo ini. Cengkeh Afo itu disebarkan di seluruh Maluku Utara, bahkan di Banda, di Maluku itu semua berasal dari Cengkih Afo ini. Bahkan di seluruh Indonesia,” cerita Jauhar Mahmud, Ketua Komunitas Cengkih Afo and Gamalama Spices sambil menunjuk ke pohon Cengkih Afo yang masih berdiri kokoh.

Jauhar juga menjelaskan bahwa bunga dari Cengkih Afo memiliki kualitas tertinggi, karena memiliki struktur yang padat, kadar air yang rendah, daya susut cenderung rendah. Rasanya relatif lebih pedas bila dibandingkan dengan bunga cengkeh jenis lainnya. Itu sebabnya harga Cengkih Afo menduduki peringkat tertinggi di antara jenis-jenis cengkeh pesaingnya.

Saat ini kawasan di sekitar Cengkih Afo dikelola oleh warga desa di bawah naungan Komunitas Cengkih Afo and Gamalama Spices. Wilayah ini dibangun menjadi wilayah ekowisata sejarah berbasis masyarakat dengan mengusung konsep yang ramah lingkungan. Komunitas Cengkih Afo and Gamalama Spices juga tidak memperbolehkan penggunaan plastik sekali pakai di kawasan wisata sejarah Cengkih Afo ini. Tujuannya agar tetap menjaga kelestarian ekosistem di area wisata dari pencemaran sampah plastik.

“Sejak awal dibangunnya wisata Cengkih Afo, tahun 2017 kita tidak membolehkan plastik. Semua dari bambu, sampai alat makan juga dari bambu. Dulu awalnya rasanya malu, karena ada orang dari luar dikasih makan, alat makannya dari bambu. Tapi ternyata orang suka,” cerita Nurma, salah satu anggota Komunitas Cengkih Afo.

Komunitas Cengkih Afo juga mengajak kelompok tani setempat untuk bertani di kawasan wisata Cengkih Afo dengan sistem tumpangsari. Hal ini bertujuan agar manfaat dan keberkahan yang didapatkan dari wisata Cengkih Afo dapat dirasakan oleh berbagai pihak.

“Kita tidak bisa diam, kita harus menjaga Cengkih Afo ini. Untuk itu kita mengundang orang agar suka dengan alam rempah-rempah dan tidak melupakan sejarah. Saya tidak menawarkan view, tapi saya menawarkan alam dan cerita rempah-rempah,” tutup Jauhar.

Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved