EcoStory

Memulihkan Hutan dan Kutukan Sisifus

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Foto aerial hutan di Kampung Edor, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat (Yayasan EcoNusa/Moch. Fikri)

Entah disadari atau tidak, hampir setiap aktivitas yang kita lakukan terhubung dengan hutan. Tak peduli seberapa jauh tempat tinggal kita dari kawasan hutan dan gaya hidup yang kita pilih. Air yang kita minum tiap hari pun ada kaitannya dengan hutan. Tanpa hutan, tak ada mata air segar untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

Ada banyak sisi kehidupan berasal dari hutan. Termasuk udara segar yang kita hirup. Hutan juga berperan penting menangkap polutan di udara. Selain itu, kertas, obat-obatan, makanan, adalah sebagian kecil manfaat hutan yang kita peroleh dari kawasan yang menutupi sepertiga daratan di Bumi. 

Namun, perubahan kawasan hutan telah menimbulkan bencana ekologis. Tak ada pohon yang menyerap dan menahan air. Akibatnya terjadi tanah longsor dan banjir besar seperti yang baru saja terjadi di Kalimantan Selatan. Curah hujan ekstrem yang tak dapat diserap tanah menenggelamkan lebih dari 10.000 rumah di 11 kabupaten/kota.

Deforestasi

Dalam lingkup yang lebih luas, perubahan fungsi kawasan hutan atau deforestasi mendorong pemanasan global terjadi lebih cepat. Deforestasi membuat karbon dioksida yang tersimpan di tanah dan pohon menguap ke atmosfer. Perubahan iklim, kenaikan air laut, potensi munculnya penyakit baru akibat zoonosis adalah bom waktu yang telah berdetak. Sejumlah peneliti mengkhawatirkan virus kuno aktif kembali setelah es di kutub utara mencair.

Kesadaran pentingnya keberadaan hutan oleh dunia setidaknya tercatat dalam perayaan Hari Hutan se-Dunia setiap 21 Maret. Penetapannya dilakukannya oleh Majelis Umum Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) berdasarkan resolusi A/RES/67/200 yang terbit pada 2012. Sementara itu di Indonesia, organisasi masyarakat sipil mengusulkan 7 Agustus sebagai Hari Hutan Indonesia.

Meski demikian, tak serta merta hutan bebas dari ancaman. Deforestasi terus terjadi setiap tahunnya dengan besaran yang berbeda. Indonesia masuk dalam 10 negara terbesar yang kehilangan hutan hujan tropis pada 2018, yakni seluas 339.888 hektare. Deforestasi tersebut disebabkan oleh pembukaan permukiman, ekspansi lahan perkebunan sawit, dan kebakaran hutan.

Angka deforestasi tertinggi di Indonesia terjadi pada rentang waktu 1996-2000 dengan luasan 3,51 juta hektare. Deforestasi tertinggi kedua, 1,09 juta hektare, terjadi pada periode 2014-2015. Provinsi Riau di Pulau Sumatra dan Provinsi Kalimantan Barat di Pulau Kalimantan adalah dua provinsi teratas yang telah mengalami deforestasi sepanjang 2001 hingga 2019. Sekitar 3,8 juta hektare di Riau dan 3,5 juta hektare hutan di Kalimantan Barat hilang. Tingkat deforestasi berikutnya berturut-turut terjadi di Provinsi Kalimantan Tengah sebesar 3,4 juta hektare, Kalimantan Timur 3,3 juta hektare, dan Sumatra Selatan 2,8 juta hektare.

Saat ini hutan terluas berada di Tanah Papua, karena  40 persen hutan primer yang tersisa di Indonesia berada di Provinsi Papua Barat dan Papua. Keanekaragaman hayati tertinggi di Indonesia dengan 602 jenis burung, 125 jenis mamalia, dan 223 jenis reptil berada di Tanah Papua. 

Dengan demikian, tak mengherankan bila Tanah Papua disebut sebagai benteng terakhir hutan Indonesia. Rasanya tak berlebihan juga bila penyanyi Franky Sahilatua menyebutnya dengan “… surga kecil jatuh ke bumi…”

Surga yang diperjuangkan

Seperti layaknya surga yang diimajinasikan dalam berbagai agama, hutan di Tanah Papua pun diibaratkan seperti surga. Selain sebagai rumah bagi ribuan spesies, “surga” itu juga menjadi rumah bagi masyarakat yang hidup dan bersimbiosis mutualisme dengan hutan. Mereka menyebut hutan sebagai ‘mama’ karena hutan memberi mereka penghidupan.

Rencana Kehutanan Nasional (RKN) 2011-2030 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menyebutkan 118.963 keluarga masyarakat adat di Tanah Papua berkategori pemungut hasil hutan dan 137.672 keluarga masuk kategori usaha bidang kehutanan. Dari data itu dapat terbayang berapa banyak keluarga yang kehilangan penghidupan bahkan budaya bila hutan dialihfungsikan. 

Selama 2021, Yayasan EcoNusa akan berfokus mengembangkan potensi kampung di Tanah Papua dan Kepulauan Maluku. Berbagai inisiatif yang dibuat oleh masyarakat di tingkat tapak akan dikembangkan agar tercipta kemandirian pengelolaan sumber daya alam serta ketahanan pangan.

Meski pandemi COVID-19 masih menyelimuti Indonesia, CEO Yayasan EcoNusa Bustar Maitar menegaskan EcoNusa berusaha tetap relevan bagi masyarakat adat di Tanah Papua. Sebab, menurutnya hal itu merupakan mandat masyarakat yang harus dijalankan EcoNusa.

Namun, setiap jerih payah yang dilakukan untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem memerlukan komitmen kuat, perjuangan, ketahanan dan kesabaran. Menumbuhkan kembali hutan yang telah gundul misalnya, dibutuhkan waktu puluhan tahun untuk mencapai kerapatan yang ideal. Dalam rentang waktu tersebut, bukan tak mungkin pepohonan akan kembali ditebang untuk memenuhi permintaan pasar dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. 

Di tengah maraknya deforestasi, memperjuangkan keseimbangan ekosistem dan keadilan pengelolaan sumber daya alam memerlukan upaya keras seperti kisah Sisifus dalam mitologi Yunani. Sisifus dihukum mendorong batu ke puncak gunung dan batu tersebut kembali jatuh ke dasar. Ia terus mengerjakan pekerjaan “sia-sia” itu sepanjang hidupnya. Namun, saat ini, agar bumi tetap layak ditempati, pekerjaan tersebut layak diperjuangkan agar tidak “sia-sia” seperti Sisifus.

Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved