EcoStory

Pentingnya Menjaga Keragaman Flora Khas Papua

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Buah Woton (Sterculia shillinglawii), salah satu buah dari hutan Papua (gambar: flickr)

Tanah Papua menyimpan beragam flora khas dan endemik. Sekiranya ada 20.000 spesies tanaman yang berasal dari hutan Papua, dan memiliki manfaat gizi yang terkandung didalamnya. Dikutip pada laman sains.kompas.com, Krisma Lekitoo peneliti dari Balai Penelitian Kehutanan Manokwari, dalam bukunya yang berjudul “Pemanfaatan Enam Jenis Tumbuhan Hutan Penghasil Buah sebagai Sumber Bahan Pangan di Tanah Papua”, menerangkan bahwa terdapat enam jenis buah lokal dari penjuru tanah Papua.

Sebagian besar buah tersebut didapat dari hutan, yang belum dibudidaya. Adapun keenam jenis buah tersebut antara lain buah taer (Anisoptera thurifera), waribo/kelapa hutan (Borassus heineanus), piarawi/buah hitam (Haplolobus monticola), gayang (Inocarpus fagifer), selre/anggur papua (Sararanga sinuosa), dan woton (Sterculia shillinglawii), Enam jenis buah lokal ini memiliki potensi gizi yang tinggi, tak kalah dengan buah matoa (Pometia pinnata) dan buah merah (Pandanus conoideus) kebanggaan Tanah Papua.

Buah-buahan asli Papua ini sebagian besar dari hutan alam. Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Papua Barat, sekaligus pengajar di Universitas Negeri Papua, Charlie D Heatubun, surga terakhir keanekaragaman hayati dunia itu kini terdesak pembangunan wilayah. ”Belum ada perhatian pemerintah daerah mengonservasi buah-buahan lokal di alam Papua,” ungkapnya dikutip dalam sains.kompas.com.

Selain buah-buahan khas tersebut, terdapat banyak jenis tanaman obat di Tanah Papua. Jenis tanaman obat tersebut pun dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk mengobati penyakit. Dalam Buku Tumbuhan Kerarifan Lokal Papua (Papua traditional medicine herbs) (2017), sekiranya ada 52 jenis tumbuhan obat yang diklasifikasi berdasarkan kearifan lokal masyarakat Papua.

Seperti tanaman Cassia alata L. sin. atau dalam penamaan lokal daun kaskado, dimana spesies ini menyebar luas di wilayah dataran rendah Papua. Tanaman ini mengandung aktivitas farmakologi, yang baik itu menyembuhkan penyakit kulit, seperti Chysophanic acid, isochrysophanol, physcion, emodin, oleic acid, dan lain-lain.

Oleh masyarakat Papua tamanan ini digunakan untuk membasmi penyakit kulit terutama yang disebabkan oleh kutu atau jamur. Cara menggunakan tamanan ini sebagai tanaman obat ialah dengan memanfaatkan daunnya, yaitu diremas sampai lunak dan berair, kemudian ditempelkan pada kulit yang terinfeksi atau pada luka baru.

Selain itu, tanaman obat juga bisa digunakan sebagai tanaman obat tradisional. Dikutip dari situs resmi Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua, dinkespapua.com, Sejumlah tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai obat harus ditanam di taman obat keluarga. Tanaman itu perlu ditanam di pekarangan rumah, selain dipakai untuk kebutuhan sehari-sehari, juga bisa dimanfaatkan sebagai obat ketika sakit.

Dalam situs tersebut, dijelaskan bahwa Dinkes Provinsi Papua meminta seluruh puskesmas di kabupaten/kota di Provinsi Papua meningkatkan budi daya tanaman obat keluarga (toga) di pekarangan rumah. Selain mampu mengobati penyakit, tanaman obat dapat menambah gizi masyarakat Papua.

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved