EcoStory

Mangrove, Kekayaan atau Kerusakan Ekologi Tak Ternilai?

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Degradasi ekosistem mangrove di Indonesia berada dalam taraf yang mengkhawatirkan. Menurut laman kabar hutan CIFOR, dalam tiga dekade terakhir lebih dari 40 persen hutan mangrove hilang di Indonesia. Artinya, kerusakan mangrove di Indonesia termasuk tercepat di dunia.

Ironisnya, Indonesia dikenal sebagai negara dengan lahan mangrove terbesar di dunia. Total luas kawasan mangrove di Indonesia sebesar 3 juta hektare, atau sekitar 23 persen dari total ekosistem mangrove dunia.

Hilangnya hutan mangrove menyumbang 42 persen emisi gas rumah kaca akibat rusaknya ekosistem pesisir, termasuk rawa, mangrove, dan rumput laut. Deforestasi hutan mangrove di Indonesia menyebabkan hilangnya 190 juta metrik CO2 setara setiap tahun. 

Baca juga: Sampah, Perhatian Utama Kewang Muda Maluku

Kepala Seksi Pencemaran Lingkungan Hidup Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Selatan, Surono Parabang, menyayangkan hal tersebut. Menurutnya seharusnya pemerintah dan masyarakat saling berpartisipasi aktif dalam menjaga hutan mangrove.

“Salah satu permasalahan adalah rusaknya hutan mangrove di pesisir yang cukup tinggi. Padahal laut ataupun wilayah pesisir merupakan sumber daya milik bersama yang bersifat terbuka. Jadi, semua orang punya akses ke sana, di mana, dan kapan saja bisa mengeksploitasi,” ucap Surono dalam diskusi virtual bertajuk “Selamatkan Mangrove Terakhir Kota Makassar” pada Kamis (23/2/21).

Padahal hutan mangrove memiliki banyak manfaat bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, seperti mencegah intrusi dan abrasi pantai, menjadi tempat hidup dan juga sumber makan bagi makhluk hidup lainnya. Mangrove juga berperan sebagai pencegah dan penyaringan alami limbah yang berasal dari laut, serta mempercepat penguraian limbah organik yang terbawa ke pantai.

Baca juga: Menyerap Spirit Kewang untuk Maluku Berkelanjutan 

Dilansir dari National Geographic Indonesia, dalam luasan yang setara dengan hutan tropis, hutan mangrove juga mampu menyimpan karbon 3-5 kali lebih banyak daripada hutan tropis dataran tinggi. Sebagai gambaran, hutan mangrove seluas satu hektar mampu menyerap 1.000 ton karbon per hektar. Hal tersebut dapat sangat membantu dalam memerangi perubahan iklim dan pemanasan global yang kian meningkat.

Akademisi Universitas Hasanuddin, Rijal Idrus, mengatakan bahwa setiap satu batang mangrove yang ditebang akan menyebabkan pengurangan layanan ekologisnya. Salah satu contoh hutan mangrove yang telah banyak berkurang berada di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, yang telah kehilangan lebih dari 75 persen hutan mangrove. Awalnya pada 1980 luas hutan mangrove di Makassar mencapai 4.800 hektare, namun pada tahun 2018 hanya tersisa 231 hektare.

“Kebanyakan hutan mangrove ditebang dan diubah menjadi area tambak udang. Padahal dari hasil penelitian yang ada, bahwa mangrove yang ekosistemnya tidak diganggu atau ditebang manfaat ekologisnya jauh lebih besar daripada tambak udang. Hal tersebut bukan hanya mempengaruhi penghasilan yang didapat jauh lebih rendah, namun juga punya kerugian dalam hal pencemaran lingkungan dan juga pasokan dalam menyerap emisi karbon,” ucap Rijal.

Baca juga: Melindungi Hutan, Menyelamatkan Manusia

Menurut Rijal, pengrusakan kawasan mangrove akan memicu kerusakan sumber daya alam lainnya di kawasan daratan. Sebab, sumber daya alam saling terkait satu sama lain.  “Misalnya hubungan antara mangrove dengan terumbu karang yang indah. Kalau mangrove di pantai hilang,  maka terumbu karang lama kelamaan juga akan mati. Hal tersebut terjadi karena mangrove bekerja menjebak sedimentasi. Sehingga kalau tidak ada mangrove, maka sedimentasi akan lepas ke laut dan menyebabkan terumbu karang ikut mati,” ucap Rijal.

Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved